
Hari ini Calista dan Tio telah kembali ke apartemen lagi. Calista membuatkan sarapan omlet telur buat Tio.
Calista menghidangkan omlet telur sayur dan segelas kopi di atas meja. Setelah itu Calista kembali ke kamar untuk membangunkan Tio.
Tio masih di dalam alam mimpi. Calista naik ke ranjang dan mengecup pipi Tio.
"Om, bangun! Udah jam berapa ini. Om, om harus kerja'kan?" Calista kembali mengecup pipi Tio untuk membangunkan suaminya itu.
Geram karena Tio masih belum bangun setelah berulang kali dicium, Calista menggigit hidung suaminya itu.
Usahanya berhasil, Tio membuka matanya. Tersenyum dan menarik pinggang Calista hingga tubuhnya jatuh ke atas tubuh Tio.
"Udah mulai nakal ya? Bangunkan dengan menggigit."
"Dari tadi aku bangunkan, nggak juga mau buka mata. Ya aku gigit aja."
"Gimana caranya kamu bangunkan aku tadi."
"Dengan mencium pipi,Om."
"Caranya ... coba praktekan."
"Gini," ucap Calista dengan mencium pipi Tio.
"Gimana, aku nggak ngerti," ucap Tio. Calista mengulang mencium pipi Tio.
"Aku masih nggak ngerti," ucap Tio. Calista kembali mencium pipi Tio. Melihat Calista yang berulang kali menunjukan caranya membangunkan Tio, pria itu jadi tertawa.
Tio memang sengaja mengerjai Calista dengan berpura-pura tidak mengerti agar wanita itu berulang kali mencium pipinya.
Melihat Tio yang tertawa, Calista akhirnya menyadari jika dirinya dikerjai.
"Om pasti ngerjain aku, agar aku berulang kali mencium pipi, Om. Dasar Om mesum!" teriak Calista dengan memukul dada Tio pelan.
Tio memeluk erat pinggang istrinya itu agar tidak terjatuh. Tio mendaratkan ciuman keseluruh bagian di wajah Calista.
"Lepasin, Om. Aku mau mandi. Om juga harus segera mandi. Keburu dingin nanti sarapannya!"
Tio bangun dari tidurnya, tapi tidak melepaskan pelukan dipinggang Calista, sehingga saat ini Calista berada dipangkuannya.
"Kita mandi bareng?" tanya Tio.
"Nggak mau. Om mandi di kamar tamu. Kalau mandi bareng, nanti aku nggak jadi kuliah. Om juga nggak jadi kerja," jawab Calista dengan cemberut.
__ADS_1
Tio tertawa mendengar jawaban Calista. Dia mencubit hidung istrinya itu.
"Bangunlah sebelum bagian bawah tubuhku ikutan terbangun."
"Om mesum banget," ucap Calista bangun dari pangkuan Tio. Calista masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Dia takut Tio menyusul. Melihat tingkah istri kecilnya, Tio jadi tersenyum.
Sejak menikah dengan Calista, hari-harinya selalu diisi dengan tawa. Tio juga merasa muda kembali.Semangatnya bertambah dalam menjalani hidup. Tujuannya sekarang ingin mengumpulkan uang buat masa depan Calista dan anak-anaknya kelak.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Tio duduk di mini bar dengan Calista. Dia menyantap omlet dengan lahap.
"Aku cuma bisa buat omlet. Masih belum kuat untuk masak yang lain."
"Bagiku ini udah menu terenak dari restoran manapun. Aku ingin masakan rumah. Bosan makan di restoran terus."
"Aku akan masakin Om terus hingga perut ini buncit," ucap Calista dengan mengusap perut Tio.
Tio menangkap tangan Calista, dan mengecupnya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi. Berjuanglah bersamaku terus." Tio memeluk tubuh Calista.
"Udah pelukannya, Om. Nanti bisa telat ke kantor." Tio melepaskan pelukannya.
"Aku ke kantor. Minggu depan kamu bisa langsung masuk kuliah di tempat yang baru. Jangan genit dan jangan tebar pesona di kampus baru."
"Jangan salah sayang, Perawan itu emang menawan, janda lebih menggoda tapi istri orang lebih menantang," ucap Tio sambil tertawa.
