
Meidi dan Aldo saling pandang sebelum akhirnya berjalan mendekati Elvan dan mamanya.
Aldo berdiri dekat dengan Meidi. Elvan memandangi mamanya dan Aldo bergantian.
"Aldo, apa kamu datang ke hotel ini dengan mamaku!?" tanya Elvan dengan sedikit emosi.
"Ya," ucap Aldo, dia sadar tidak mungkin mengelak lagi.
"Apa hubungan kamu dengan mamaku? Dimana kau mengenal mama? " tanya Elvan lagi.
"Aku ingin melamar kerja dengan mama kamu. Aku dikenalkan teman mama kamu," jawab Aldo.
"Jadi, kamu bertemu mama di hotel ini untuk meminta kerjaan. Apa tidak ada tempat lain!?" tanya Elvan sambil membentak.
"Aku dan mama kamu hanya kebetulan bertemu di sini. Jadi aku sekalian aja minta kerjaan."
Mama Elvan tampak gelisah mendengar jawaban Aldo yang tidak sesuai dengan jawabannya pada Elvan.
"Apa orang tuamu mengenal mamaku?" tanya Elvan lagi.
"Tentu saja tidak. Orang tuaku ada di kampung," jawab Aldo. Jawaban Aldo membuat mama Elvan makin tampak gelisah.
"Kenapa mama tadi mengatakan padaku jika dia mengenal mama kamu?"
"Elvan, udahlah.Kita bisa bicarakan ini di rumah. Apa kamu tidak malu, lihatlah saat ini kita jadi pusat perhatian," ucap mama.
"Aku mau kita bicara di sini. Mari ke restoran aja."
"Elvan, mama capek. Mama mau istirahat."
__ADS_1
"Bukankah mama baru istirahat?" tanya Elvan dengan suara datar.
"Maksud kamu apa Elvan?" tanya mama lagi.
"Rambut mama masih basah. Baru habis keramas. Di mana mama keramas, pasti habis nginap'kan? Tidak mungkin keramas di toilet?"
"Mama mau pulang. Saat ini bukan waktu yang tepat kita bicara."
"Jika mama pulang, Aldo yang harus bicara berdua denganku sebagai sesama pria."
"Elvan, mau kamu apa?"
"Aku mau kita bicara di restoran berempat!" ucap Elvan penuh penekanan.
Tari melihat karyawan hotel yang berbisik-bisik menatap ke arah dirinya. Tari kenal hampir seluruh karyawan hotel ini, karena dia pelanggannya.
Tari mengikuti Elvan, berjalan dibelakangnya. Aldo hanya tertunduk, tidak tahu harus berbuat apa.
Sampai di restoran hotel, Elvan memilih duduk di sudut ruangan. Agar lebih leluasa bicara. Mama memilih duduk dekat Elvan. Meidi dan Aldo duduk berdampingan.
"Katakan sekarang yang sejujurnya, ada hubungan apa antara kamu dan namaku?"
"Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin melamar kerja dengan mamamu," ucap Aldo.
"Kerja memuaskan napsu namaku!" ucap Elvan dengan menggebuk meja cukup keras.
"Elvan, bicara yang sopan. Kamu lihat semua mata pengunjung restoran ini memandang kearah kita. Apa kamu tidak malu?" ucap Mama.
"Aku lebih malu punya mama yang suka jajan dan berhubungan dengan berondong!"
__ADS_1
"Jaga mulutmu,Elvan. Kamu udah keterlaluan!" ucap mama.
"Lebih keterlaluan mama. Selama ini ternyata di luar rumah mama sering berhubungan dengan berondong. Padahal di rumah ada Papa yang bisa memuaskan Mama. Aku baru tau kenapa papa memilih menikah lagi dengan Calista. Ternyata karena kelakuan Mama begini!" teriak Elvan.
"Kamu nggak bisa menuduh Mama begitu! Udah mama katakan jika Aldo anak teman mama," ucap Mama.
"Apa mama nggak dengar jawaban Aldo. Dia kenal dengan mama dari seorang teman mama. Bukan dari mamanya. Aku muak dengan drama ini. Ternyata mama lebih be*jat dari Papa. Mama selingkuh dan berhubungan badan tanpa ikatan. Aku malu punya mama seperti kamu!" teriak Elvan.
Tangan Tari terangkat dan menampar pipi Elvan. Elvan memegang pipi bekas tamparan mamanya. Dia memandangi mamanya dengan mata tajam.
...****************...
Bersambung
**Mampir juga ke novel terbaru mama NIKAH TANPA CINTA.
Annisa menerima perjodohan kedua orang tuanya setelah mengetahui jika calon suaminya adalah cinta pertamanya.
Anissa yang awalnya bahagia berubah sedih ketika mengetahui bahwa suaminya sama sekali tidak mencintainya pada malam pertama mereka.
"Aku menikahimu hanya karena terpaksa. Aku telah memiliki seorang kekasih. Kami telah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Jadi aku ingatkan, jangan berharap aku akan memberikan hak kamu sebagai istri."
Annisa memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan Farhan yang menusuk hatinya.
Annisa mengira dia akan bahagia karena menikah dengan cinta pertamanya, tapi semua itu berubah setelah pernyataan yang membuat Anissa sadar. Bahwa dirinya tidaklah dicintai.
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan diriku**."
__ADS_1