
Flashback.
Setelah satu minggu acara syukuran kehamilan Calista, Tio mengajaknya pulang ke kampung tempat ayah dan ibunya lahir.
Di sana juga tempat Tante Calista tinggal dan membesarkan dirinya hingga remaja.
Tio dan Calista pergi dengan menggunakan mobil. Tio sengaja memakai supir karena tidak sanggup menyetir perjalanan jauh.
Delapan jam perjalanan, akhirnya Calista sampai di rumah Tante-nya. Tempat dia tinggal sejak ayah dan bundanya tiada.
Rumah Tante Calista cukup mewah jika dibandingkan rumah penduduk sekitarnya. Calista ingat rumah itu direnovasi saat dia baru tinggal di sini.
Ya Tuhan jangan-jangan benar uang yang Tio beri digunakan untuk renovasi rumah ini.
"Mari, Daddy. Ini rumah tante aku."
Tio mengamati rumah itu. Bukannya menjawab perkataan Calista.
Untuk ukuran seorang buruh Tani, rumah ini tergolong mewah. Bukankah dulu wanita itu mengatakan jika suaminya hanya buruh Tani.
"Apa pekerjaan Tante atau Om kamu?"
"Dulunya hanya buruh tani. Karena ada rezeki, Tante dan Om membeli dua petak sawah. Jadi saat ini mereka bisa menggarap sawah milik sendiri."
"Tapi kamu tetap harus bekerja mencari uang jajan sendiri."
"Mereka udah memberi aku makan dan tempat tinggal, itu juga sudah lebih dari cukup. Jika Tante tidak mau menjaga aku, pasti aku sudah jadi gelandangan."
"Namun masih keterlaluan mereka. Anak sekecil kamu dulu, udah diminta mencari jajan sendiri."
"Daddy, bukankah Daddy janji tidak akan menuntut Tante jika benar uang santunan yang Daddy beri disalah gunakam mereka."
"Namun aku nggak bisa membayangkan saat kamu masih kecil dan harus mencari uang buat jajan."
"Daddy, aku malah berterima kasih pada Tante, karena itu aku saat ini menjadi wanita kuat. Apa kita akan tetap di dalam mobil saja?" tanya Calista.
"Iya, Sayang. Aku udah nggak sabar bertemu tante kamu itu."
__ADS_1
Calista dan Tio keluar dari dalam mobil. Baru beberapa langkah, Calista melihat Tante-nya keluar dari dalam rumah. Tante Calista memandangi dirinya dengan wajah kaget dan marah.
"Ingat juga kamu pulang," ucap Tante Calista. Wanita itu memandangi Tio lama. Dia juga memperhatikan mobil mewah yang ditumpangi Calista.
"Siapa pria yang bersama kamu ini. Tante rasa pernah bertemu," ujar Tante Calista dengan masih terus memandangi Tio.
"Tante, kenalkan ini Tio, suami aku."
Tante Calista memandangi Calista dan memegang perutnya.
"Baru aku sadar. Kamu telah hamil. Itu penyebabnya kamu menikah segera menikah, dan usia suami kamu ini pastilah jauh bedanya dari kamu."
"Selamat sore,Bu. Apa kami boleh masuk ke rumah dulu? Aku rasa lebih enak bicara di dalam. Jika kita mengobrol sambil berdiri begini, tidak enak jika di lihat tetangga," ucap Tio.
"Silakan masuk!" ucap Tante Calista ketus.
Setelah di dalam rumah, Tio dan Calista duduk di sofa ruang tamu, diikuti Tante nya.
"Daddy mau minum apa? Biar aku buatkan," ucap Calista.
"Kamu duduk aja. Kamu pasti masih capek. Kita saat ini tamu. Masa tamu yang buatkan air minum," sindir Tio.
"Biar aku yang buat kalau Calista tidak mau," ucap Tante Calista masih dengan suara ketus.
"Calista, tidak boleh bekerja. Aku nggak mau dia capek. Di rumah aja, aku mempekerjakan beberapa orang agar dia tidak perlu melakukan apa pun," ucap Tio.
