
"Kejutan ... aku bawa bekal buat makan siang," ucap Calista riang.
Tio dan Tari memandangi Calista kaget. Calista juga baru menyadari ada Tari, istrinya Tio. Calista menjadi terdiam dan berdiri terpaku. Kakinya terasa berat untuk menopang tubuhnya.
"Sayang, sinilah. Apa yang kamu bawa?" tanya Tio memecahkan kecanggungan.
"Aku masak ikan bakar buat makan siang, Om," lirih Calista.
Calista berjalan mendekati Tio. Tari yang duduk dihadapan Tio langsung berdiri melihat Calista yang mendekati Tio.
"Dasar ja*la*ng, pe*la*cur, beraninya kamu datang ke kantor suamiku!" teriak Tari.
"Tari, jaga ucapanmu!" ucap Tio dengan suara lantang.
"Maaf, Tante. Aku hanya ingin mengantar makan siang buat suamiku," ucap Calista pelan.
Mendengar perkataan Calista, Tari makin kesal. Diambilnya rantang berisi makanan yang Calista bawa, dan dicampakkan ke lantai, hingga isinya bertaburan. Calista kaget dan hanya bisa menatap lauk yang tadi dimasaknya telah jatuh di lantai.
"Apa-apaan kamu,Tari! ucap Tio dengan suara tinggi.
"Kenapa kamu bertanya denganku? Seharusnya aku yang bertanya dengan bocah ingusan ini. Apa maksud perkataannya tadi?" tanya Tari.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku, Tante? Om Tio juga suamiku. Apa aku salah membawa makanan untuknya?"
"Tentu saja salah. Apa kamu lupa jika akulah istri sah Tio. Kamu itu hanya dinikahkan secara siri, jangan bangga jadi Pelakor."
"Kenapa Tante baru menyadari jika Tante istrinya Om Tio. Kemana aja selama ini?" tanya Calista.
"Jangan sok tau kamu. Bersenang-senanglah sebelum azab menghampirimu.Sadarlah, semua impian dan janji manis itu semua. Segala yang dia tawarkan kepadamu juga pernah diberikan padaku dulu," ucap Tari emosi.
"Memang enak jadi perebut, nggak butuh ijazah. Cuma modal senyum, sapa, salam, tempel, jerat saja bakalan langsung keterima.Sekolah yang bener biar bisa jadi orang berguna, bukan jadi orang ketiga.Jika suatu hari nanti dia direbut oleh perempuan lainnya, kamu akan tahu perasaanku sekarang. Jika dulu budak memiliki kasta terendah, tentunya saat ini perebut laki orang lebih pantas menggantikan posisi itu," teriak Tari.
"Tari, jangan sampai aku berbuat kasar. Kamu seharusnya introspeksi diri, kenapa aku sampai berpaling. Satu lagi yang perlu kau ingat. Aku yang menginginkan Calista, aku yang memintanya jadi istriku."
__ADS_1
"Karena dia mengobral tubuhnya untukmu," teriak Tari. Tangan Tio tanpa sadar melayang ke pipi Tari.
Tari memegang pipinya yang memerah bekas tamparan dari Tio. Matanya menyala memandangi Calista menahan amarahnya.
"Dunia ini tidak sempit,masih banyak orang lain yang lebih berhak mendapatkanmu. Kenapa kau memilih orang yang sudah punya pendamping hidup? Pasti alasannya karena uang. Apa lagi yang kau inginkan selain itu?"
"Maaf, Tante. Aku mencintai Om Tio. Aku tau semua ini salah karena Tante masih sah sebagai istrinya. Namun, apakah Tante pernah berpikir kenapa Om Tio lebih memilih aku saat ini,.padahal aku nggak pernah meminta untuk dipilih. Jika Tante emang mencintai Om Tio, kenapa selama ini Tante nggak berusaha mempertahankan Om Tio dengan menjadi istri yang seperti Om Tio inginkan."
"Sekali lagi aku tanya, kamu tau apa dengan rumah tanggaku? Semuanya baik-baik aja sebelum kamu masuk kekehidupan Tio, merayunya dengan tubuhmu!"