"Berarti Om juga suka ama istri orang?"
"Kok jadi ak, sih?"
"Awas aja kalau aku tau Om menggoda istri orang. Nggak aku beri jatah adik kecilnya sebulan."
Tio tertawa terbahak mendengar ucapan Calista, hingga air mata keluar dari sudut matanya.
"Om, senang banget kayaknya? Ada apa?"
"Sejak kita menikah aku emang sangat bahagia. Hari-hari yang aku lalui terasa sangat menyenangkan."
Saat kita bisa tertawa lepas bersama pasangan, maka itu tak lain adalah tanda kita merasa nyaman dengannya. Bisa menikmati waktu bahagia bersama. Canda dan gurau pun terasa lebih berkesan bersama pasangan. Dan waktu terbaik untuk menciptakan kenangan terindah adalah hari ini, detik ini juga.Dan ketika menjalani sebuah pernikahan, tawa merupakan "bahasa" cinta. Setiap kali tertawa, selalu ada perasaan menyenangkan yang hadir di dalam hati.
Setelah sarapan Tio pamit berangkat kerja. Calista kembali masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
Calista ingin tidur sejenak. Tubuhnya masih terasa lemah. Sepuluh menit berlalu akhirnya Calista terlelap.
Calista sengaja istirahat dulu sebelum masak buat makan siang. Calista ingin memberikan kejutan pada suaminya nanti. Dia akan mengantar makan siang buat Tio di kantor.
...----------------...
Tio yang sedang asyik dengan laptopnya dikejutkan dengan kedatangan Tari ke kantor. Tanpa di minta dan dipersilakan, Tari langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Tio.
"Aku ingin menawarkan sesuatu denganmu," ujar Tari.
Tio menghentikan kegiatan dan memandangi Tari dengan wajah penuh tanda tanya. Tio heran dengan ucapannya Tari.
"Aku ingin buat kesepakatan denganmu," ucap Tari lagi.
"Kesepakatan apa yang kamu inginkan?" tanya Tio.
"Aku nggak akan menuntut kamu yang menikah siri tanpa izin dariku. Namun, dengan satu syarat."
"Syarat? Syarat apa?"
"Batalkan gugatan cerai kamu. Aku akan menerima anak ingusan itu sebagai maduku. Bagaimana? Nggak berat'kan?"
"Siapa yang mengatakan itu nggak berat. Aku sangat keberatan dengan syarat darimu."
"Apa yang memberatkan, kamu . Aku hanya minta kamu cabut gugatan cerai, nggak lebih."
"Yang membuat aku keberatan adalah mencabut gugatan cerai, karena itu nggak mungkin aku lakukan. Tanpa kehadiran Calista di hidupku, aku akan tetap menceraikan kamu!" ucap Tio.
"Kamu katakan jika gugatan cerai itu bukan karena adanya Calista dalam hidupmu. Bagaimana mungkin aku bisa menepis pikiran itu? Sejak kehadiran bocah itu kamu baru berpikir ingin menceraikan aku. Selama ini, kamu nggak pernah ada keinginan untuk berpisah!" ucap Tari dengan suara meninggi.
"Bukannya aku nggak ada keinginan untuk menceraikan kamu, tapi semua itu aku lakukan untuk memberikan kamu waktu agar berubah. Namun, sepertinya percuma saja. Sepuluh tahun aku menunggu perubahan darimu, tapi tetap hasilnya tetap sama. Kamu terlena dengan kebebasan yang aku berikan. Kamu lupa segalanya!"
"Omong kosong. Kamu mengatakan semua itu agar aku nggak mengganggu dan menyalahkan bocah itu."
Baru saja Tio akan membalas ucapan Tari, terdengar suara pintu yang diketuk. Tio pikir itu pastilah sekretarisnya.
"Masuklah!" ucap Tio.
Pintu di buka dan muncul Calista dari balik pintu.
"Kejutan ... aku bawa bekal buat makan siang," ucap Calista riang.
Tio dan Tari memandangi Calista kaget. Calista juga baru menyadari ada Tari, istrinya Tio. Calista menjadi terdiam dan berdiri terpaku. Kakinya terasa berat untuk menopang tubuhnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung