
Elvan menatap mamanya dengan tajam. Dia juga menatap Aldo yang duduk dengan menunduk.
"Jika Aldo emang anak teman mama, buktikan sekarang dihadapanku. Aldo, cepat hubungi orang tuamu. Biar mamaku bicara dengan mama kamu!" ucap Elvan masih dengan suara tinggi.
"Apa maumu, Elvan?" tanya mama Tari. Dia berdiri dari duduknya.
"Pembicaraan ini tidak ada gunanya. Kamu boleh menyimpulkan apa saja. Terserah! Aldo, ayo kita pergi." Mama Tari mengajak Aldo pergi. Pria itu berdiri dari duduknya.
Baru beberapa langkah Aldo dan Mama Tari melangkah, bajunya Aldo ditarik Elvan. Pria itu melayangkan bogem mentah ke wajah Aldo.
"Kamu jujur saja, apa hubunganmu dengan mamaku?" teriak Elvan. Semua pengunjung restoran memandangi mereka.
"Apa yang ingin kamu ketahui? Tanpa aku jawab, kamu pasti tau. Bukankah kamu udah menyimpulkan sendiri!" ucap Aldo sambil memegang wajahnya yang terasa perih bekas tonjokan Elvan.
"Apa kamu tidak malu menjual tubuhmu pada wanita yang pantas jadi ibumu hanya demi uang!" teriak Elvan.
__ADS_1
"Sudah, Elvan. Cukup! Kamu membuat mama malu. Apa tidak bisa kamu bicara baik-baik?" tanya mama Tari.
"Aku sudah tanyakan baik-baik, tapi mama tidak menjawab dengan jujur. Terus apa aku salah jika melakukan ini."
"Jangan menghakimi mama atau Aldo. Apa kamu pikir mama tidak tahu yang kamu lakukan dengan Meidi? Jangan sok suci, Elvan."
"Walau aku melakukan hubungan badan dengan Meidi, tapi tidak sehina yang Mama lakukan dengan pria ini. Aku dan Meidi masih sendiri, belum ada ikatan. Kalau Mama udah berkeluarga. Yang lebih memalukan, Mama melakukan dengan berondong. Aku sebagai anak malu melihatnya!"
Tari kembali melayangkan tamparan ke wajah Elvan. Tangan Elvan yang memegang baju Aldo dilepaskan. Elvan memandangi mamanya dengan tajam.
Selama ini aku pikir kesalahan hanya ada pada Papa. Ternyata mama lebih be*jat dari Papa. Apakah selama ini papa udah mengetahui kelakuan Mama sehingga memilih menikah lagi dengan Calista.
"Aku malu mengakui mama sebagai ibuku. Kenapa kalian melahirkan aku jika hanya akan ditelantarkan begini? Kau sibuk dengan berondongmu, dan Papa sibuk dengan dunianya. Sekarang apa lagi, Papa sibuk dengan istri mudanya," ucap Elvan dengan menghapus air matanya.
"Kenapa kau tidak bunuh saja aku saat dilahirkan jika akhirnya kalian menelantarkan aku. Sejak umur 10 tahun, tidak pernah sekalipun kau sebagai ibu memeluk aku lagi walau aku sakit. Mengapa aku dibiarkan hidup? Mengapa aku disusui? Karena seandainya aku mati pada saat dilahirkan, sekarang ini aku sudah tenang, tertidur dan beristirahat. Tidak merasakan penderitaan hidup ini!" teriak Elvan lagi.
__ADS_1
Tari dan Aldo juga Meidi hanya terdiam mendengar ucapan Elvan. Begitu juga tamu lain yang mendengarnya. Semua ikut merasakan kesedihan Elvan.
"Andai aku dapat memilih! Mau menjadi siapa dan melakukan apa. Aku akan memilih tidak untuk dilahirkan. Aku tidak ingin menjalani hidup tanpa kejelasan dan tidak ingin menjadi beban bagi siapapun yang ku kenal. Terutama beban bagi kedua orang tuaku. Pernahkah Mama atau papa bertanya, kenapa aku tidak makan, kenapa aku tidak pulang, kenapa aku begini, kenapa aku menjadi seperti saat ini. Kalian orang tua egois. Hanya memikirkan kesenangan masing-maaing. Aku benci kalian."
Elvan berjalan perlahan meninggalkan Mamanya. Meidi mengikuti dari belakang. Saat akan masuk ke mobil, Elvan melarang Meidi ikut.
"Maaf, kamu pulang dengan taksi aja. Ini uangnya. Aku butuh waktu sendiri," ucap Elvan.
"Tapi kamu sedang emosi. Tidak baik mengendarai mobil sendiri."
"Aku bisa menjaga diriku."
Elvan masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan halaman hotel. Meidi menatap kepergian Elvan dengan perasaan takut dan cemas.
...****************...
__ADS_1
Bersambung