"Aku nggak pernah merayu Om Tio dengan tubuhku. Aku berhubungan dengan Om Tio setelah menikah. Tante jangan hanya menyalahkan aku, apakah Tante sebagai istri telah benar? Telah melakukan kewajiban sebagai istri?" tanya Calista.
Perkataan Calista membuat Tari makin emosi. Wanita maju mendekati Calista dan menarik rambut panjangnya hingga Calista tertunduk menahan sakit karena tarikan yang kuat dari Tari.
Melihat itu, Tio tidak tinggal diam. Dia mencoba melepaskan tangan Tari dari rambut Calista. Namun wanita itu makin mempererat tarikannya.
"Rasakan pe*la*cur. Dasar murahan. Kamu pikir dapat mengambil Tio begitu saja. Kamu sengaja menjual tubuhmu demi uang," ucap Tari dengan berteriak.
"Sakit, Tante. Aku mohon lepaskan!" ujar Calista.
Melihat tarikan Tari yang makin kuat. Tio yang telah mencoba sekali lagi melepaskan tangan Tari dari rambut Calista,tidak juga berhasil. Akhirnya melayangkan tamparan ke wajah Tari.
Tari akhirnya melepaskan tarikannya di rambut Calista dan memegang pipinya yang panas bekas tamparan Tio.
"Kau menamparku lagi? Hari ini aja kau menamparku dua kali karena membela wanita murahan ini."
Tio memeluk Calista yang menangis karena merasakan kepalanya yang sakit.
"Kau pantas mendapatkan itu. Aku sudah peringatkan kau, jangan pernah menyentuh Calista jika nggak ingin berhadapan denganku!"
"Aku akan melaporkan kau dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga!"
"Silakan, aku menunggu laporanmu. Biar tambah bukti untuk kita bercerai."
__ADS_1
"Kau tidak pernah sekasar ini dulu. Kau benar-benar telah berubah sejak mengenal bocah ini. Aku ucapkan selamat untukmu, Calista. Kau telah menghancurkan rumah tanggaku dan merubah seorang papa yang dulu menyayangi anak dan istrinya menjadi pria pecundang yang hanya mampu menyakiti istrinya!"
"Jangan menangis. Aku tau air matamu itu palsu. Kau hanya ingin menarik simpatinya. Namun, ingat Calista karma itu akan berjalan perlahan menghampirimu. Jika aku aja bisa ditinggalkan Tio setelah menikah 24 tahun lamanya, tidak menutup kemungkinan dia akan meninggalkan kamu juga setelah mendapatkan wanita lain yang lebih bisa merayunya," ucap Tari lagi.
"Keluarlah Tari! Jangan pernah datang lagi. Aku nggak mau melihat kau menyakiti Calista lagi. Aku pastikan jika kau berani menyentuhnya, kau nggak akan dapat apa-apa dariku!"
"Bela saja pe*la*curmu itu. Aku doakan dia akan meninggalkan kamu setelah mengenal pria yang lebih tajir darimu. Aku doakan kau akan merasakan sakit yang lebih dari aku rasakan!"
Setelah mengucapkan itu Tari pergi meninggalkan ruangan Tio. Sekretaris Tio yang duduk di luar ruangan itu tersenyum dengan Tari.
"Kau kenal siapa wanita yang barusan datang?" tanya Tari dengan sekretaris Tio.
"Aku taunya Calista itu pacarnya Elvan, Bu."
"Dia bukan pacar Elvan. Dia itu pe*la*cur yang menjual tubuhnya untuk Tio. Dia itu pelakor. Jika kamu melihatnya, hati-hati. Suamimu bisa saja direbutnya juga."
Tari kembali berjalan setelah mengatakan itu pada sekretaris Tio. Baru saja sekretaris itu duduk, Tio memanggilnya. Wanita itu masuk ke ruangan Tio.
"Wulan, minta OB membersihkan ruangan ini. Lalu bawakan obat kompres kasini. Pesankan makanan yang biasa buat dua orang."
"Baik, Pak."
"Obat kompres cepat kau bawa ke sini!"
"Baik, Pak," ucap Wulan.
Wulan memperhatikan Calista yang berada dalam pelukan Tio.
Apa benar Calista itu telah menjadi pelakor dalam rumah tangga Bu Tari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung
__ADS_1