
Tio membuka kain yang melekat di tubuh Calista satu persatu. Tio meminta Calista duduk di atas closet yang telah ditutip.
Sekarang di tubuh Calista hanya tersisa pakaian dalam yang menutupi inti tubuhnya.
Calista menatap Tio. Suaminya itu selalu menarik napas setiap menatap ke tubuhnya.
"Daddy, pengin?" gumam Calista,namun suaranya masih dapat di dengar Tio bahkan cukup mengagetkan dirinya.
"Jangan tanyakan itu, Sayang. Sama aja kamu membangunkan singa yang sedang tidur. Nanti kamu dimakannya," ucap Tio lirih.
Tio membasahi tubuh Calista dengan air dari shower, dan memberi sabun keseluruh tubuh istrinya.
Calista yang melihat tangan Tio gemetar saat memberikan sabun ke tubuhnya langsung berdiri dan memeluk pinggang Tio.
"Sayang, bajuku jadi basah," ucap Tio, karena Calista memeluk tubuhnya.
"Aku sayang, Daddy."
"Aku tau. Kamu membangunkan sesuatu yang tidur."
"Daddy bisa tidurkan lagi, aku akan bantu," bisik Calista.
"Kamu masih sakit, Calista. Jangan main-main. Aku nggak mau gara-gara ini kamu di rawat lebih lama lagi di sini."
__ADS_1
"Aku serius, Daddy. Tapi Daddy harus pelan."
Tio langsung menggendong Calista dan mendudukkan kembali ke closet. Calista pikir Tio akan melakukan hubungan dengannya.
Tio berjongkok dihadapan Calista. Dan memeluk pinggang gadis itu. Mengecup dadanya.
"Jika aku ikuti napsuku, saat ini aku ingin menggauli kamu. Namun, aku juga harus berpikir, mana mungkin aku mengajak kamu berhubungan dalam keadaan kamu seperti ini."
"Aku takut nanti Daddy cari kepuasan di luar sana," ucap Calista lirih.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Tari yang sudah jelas melakukan kesalahan, masih aku beri kesempatan berubah. Aku tidak langsung mencari kesenangan di luar, walau itu bisa aja aku lakukan. Aku telah melakukan kesalahan saat remaja, dan tidak ingin mengulangnya lagi." Clarisa memeluk leher Tio dan membawa kepala Tio tenggelam di dadanya.
"Udah, Sayang. Jika aku berada dalam dekapan dadamu agak lama, aku takut khilaf."
Calista melepaskan pelukannya. Tio berdiri dan kembali membersihkan tubuh istrinya itu. Setelah semua dirasakan cukup, Tio mengeringkan tubuh Calista dengan handuk.
"Sepertinya aku lupa bawa bajumu. Aku ambilkan dulu. Kamu duduk aja. Nanti kalau berdiri terlalu lama, takut pusing."
"Oke," ucap Calista.
Tio langsung keluar dari kamar mandi. Tio juga akan mengambil pakaiannya yang basah karena Calista memeluknya tadi.
Tio membuka pintu kamar mandi, dan berjalan keluar dengan santainya. Saat Tio baru menginjak kakinya di luar kamar mandi, Tio dikagetkan dengan kehadiran Elvan.
__ADS_1
"Kenapa baju Papa basah?" tanya Elvan melihat bajunya basah.
"Tadi basah di kamar mandi," jawab Tio sekenanya saja.
"Aku kasini karena ada yang mengatakan jika Calista sakit."
"Siapa? Supir papa?"tanya Tio.
"Iya, Pa. Calista-nya mana,Pa?" tanya Tio.
Belum sempat Tio menjawab, terdengar suara Calista memanggil namanya.
"Daddy, kenapa lama banget ambil bajunya," ucap Calista. Wanita itu keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang cuma menutupi dari dada hingga pangkal paha.
Calista kaget saat melihat ada Elvan.Tio dan Elvan memandangi Calista tanpa kedip. Tio menarik selimut di atas kasur dan berjalan cepat mendekati istrinya. Tio menutupi tubuh Calista.
Tio meminta Calista masuk ke kamar mandi lagi. Setelah itu keluar dengan cepat mengambil baju Calista. Tio membantu Calista berpakaian. Tak lupa Tio juga mengganti pakaiannya.
Elvan menarik napasnya setelah Tio dan Calista masuk kembali ke kamar mandi. Tidak berapa lama keduanya keluar setelah rapi berpakaian.
Tio membantu Calista naik ke tempat tidur. Semua yang dilakukan Tio, tidak luput dari perhatian Elvan.
Papa tampaknya memang sangat mencintai dan menyayangi Calista. Pantas Calista bisa cepat mencintai Papa dan melupakan aku. Calista langsung jatuh cinta saat melihat Papa pertama kali.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung*