
Acara syukuran empat bulanan sekaligus perayaan pesta pernikahan Tio dan Calista berlangsung meriah. Tamu undangan memenuhi ruangan silih berganti.
Dari rekan bisnis Tio hingga sahabat-sahabatnya. Banyak tamu yang hadir meledek Tio puber, memiliki istri seumuran anaknya.
Hebatnya Tio, tidak membuka aib Tari sedikitpun dengan mengatakan kalau Elvan bukan anak kandungnya.
Tidak ada satu orang luarpun yang tahu jika Elvan bukan darah daging Tio kecuali Calista. Tio tidak ingin Elvan malu dan sedih jika Tio mengatakan kebenarannya. Lagi pula Tio berpikir, apa gunanya orang luar tahu. Tidak akan berubah keadaan.
Dalam acara pesta Tio juga mengumumkan akan memiliki sepasang bayi kembar. Elvan yang baru mengetahui itu menjadi kaget.
Calista duduk di sudut ruangan ditemani Tanti. Wanita istrinya Tio itu telah capek dari tadi menyambut tamu yang mengucapkan selamat padanya.
"Capek banget. Aku mau pulang aja rasanya. Rebahan," ucap Calista.
"Aku minta tolong Elvan mengantar kamu pulang. Nanti biar aku yang mengatakan pada Om Tio jika kamu capek dan telah pulang," ujar Tanti.
"Nggak usah. Aku biar menunggu Tio di sini aja. Walau hubungan Papa dan anak itu telah baik, tapi aku tetap harus menjaga jarak dengan Elvan. Semua tau jika aku mantannya Elvan. Aku harus menjaga perasaannya suamiku. Dia udah terlalu baik dan memberikan segalanya yang tidak pernah aku impikan selama ini," ucap Calista lirih.
"Aku ikut bahagia melihat kamu seperti ini. Sekali lagi maafkan aku yang sempat menentang kamu. Jika aku tahu kejadian sebenarnya, tidak akan menghakimi kamu seperti ini. Apa lagi melihat kamu bahagia, aku ikut senang."
"Itu bukan salah kamu. Aku juga salah. Menikah di saat Tio masih berstatus suami orang. Jangan ingat itu lagi. Aku tau kamu marah karena kamu sayang denganku," ucap Calista.
"Aku sayang banget," ujar Tanti dan memeluk Calista.
"Aku juga mau dipeluk dan di sayang," ucap Elvan mengagetkan. Elvan menarik kursi dan duduk di samping Tanti.
"Aku iri melihat kalian pelukan. Aku nggak ada yang mau dipeluk."
__ADS_1
"Cari pacar dong. Masa kalah ama aku. Aku udah mau punya anak dua," ucap Calista sambil tersenyum.
"Sampai kapanpun aku pasti kalah darimu. Sekalipun aku dapat janda beranak lima," ucap Elvan.
"Kenapa bisa? Menang kamu dong, langsung dapat bonus anak lima," ucap Tanti.
"Ya jelas menang Calista. Dia jadi ibuku. Aku hanya anak baginya. Aku harus hormat dengannya."
"Betul juga. Mana bisa kamu melawan Calista. Dia langsung jadi ibu kamu," ucap Tanti. Mereka bertiga tertawa.
"Maaf,aku mengganggu," ucap suara wanita. Semua memandang kearah asal suara.
"Meidi!" ucap Calista.
"Maaf Calista, aku datang walau tak diundang."
Elvan dan Tanti hanya diam. Tanti juga mengenal Meidi sebagai sahabat Elvan. Dia juga tau dari cerita seseorang jika Meidi penyebab putusnya hubungan Calista dan Elvan.
Tanti memandangi Meidi dengan wajah kurang bersahabat. Dia masih kesel dan marah dengan wanita itu.
"Aku datang hanya ingin bertemu kamu," ucap Meidi pelan nyaris tidak terdengar.
"Bertemu aku? Ada perlu apa?" tanya Calista heran.
"Bisa kita bicara berdua, hanya sebentar saja."
"Boleh, kita bicara di sana aja. Tanti, Elvan, aku tinggal sebentar dulu," ucap Calista.
__ADS_1
Calista berjalan menuju kursi tak jauh dari tempat Elvan dan Tanti duduk, ikuti Meidi.
"Aku mau minta maaf. Aku menyesal,karena aku hubungan kamu dan Elvan harus berakhir. Maafkan aku yang telah menipu dan membohongi kamu selama ini," ucap Meidi membuka borokan.
"Udah aku maafkan. Aku bahkan ingin berterima kasih padamu. Dengan kamu berkhianat bersama Elvan, aku mendapat pengganti yang jauh lebih baik. Aku bahagia saat ini."
"Syukurlah jika kamu bahagia. Rasa bersalahku akan berkurang."
"Aku mau kamu berubah. Jadilah lebih baik dari sekarang. Semoga kamu juga menemukan pria yang mencintai kamu seperti Om Tio yang sangat mencintai aku."
"Terima kasih atas doanya, Calista. Kamu sangat baik. Pantas diberi kebahagiaan," ucap Meidi.
"Sebelum aku pamit, boleh aku memeluk kamu."
"Tentu saja."
Calista dan Meidi saling berpelukan. Air mata Meidi tampak turun membasahi pipinya. Mungkin dia memang menyesali semua yang terjadi.
...****************...
Bersambung
Jangan lupa mampir juga ke novel teman mama di bawah ini.
__ADS_1