"Biar aku aja yang buat." Tante Calista masuk ke dapur dan kembali dengan dua gelas teh.
"Apakah ibu benar-benar telah lupa denganku?" tanya Tio.
"Sepertinya aku emang pernah bertemu kamu."
"Kalau begitu kenalkan aku, Bramantio, Bapak Bramantio. Apa sekarang ibu telah ingat."
Mendengar nama Bramantio, Tante Calista tampak gugup dan pucat. Dia langsung lemas dan bersandar di kursi.
"Aku nggak menyangka jika jodohku Calista, anak dari korban kecelakaan yang aku alami. Mungkin Tuhan menjodohkan aku dan Calista agar tau semua kejadian sebenarnya setelah kecelakaan Itu. Calista udah mengatakan semuanya."
__ADS_1
"Apa yang Calista katakan? Aku tidak melakukan apa-apa. Calista, kamu jangan menjelekan Tante. Kamu telah tante besarkan dengan tulus. Apa ini balasan kamu?"
"Tante aku tidak ada mengatakan apapun. Tante bisa tanyakan pada suamiku."
"Ibu, Calista tidak pernah menjelekkan ibu. Bahkan dia tidak ingin aku melakukan tindakan apa pun jika ibu memang terbukti bersalah. Aku hanya ingin bertanya satu hal saja. Kemana uang santunan yang aku berikan untuk Calista sebagai ahli waris?" tanya Tio.
Tante Calista hanya diam, tidak menanggapi perkataan Tio.
"Uang yang aku berikan itu bukan jumlah yang kecil. Aku jelas mengatakan dan menuliskan di surat perjanjian damai jika uang santunan itu untuk biaya sekolah dan juga hidup anak korban yang berarti Calista. Namun, dari cerita yang aku dengar, Calista saja harus mencari sendiri uang buat jajannya."
"Daddy, bukankah Daddy janji tidak menuntut," bisik Calista.
"Tenang saja, aku hanya ingin tau. Kamu diam aja," bisik Tio.
"Calista, itu tidak benar. Kenapa kamu menjelekkan Tante. Uang santunan dari orang Pak Tio aku gunakan buat biaya makan Calista."
"Baiklah, anggap itu biaya makan, habis dua juta satu bulan, satu tahun 24 juta. Lima belas tahun kamu menjaga Calista hanya habis 360 juta. Sisanya kemana? Aku memberikan ibu uang sebanyak 1,5 miliar."
"Daddy, apakah itu benar?" tanya Calista kaget. Dia tidak pernah menduga jika uang yang diberikan Tio sebesar itu.
"Aku gunakan buat renovasi rumah ini. Bukankah Calista juga tinggal disini?"
"Sisanya yang lain?" tanya Tio lagi. Tante Calista diam kembali.
"Aku masih menyimpan surat perjanjian itu. Aku bisa menuntut, jika ibu tidak jujur."
"Uangnya habis buat beli sawah dan tanah. Suamiku juga menggunakan buat renovasi rumah orang tuanya."
"Boleh aku bertemu suami ibu."
"Dia udah tidak tinggal di sini lagi. Suamiku menikah lagi dan sisa uang pemberian dari Pak Tio digunakan buat membangun rumah istri mudanya tanpa izin dariku. Jika Pak Tio ingin menuntut suami saya, silakan!" ucap Tante Calista.
Calista yang mendengar ucapan Tantenya menjadi sedih. Apakah karma dari perbuatan dirinya merebut Tio dari Tari, dirasakan tantenya. Namun, bukankah karma itu tidak ada. Semua yang terjadi dalam hidup kita ini hanyalah balasan dari perbuatan kita sendiri. Baik buruknya yang kita alami, itu hasil dari apa yang kita perbuat.
Jika kita melakukan kebaikan, pastilah kebaikan itu akan berbalik ke diri kita sendiri, begitu juga sebaliknya.
...****************...
__ADS_1
Bersambung