SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA

SELINGKUH DENGAN CALON MERTUA
Bab Lima Puluh Empat. SDCM.


__ADS_3

Setelah menebus obat yang diresepkan dokter, Tio mengajak Calista ke kantin. Di kantin Tio memesan banyak makanan. Dari soto, lontong, nasi goreng dan mie goreng.


Ketika pelayan mengantar makanan, Calista menjadi kaget. Dipandang Tio dengan wajah penuh tanda tanya.


Tio sangat antusias dengan kehamilan Calista, karena saat Tari hamil dirinya tidak pernah mendampingi. Tio terlalu sibuk dengan kuliah dan kerjanya.


"Makanan sebanyak ini di pesan buat siapa, Ded?" tanya Calista masih dengan raut wajah keheranan.


"Buat kamulah."


"Daddy pikir aku apa? Makan sebanyak ini."


"Apa kamu tidak mendengar dokter tadi berkata, jika kamu harus makan teratur dan makanlah sesering mungkin."


"Tapi nggak juga harus sebanyak ini."


"Kamu pilih aja mana yang kamu suka. Ingat sayang, di rahim kamu saat ini ada calon baby kita."


"Aku mau soto aja."


Calista menarik mangkuk soto makin mendekat. Wanita itu menyantap soto dengan malas. Baru beberapa sendok masuk ke mulutnya, Calista mendorong mangkuk menjauh darinya.


"Kenapa nggak dihabisin. Tinggal dikit lagi," ucap Tio.


"Udah kenyang."


"Jika kamu makan hanya sedikit, kapan bayinya besar."


"Kalau aku paksakan nanti muntah."

__ADS_1


"Baiklah. Sayang semua makanannya terpaksa harus di buang."


"Kenapa harus dibuang. Makanannya bukan sisa dan belum disentuh. Coba aja beri untuk sarapan karyawan di sini."


"Baiklah, Sayang."


Tio memanggil salah satu karyawan dan mengatakan jika makanan yang ada di meja bukan sisa. Bagi yang belum sarapan bisa menyantapnya.


Setelah itu, Calista dan Tio meninggalkan kantin, kembali ke ruang rawat inap Elvan. Dengan posesif-nya Tio merangkul bahunya Calista.


Calista dan Tio kembali ke ruang rawat Elvan dengan membawa sebungkus mie goreng kesukaan Elvan. Saat masuk ke ruangan tampak Elvan sedang duduk menonton televisi.


Tio mendekati ranjang Elvan dan meminta Calista duduk. Tio berdiri dibelakang Calista.


"Ini buat kamu. Mie goreng," ucap Calista dengan menyerahkan bungkusan ditangannya.


"Semua baik-baik saja. Ada kabar baik untukmu," ujar Tio.


"Kabar baik apa, Pa?"


"Sebentar lagi kamu akan jadi kakak. Bukankah dari dulu kamu udah sering meminta adik."


"Selamat Pa. Selamat Calista," ucap Elvan lirih.


Tio mendekati Elvan dan mengusap rambut putranya itu. Elvan tersenyum membalasnya.


"Setelah kamu kembali dari rumah sakit, kamu akan ke apartemen bersama Papa hingga kamu sembuh total. Papa harap mulai hari kamu udah ikhlas menerima Calista sebagai ibumu. Apa lagi sekarang, di rahim Calista ada calon adikmu."


"Iya, Pa."

__ADS_1


"Setelah kamu sembuh, kamu bisa memilih mau tetap tinggal di apartemen, atau di rumah bersama mama atau di apartemen dengan Papa."


Ketika Elvan akan menjawab ucapan Papanya, terdengar suara tepuk tangan. Serempak mereka bertiga memandang ke asal suara. Ternyata Tari yang datang dengan bertepuk tangan.


"Bahagia banget keluarga kecil ini," ucapnya Tari dengan sinis.


"Kamu mau apa, Tari. Jangan mencari masalah."


"Aku atau kamu yang cari masalah. Aku sebagai mama-nya Elvan telah mencoba menghubungi ponselnya berulang kali namun tidak aktif. Aku sangat kuatir, namun kalian di sini sedang tertawa. Belum ada ketuk palu diantara kita itu berarti kamu masih suami sah-nya aku. Namun, seolah aku ini kau anggap telah mati!" ucap Tari dengan nada tinggi.


"Udahlah, Ma.Jangan buat onar. Ini rumah sakit!" ucap Elvan.


"Jadi sekarang kamu ada dipihak Papa. Mana Elvan yang kemarin marah-marah dan mengatakan jika cewek gampangan yang merebut kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya."


"Ma, aku udah katakan. Jangan cari masalah. Jika Mama datang hanya untuk marah. Sebaiknya Mama pulang aja!"


"Jadi sekarang kamu udah melupakan sakit hatimu dengan wanita ja*lang ini dan memaafkan Papa. Apa yang diberikan dan dijanjikan Papa kamu, hingga kamu berubah pikiran secepat ini. Apa Papa kamu menjanjikan akan berbagi wanita ini denganmu?"


Tio yang sudah hilang kesabarannya, mendekati Tari dan menampar pipinya.


"Jaga mulut kamu Tari. Sudah sering aku katakan jangan menghina Calista. Apa kamu tidak sadar jika apa yang kamu tuduhkan dengan Calista itu sebenarnya lebih pantas untukmu. Apa kamu kira aku ini bodoh, tidak tau yang kamu lakukan di luar sana. Menjijikkan itu kamu!" ucap Tio dengan emosi.


Elvan yang mendengar dan melihat pertengkaran kedua orang tuanya melirik ke arah Calista. Tampak wanita itu hanya menunduk.


Elvan tahu pastilah Calista mencoba menenangkan hatinya. Pasti sebenarnya wanita itu sedih mendengar ucapan Mamanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2