
Calista akhirnya tertidur kembali dalam pelukan Tio. Suaminya itu rela menahan rasa kantuknya untuk menjaga Calista.
Setelah Calista sembuh, Tio akan mengajak istrinya itu untuk ke kampungnya. Tio ingin bertemu lagi dengan tante Calista itu. Apa benar itu wanita yang sama yang Tio berikan santunan. Jika memang sama, berarti uang yang Tio berikan dihabiskan wanita itu.
Calista mengatakan, setelah ayah dan ibunya meninggal, tantenya membawa Calista pulang kampung. Tantenya memang tinggal di kampung selama ini. Dia datang hanya untuk melayat ayah dan ibunya meninggal.
Namun, karena Calista hanya seorang diri, tantenya membawa Calista ikut ke kampung.
Saat Calista tidur, Tio meminta bawahannya membelikan sup ikan kesukaan istrinya itu. Tio mandi dan mengganti pakaiannya di kamar mandi rumah sakit.
Saat keluar dari kamar mandi, Tio melihat Calista yang telah duduk bersandar di kepala ranjang.
"Sudah bangun, Sayang," ucap Tio, mengecup pipi Calista.
"Aku lapar, Daddy," ujar Calista pelan.
Tio tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Dia senang Calista sudah mau minta makan. Dari kemarin Calista belum makan.
"Tadi aku minta belikan dengan Andi sup ikan kesukaan kamu. Aku suapin ya makannya."
"Aku mau gosok gigi dan cuci muka dulu, Dad."
"Biar aku ambilkan air. Kamu di ranjang aja. Sore aja nanti kalau mau mandi. Kalau udah yakin badannya udah enak."
Tio berjalan menuju kamar mandi. Mengambil air dengan baskom dan membantu Calista menggosok gigi dan membasuh wajahnya.
Setelah itu, Tio mengambil nasi dan duduk ditepi ranjang, menyuapi Calista.
"Daddy ...," ucap Calista lirih.
__ADS_1
"Ya, Sayang."
"Kenapa Daddy baik banget? Aku jadi nggak bisa marah dan benci. Aku pengin marah, tapi nggak bisa," gumam Calista, namun masih dapat didengar Tio.
Tio tersenyum tanpa menjawab ucapan Calista dan terus menyuap gadis itu. Calista yang merasa diacuhkan,menjadi cemberut.
"Kenapa Daddy diam aja. Nggak jawab pertanyaan aku? Daddy sebenarnya cinta apa nggak, sih?"
"Apa aku harus mengatakan cinta setiap detik baru kamu percaya jika aku mencintai kamu? Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudra, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika."
"Kenapa Daddy mencintai aku?" tanya Calista.
Kembali Tio tersenyum, ini bukan pertama kali Calista menanyakan ini. Sudah sering Tio jawab.
"Cinta tidak butuh alasan, tetapi bagiku, selalu saja ada alasan untuk terus mencintaimu. Seseorang yang mencintaimu takkan kehabisan alasan untuk mempertahankanmu dan takkan mencari alasan untuk melepaskanmu."
Tio meletakan piring dan duduk di samping Calista. Tio memeluk bahu istrinya itu.
"Jangan pernah tanyakan apakah cintaku ini tulus kepadamu, sebab kamu bisa merasakannya sendiri dari apa yang telah aku lakukan untuk selalu menjagamu."
"Daddy, aku takut apa yang tante Tari katakan itu akan terjadi. Jika suatu saat Daddy juga akan meninggalkan aku seperti meninggalkan tante Tari. Karma itu akan datang, karena aku telah merebut Daddy dari tante Tari."
"Karma itu tidak ada dalam agama kita. Jika kebetulan kita mengalami hal yang jelek dalam hidup, itu semua takdir bukan karma."
Tio membawa Calista ke dalam dekapan dadanya. Dielusnya perut Calista yang masih rata.
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat bayi kita lahir. Jika perempuan pasti secantik mommy-nya."
"Jika cowok setampan Daddy?" tanya Calista.
__ADS_1
"Tentu saja. Apakah kamu mau membantah aku jelek. Sudah usia matang begini aja aku masih bisa memikat gadis belia. Apa lagi waktu muda. Pasti ketampanan aku tidak diragukan." Calista mencubit lengan Tio mendengar ucapan pria itu yang menyindir dirinya.
"Pantas tante Tari yang cantik bisa Daddy dapatkan."
"Itu kesalahan masa lalu."
"Daddy dulu juga sangat mencintai tante Tari."
"Sudah, jangan bicarakan wanita lain. Apa kamu mau aku memikirkan wanita selain kamu?"
"Nggak mau. Aku mau Daddy itu milik aku seutuhnya. Walau aku salah telah merebut Daddy. Seperti yang pernah Daddy katakan, terkadang cinta membuat kita egois. Itu yang aku rasakan saat ini. Aku mau Daddy seutuhnya menjadi milikku."
"Jangan takut, saat ini aku telah menjadi milik kamu seutuhnya. Aku telah resmi bercerai dengan Tari. Seminggu lagi aku akan mengumumkan dan mengenalkan kamu sebagai istri sah aku. Pernikahan kita telah aku daftarkan di KUA. Aku ingin seluruh dunia tau kalau kamu milikku."
"Daddy gombal banget."
"Kamu jatuh cinta karena gombalan aku'kan?"
"Daddy, narsis banget."
Tio memeluk erat tubuh istrinya itu, dan mengecup seluruh bagian di wajah Calista berulang kali. Sayangnya Tio pada Calista sudah tidak diragukan.
...****************...
Bersambung
__ADS_1