
Setelah mengobrol cukup lama dengan Elvan hingga subuh, Tio mengantuk dan tidur duduk di samping Calista istrinya.
Calista terbangun ketika perawat masuk membawakan sarapan buat Elvan. Tio dan Elvan masih terlelap, mungkin karena mereka baru beberapa jam tertidur.
Calista masuk ke kamar mandi. Mengambil pakaian yang dibawanya. Wanita itu mandi di kamar mandi rumah sakit.
Setelah rapi berpakaian, Calista keluar dari kamar mandi. Baru aja keluar, Calista melihat Elvan yang berusaha duduk.
Calista langsung mendekati dan membantunya duduk.
"Kamu udah nggak merasa pusing kalau dibawa duduk?" tanya Calista.
"Nggak, panggungku pegal karena berbaring terus."
"Kamu mau sarapan. Biar bisa minum obat."
"Boleh," ucap Elvan.
Calista mengambil sarapan yang diberikan perawat tadi. Calista duduk di tepi ranjang, menyuapi Elvan. Elvan selalu aja melirik setiap Calista menyuapinya.
Seandainya waktu bisa ku ulang kembali, aku pasti nggak akan melakukan kesalahan dan menyakiti kamu. Akan aku jaga kamu dan cinta kita. Penyesalan emang selalu datang saat kita telah benar-benar kehilangan. Namun, aku masih harus bersyukur, kamu tidak jatuh ke pelukan orang lain. Kamu wanita baik, berhak dapat kebahagiaan dan pria baik juga.
"Habis dah. Kamu lapar apa doyan sih?" canda Calista.
"Dua-duanya," jawab Elvan. Calista tertawa mendengar jawaban Elvan.
"Mau aku hubungi Meidi sekarang, biar bisa jagain kamu. Bisa juga buat teman ngobrol kamu.
__ADS_1
"Calista ...."
"Ya, kenapa?"
"Aku dan Meidi tidak ada hubungan. Awalnya aku mabuk dan kami melakukan hubungan terlarang itu. Sejak saat itu aku mulai terbiasa melakukan dosa itu. Apa lagi kamu terlalu menjaga diri. Mencium kamu aja nggak boleh," gumam Elvan, tapi masih dapat didengar Calista.
"Aku tidak mengizinkan kamu melakukan itu, karena takut kebablasan seperti kamu dan Meidi. Aku ingin melakukan saat aku telah sah menjadi istri. Semua itu aku lakukan karena aku takut nanti kita udah melakukan hubungan dengan pacar kita, dan ternyata dia bukan jodoh kita. Kasihan yang menjadi suami, dapat bekas."
"Beruntung Papa dapatin kamu."
"Kamu ngomong apa? Wanita yang dapatkan kamu juga beruntung. Aku tau, sebenarnya kamu pria yang baik, terlepas dari pergaulan bebas kamu."
"Doakan aku dapat wanita seperti kamu."
"Aku bukan wanita baik, aku juga banyak kekurangannya. Seperti yang pernah kamu katakan, aku ini wanita jahat. Merampas kebahagiaan ibumu hanya untuk kebahagiaan diriku."
"Lupakan semua. Kita buka lembaran baru. Kamu harus bisa ikhlas dan menerima aku sebagai istri papa kamu."
"Apa aku harus memanggil mama?" tanya Elvan dengan tersenyum.
"Boleh juga. Atau Mommy aja. Aku mau nanti jika aku memiliki anak, mereka memanggil Mommy."
"Anakmu jadi adikku," gumam Elvan.
"Udah, jangan ngomongin itu lagi. Kita bicara yang lain saja."
"Kamu serius, nggak mau aku hubungi Meidi. Pasti dia sangat kuatir karena ponsel kamu nggak bisa dihubungi."
__ADS_1
"Meidi bukan wanita yang aku impikan menjadi pendampingku. Aku ingin wanita baik, walau aku sadar diriku bukan pria baik. Aku nggak mau anak-anakku mengikuti jejak kedua orang tuanya yang salah. Jika aku dapat istri sebaik kamu, setidaknya istriku pasti akan mendidik anaknya dengan baik seperti dirinya."
"Aku doakan kamu dapat wanita yang baik. Sekarang kamu istirahat aja lagi. Minum obatmu dulu. Aku mau bangunkan papa kamu."
"Aku iri," gumam Elvan namun masih dapat didengar Calista.
"Iri ... iri dengan siapa?" tanya Calista.
"Iri dengan Papa. Dia udah bahagia karena dapat wanita yang mencintainya. Aku harus mengakui jika kamu dan papa saling mencintai. Dimatamu saat ini hanya ada papa. Aku bisa juga merasakan kekuatan cinta kamu dan papa."
"Terima kasih," ucap Calista dengan tersenyum.
"Terima kasih untuk apa?" Elvan bertanya dengan wajah keheranan.
"Terima kasih karena kamu sudah mulai bisa menerima aku dan papa kamu. Terima kasih karena kamu sudah mulai merubah sikapmu. Terima kasih mau mengerti aku. Banyak lagi terima kasih yang ingin aku utarakan."
"Aku juga mau mengucapkan terima kasih karena kamu mau menerima papa apa adanya. Awalnya aku berpikir kamu mendekati papa hanya untuk balas dendam denganku dan hanya inginkan harta papa. Aku sekarang menyadari jika semua itu keliru. Kamu emang mencintai papaku tulus."
Calista hanya tersenyum menanggapi ucapan Elvan. Memang sakit hati saat Elvan menuduhnya hanya mengincar harta papa-nya. Beruntung Tio sabar dan terus meyakini dirinya jika Calista tidak boleh menyerah hanya karena ucapan orang-orang.
...****************...
Bersambung
Mama kembali bawa rekomendasi karya milik teman mama. Jangan lupa mampir ya.
__ADS_1