
Tio mengajak Elvan duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Sementara Calista membaringkan tubuhnya, ingin istirahat.
"Sakit apa Calista, Pa. Apa kandungannya baik-baik aja?" tanya Elvan.
"Semua karena salah Papa dan Mama," jawab Tio.
"Apa hubungannya dengan Papa dan Mama?"
"Karena kesalahan masa lalu."
Tio lalu menceritakan dengan Elvan apa yang terjadi di masa lalu. Di mana mama-nya Elvan dan dirinya pernah tanpa sengaja menanbrak kedua orang tua Calista yang menyebabkan keduanya meninggal dunia.
Elvan yang mendengar cerita papa-nya menjadi kaget. Elvan memang tahu dari Calista jika kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, tapi tidak pernah dia duga jika kedua orang tuanya penyebab kecelakaan itu.
"Kenapa Papa dan Mama saat itu tidak menemui Calista dan meminta maaf secara langsung."
"Itulah kesalahan Papa. Seharusnya kami tetap menemui ahli waris. Papa saat itu berpikir jika anak sekecil Calista tidak atau belum mengerti apa-apa. Namun, pemikiran itu salah. Justru anak sekecil itu yang memiliki trauma lebih besar. Mereka akan membawa kisah duka itu hingga akhir hidup," ucap Tio lirih.
"Calista sering cerita denganku, sejak kedua orang tuanya meninggal, tidak pernah lagi dia mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Tante-nya sedikit kejam. Buat jajan aja Calista harus bekerja dengan menjual kue milik tetangga."
"Kamu serius Elvan?" tanya Tio.
"Serius,Pa.Aku rasa tidak mungkin Calista berbohong. Itulah sebabnya dia ingin jauh dari tantenya saat kuliah. Dekat ataupun jauh, tetap saja dia mencari uang sendiri buat makan."
"Padahal Papa memberikan uang santunan yang cukup untuk sekolahnya hingga perguruan tinggi."
__ADS_1
"Aku rasa uang itu hanya buat tante-nya. Calista pasti tidak tau."
"Mungkin. Papa juga berpikir begitu. Makanya papa ingin ke kampung Calista. Ingin pastikan orang yang menerima santunan itu tante-nya."
"Itu lebih baik, Pa."
"Papa bukannya ingin menuntut, hanya ingin memastikan."
"Jadi Daddy memberikan uang dengan tanteku?" tanya Calista.
Tio dan Elvan kaget mendengar suara Calista. Mereka serempak memandang ke arah wanita itu.
"Duduklah dulu. Jangan berdiri lama-lama. Nanti kamu pusing lagi," ucap Tio. Calista berjalan dan duduk di samping Tio.
"Iya, Sayang. Apa tante kamu tidak pernah cerita semua itu?" tanya Tio dengan suara pelan. Tio takut ini akan menjadi pikiran bagi Calista.
"Tapi kamu jangan pikirkan itu dulu. Besok setelah kamu sembuh, kita akan ke kampung, menemui Tante kamu itu."
"Kenapa Tante tidak pernah mengatakan semua itu hingga saat ini. Jika dulu aku masih kecil, bisa dimaklumi. Seharusnya saat aku duduk dibangun sekolah menengah, tante mengatakan semuanya. Aku bukan marah karena tante menggunakan uang itu. Yang membuat aku kesal, tante tidak jujur. Aku juga berhak tau semuanya itu'kan, Daddy?" tanya Calista.
"Iya, sayang. Nanti kita bisa tanyakan alasan tante kamu. Aku juga tidak akan menuntut, hanya ingin tau."
"Elvan, apa kabar?" tanya Calista mengalihkan topik pembicaraan. Sebenarnya hati Calista masih sedih, teringat kembali saat kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya secara mendadak.
Sebelum kecelakaan terjadi, kedua orang tua Calista baru saja mengantarnya ke sekolah. Hingga sore, Calista menunggu tidak ada orang tuanya menjemput. Calista kecil akhirnya menemui salah satu guru.
__ADS_1
Guru kaget saat tahu, Calista belum pulang. Salah satu guru mengantarnya pulang. Sampai di rumah Calista melihat rumah kontrakannya telah ramai dengan pelayat.
Calista masuk ke rumah dan melihat kedua orang tuanya yang telah terbujur kaku di tengah ruang tamu ditutupi kain panjang. Calista yang sudah mulai mengerti berlari mendekati kedua jenazah ayah dan ibunya. Tangisannya pecah, memenuhi ruangan.
Dunia seakan runtuh, Calista tetap menangis histeris hingga suaranya hilang. Dia hanya bisa terisak saat jenazah kedua orang tuanya dikafani.
Malam hari jenazah dikuburkan. Tetangga tidak bisa menunda karena korban kecelakaan, takut tidak baik. Malam setelah selesai penguburan barulah tante dan om Calista datang dari kampung.
Sejak hari itu, tidak pernah lagi Calista merasakan kebahagiaan.
...****************...
Bersambung.
Selamat siang. Mama kembali bawa rekomendasi karya dari anak online. Bisa mampir sambil menunggu novel ini update.
Judul novel : Nothing is Perfect
Laras tahu kalau dirinya sangat beruntung dicintai oleh laki-laki sempurna seperti Guntur. Namun, karena mengira kalau dirinya hanya beruntung. Laras sering kali tidak percaya diri dan selalu overthinking kepada suaminya.
Dia tahu, Guntur hanya jatuh cinta padanya. Namun, disaat dia melihat potret suaminya bersama wanita yang sangat cantik di majalah model, membuat Laras insecure.
Bisakah, wanita itu bertahan di saat terjangan rasa tidak percaya diri selalu menggerogoti dirinya?
__ADS_1