SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA

SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA
Bab Empat Puluh Tujuh. SDCM.


__ADS_3

Tio memegang tangan Calista ketika berjalan di lorong rumah sakit. Sampai di meja resepsionis, Tio menanyakan korban kecelakaan.


Wanita yang bertugas sebagai resepsionis itu, mengatakan jika korban masih berada di ruang IGD.


Tio langsung menuju ke ruang IGD dengan tangan yang tetap menggenggam jari Calista. Sampai di IGD, kebetulan ada Dokter yang baru keluar. Tio langsung menemui Dokter itu.


"Selamat malam, Dokter. Bagaimana keadaan korban kecelakaan di jalan X? Saya orang tua korban."


"Selamat malam,Pak. Kebetulan saya yang menangani."


"Bagaimana keadaannya sekarang,Dok?"


"Korban telah melewati masa kritis. Saat ini keadaannya telah stabil."


"Luka apa yang diderita anak saya, Dok?"


"Hanya luka ringan saja. Kaki yang keseleo dan kepala terluka akibat benturan."


"Apa udah bisa dipindahkan ke ruang inap, Dok?"


"Tentu saja bisa. Bapak urus aja administrasi, setelah itu kembali ke sini mambawa kertas bukti pembayaran dan pemesan kamar."


Tio meminta Calista menunggu di depan ruang IGD, Sementara dirinya mengurus administrasi.


Setelah itu, Tio kembali ke ruang IGD dan memberikan bukti pembayaran. Elvan di dorong perawat menuju ruangan yang Tio pesan.


Tio dan Calista menunggu Elvan sadar sambil menonton televisi. Tio yang melihat Calista mengantuk meminta istrinya itu tidur. Kepala Calista di letakkan dipahanya,


Dua jam berlalu, Calista dan Tio akhirnya ketiduran. Elvan yang mulai sadar membuka matanya.


Elvan memandangi sekeliling ruangan. Dia melihat tangannya terpasang selang infus. Elvan berusaha mengingat semua yang terjadi.


Setelah ingatannya pulih, Elvan menarik napasnya. Teringat kejadian ibunya yang berselingkuh dengan berondong.


Elvan kembali mengedarkan pandangannya. Matanya tertuju pada Papanya dan Calista.

__ADS_1


Sepertinya papa dan Calista memang saling mencintai. Lihatlah Calista tampak begitu nyaman dipangkuan Papa. Dulu dia nggak akan pernah mau tidur begitu dipahaku.


Elvan mengalihkan pandangannya dari mereka. Bagaimana pun hatinya belum dapat menerima pernikahan Calista dan papanya.


Elvan mencoba kembali memejamkan matanya. Saat Elvan ingin terlelap, dia merasakan tangannya dipegang.


Elvan membuka mata dan melihat papanya. Tio langsung tersenyum melihat Elvan membuka matanya.


"Elvan, kamu telah sadar."


"Siapa yang membawa aku ke rumah sakit, Pa?"


"Papa juga kurang tahu. Saat orang suruhan papa sampai di tempat kejadian kamu telah dibawa ke rumah sakit."


"Dari mana Papa tahu aku ada di lokasi?"


"Dari Mama. Papa menghubungi mama kamu ,bertanya apakah mama tahu dimana keberadaan kamu?"


"Jangan tanya apapun tentangku dengan Mama lagi. Aku benci mama!"


"Emang Papa bukan orang tuaku?"


"Tentu saja Papa juga orang tuamu!"


"Aku mau Papa saja. Aku tidak mau berurusan dengan mama."


"Elvan, saat ini usia kamu udah hampir 24 tahun. Bukan usia muda lagi. Kamu harus mulai memikirkan masa depanmu. Ubahlah sikapmu yang masih kekanakan. Suatu saat kamu pasti berkeluarga. Papa ingin kamu mulai bekerja. Apa guna ijazahmu?"


"Baiklah, Pa."


Calista yang tertidur, terbangun dan duduk. Melihat Tio dan Elvan yang sedang mengobrol, Calista hanya duduk diam.


Mata Elvan dan Calista beradu, kebetulan dari tadi Elvan melirik ke ayahnya. Calista menunduk, tidak mau membalas tatapan Elvan.


Tio yang melihat ke arah Elvan, tau jika anaknya sedang melihat Calista.

__ADS_1


"Sekarang istirahatlah, Papa dan Calista juga harus istirahat."


"Jangan beritau mama jika aku di sini."


"Untuk malam ini bisa papa lakukan. Namun, besok papa harus mengatakan keadaan kamu. Tadi sudah Papa katakan, bagaimanapun dia mamamu."


Tio berjalan mendekati Calista, dan duduk di samping istrinya itu.


"Kamu lapar. Aku cari makanan."


"Om, mau mencari kemana?"


"Jangan panggil Om lagi. Nanti orang mendengarnya akan merasa janggal," ucap Tio mencubit hidung Calista.


"Jadi aku panggil apa?"


"Daddy aja. Nanti anak kita akan panggil yang sama, Daddy."


"Daddy ...?"


"Ya, Daddy. Aku cari makanan dulu. Kamu mau apa."


"Terserah Om, Eh Daddy aja."


"Gitu lebih enak didengar." Tio mengecup pipi Calista.


Tanpa Tio dan Calista sadari, semua yang mereka lakukan di lihat Elvan.


...***************...


Bersambung.


Mama bawa rekomendasi karya teman mama. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.


__ADS_1


__ADS_2