
Tio mengusap rambut Calista dan memberikan obat untuk menghilangkan perih. Wulan masih saja berdiri terpaku memandangi Tio yang memanjakan Calista.
Tio yang menyadari jika Wulan masih ada di ruangan, mengagetkan wanita itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Pesankan makanan segera!" ucap Tio dengan suara sedikit tinggi.
"Maaf, Pak. Baiklah. Saya segera pesankan," ucap Wulan, dan segera beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Maaf, gara-gara aku kamu jadi korban kemarahan Tari," ucap Tio sambil mengusap kepala Calista.
"Aku juga salah,Om. Seharusnya aku menunggu ketok palu baru menikah. Tante Sari benar, aku ini hanyalah perebut suami orang."
"Sudahlah Calista, jangan kamu pikirkan lagi ucapan Tari. Nanti kamu sakit lagi. Semua yang telah terjadi nggak usah disesali. Nggak akan dapat diulang lagi."
Tio meminta Calista tidur dengan kepala di pahanya. Tio terus mengusap rambut Calista hingga Wulan masuk lagi dengan makanan yang Tio pinta.
"Ini Pak makanan yang dipesan," ucap Wulan.
"Letakkan aja di meja," ucap Tio.
__ADS_1
Wulan meletakkan makanan di meja berhadapan dengan Tio. Pria itu melihat Wulan yang terus menatap Calista yang tertidur dipangkuan Tio.
"Kenapa kamu melihat Calista terus?" tanya Tio membuat Wulan kaget.
"Tidak ada apa-apa, Pak. Maaf ...."
"Wulan, dengarkan! Calista saat ini telah menjadi istriku. Kami telah menikah hampir satu bulan. Aku dan Tari sedang dalam proses perceraian. Aku harap kamu menghormati Calista seperti kamu menghormati aku. Aku tidak mau ada seorangpun yang bicara jelek tentang Calista!" ucap Tio tegas.
"Baik, Pak. Akan saya ingat dan katakan dengan yang lain," ucap Wulan.
"Saya pamit, Pak. Selamat menikmati makanannya." Wulan pergi setelah mengucapkan selamat.
Jadi benar jika Calista itu telah merebut pak Tio dari Bu Tari. Apakah selama ini Calista hanya berpura pacaran dengan Elvan untuk mendekati Pak Tio.
Sementara itu di hotel Tari sedang berdua dengan pria muda. Tampak wajah Tari, yang kusut karena teringat pertengkarannya dengan Calista dan Tio.
Tari belum bisa menerima jika Tio lebih memilih Calista. Sejak mereka pacaran, Tio selalu memanjakan dan menuruti apa katanya. Tari berpikir Tio tidak akan pernah berpaling dari hatinya.
Tari masih ingat saat sekolah dulu, Tiolah yang selalu ada saat dia membutuhkan sesuatu. Cinta Tio sangat besar untuknya.
__ADS_1
Semua berubah sejak Tio gila kerja. Sepulang kerja dia udah capek dan langsung tidur. Tari yang merasa kurang diperhatikan lagi, mencari hiburan lain. Namun, Tari terbuai dengan kebebasan.
Dirinya lupa dengan kewajiban. Sehingga Tio mulai menjauh. Rumah tangga mereka seperti drama.
"Tante, kenapa wajahnya murung begitu," ucap seorang pria muda yang usianya seumuran Elvan.
"Aku lagi banyak masalah. Suamiku menggugat cerai. Aku tidak mau pisah. Bukan saja karena harta. Aku tidak mau jika setelah berpisah, teman-teman menjauhi diriku. Kamu tahu, semua temanku mau bareng denganku karena dia tahu aku istri Tio, seorang CEO ternama."
"Terus, apa yang akan Tante lakukan?" tanya pria yang bernama Aldo itu.
"Aku sedang memikirkan cara agar Tio tidak menceraikan aku."
"Bagaimana kalau Tante mengaku hamil. Bukankah itu bisa menunda perceraian?" tanya Aldo.
"Mana mungkin Tio percaya aku hamil. Kami hampir sepuluh tahun tidak berhubungan badan. Aku cuma melakukan hubungan denganmu."
"Maaf Tante, aku nggak tau. Dari pada tante pusing mikirin itu. Lebih baik kita bersenang dulu."
Aldo mendekati Tari dan mulai melakukan pakaian wanita itu. Tian juga melecuti pakaiannya. Mereka memadu kasih tanpa memikirkan siapapun dan apapun lagi.
__ADS_1
...****************...
Bersambung