
Tio membuka pintu perlahan. Calista yang berdiri di samping ranjang Elvan menjadi kaget.
Calista spontan menjauh dari Elvan dan mendekati Tio. Pria itu mengusap rambut Calista dengan penuh kasih sayang.
"Pasti udah lapar banget,ya?" tanya Tio.
"Yupp," ucap Calista memeluk pinggang Tio.
Calista takut Tio menjadi salah paham melihatnya berdiri di dekat ranjang Elvan.
"Tadi Elvan haus, aku bantu ambilkan," ucap Calista sambil memeluk Tio.
"Tidak apa. Elvan sekarang juga anakmu," ucap Tio dengan tersenyum.
Elvan melihat semua interaksi Calista dan Tio tanpa kedip. Dalam hatinya berkata, jika mulai hari ini dia harus belajar ikhlas karena Calista telah bahagia bersama papa-nya.
Elvan, tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan Calista dan papa-nya. Cukup sudah selama berhubungan dirinya membohongi Calista. Bukankah ini semua juga terjadi karena kesalahan dirinya.
Elvan mencoba memejamkan matanya dan mengabaikan Calista dan papa-nya.
"Aku cuma dapat nasi goreng ini. Semua udah pada tutup. Udah hampir pagi'kan?"
"Nggak apa, Dad."
__ADS_1
Tio membuka bungkusan nasi goreng dan menyuapi Calista. Setelah nasi goreng habis separuh, Calista sudah tidak mau lagi.
"Udah kenyang. Buat Daddy aja."
"Kamu akhir-akhir ini malas makan. Takut gemuk?" tanya Tio.
Biasanya Calista selalu makan dengan lahap dan tidak pernah peduli dengan tubuhnya. Sehari kemarin, Calista tidak ada menyentuh makanan. Baru nasi goreng ini.
"Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Tio lagi. Dia kuatir Calista sakit lagi.
"Tidak ada."
"Jika merasa ada yang sakit, jangan kamu pendam aja. Aku nggak mau kamu masuk rumah sakit lagi."
"Tuh'kan? Apa sakitnya terasa berat? Dimana yang sakit?" tanya Tio sambil mengusap kepala Calista.
"Cuma pusing. Mungkin karena mau datang bulan. Awal bulan biasanya aku menstruasi."
"Aku tau, setiap menstruasi kamu akan merasakan sakit. Besok kita perlu ke dokter periksa. Aku ingin tahu penyebab sakit yang kamu rasakan itu."
"Biasa wanita yang awal menstruasi merasakan sakit perut, atau keram. Sakit kepala juga."
"Tapi aku ingin tahu penyebab pastinya.Sekarang tidurlah. Nanti kepalanya makin terasa sakit. Mumpung di rumah sakit, pagi kita periksa ke Dokter."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Aku malas kalau nanti di suruh minum obat. Pahit," ucap Calista.
"Kalau begitu kamu tidurlah. Sini kepalanya, dipahaku saja."
Calista membaringkan tubuhnya dengan kepala berada di paha Tio. Pria itu mengusap rambut Calista hingga wanita itu terlelap. Setelah yakin Calista telah tidur nyenyak, Tio memindahkan kepala Calista ke bantal.
Tio mendekati ranjang Elvan dan mengambil kursi. Tio duduk di samping ranjang Elvan. Tio tahu dari tadi Elvan mencuri pandang apa yang dirinya lakukan dengan Calista. Tio juga tahu saat ini Elvan hanya berpura-pura tidur.
"Papa tahu, mungkin masih sulit bagimu menerima pernikahan papa dan Calista. Namun Papa sangat berharap kamu mulai belajar mengikhlaskan Calista. Bagaimanapun saat ini Calista telah menjadi istri papa dan itu berarti dia ibumu."
Tio melirik ke arah Elvan, tampak anaknya itu membuka matanya perlahan. Tio tersenyum ke arah Elvan.
"Maafkan Papa jika karena keputusan papa menikahi Calista melukai hatimu, tapi cinta itu tidak bisa kita paksakan. Cinta terkadang datang tidak Terduga. Saat kita ingin lari dan melupakan semuanya, cinta hadir. Namun, kadang saat kita membutuhkan, cinta itu pergi meninggalkan kita. Sekuat apapun kamu genggam jika dia bukan jodohmu pasti akan lepas juga, dan sejauh apapun kau berlari jika dia jodohmu pasti akan bertemu."
Elvan hanya mengangguk mendengar ucapan Papa-nya yang panjang.
"Mungkin Calista memang bukan jodohmu. Papa yakin Tuhan telah menyiapkan jodoh pengganti yang tidak kalah baiknya dengan Calista. Cobalah kamu berubah,gaya hidupmu jangan sebebas saat ini. Jodoh itu pasti akan datang menghampiri kamu."
Tio memukul pelan lengan Elvan. Dia yakin anaknya itu pasti secara perlahan akan mulai melupakan Calista.
...****************...
Bersambung.
__ADS_1