
Tio membuka pintu kamar hotel itu dengan perlahan. Tio takut Calista masih tidur dan akan mengganggu waktu tidurnya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Tio naik ke ranjang dengan pelan. Dilihatnya wajah Calista yang sedikit pucat.
Tio mengecup dahi Calista dengan lembut, takut wanita kesayangannya itu terbangun. Diusapnya rambut Calista.
"Aku mencintaimu apa adanya, semua yang telah kamu lakukan, dan semua yang kamu akan lakukan. Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi."
Tio membaringkan tubuhnya di samping Calista. Tidak berapa lama Tio terlelap. Jam tujuh pagi, saat matahari mulai menyinari bumi, Calista terbangun.
Di lihat kesamping, tampak Tio yang tidur dengan tenang. Calista mengusap wajah Tio dengan lembut.
"Cinta sebenarnya tak memandang materi dan perbedaan. Tapi perjuangan untuk mempertahankan. Mencintai bukanlah tentang memberikan yang terbaik dalam kelebihan, tetapi memberikan yang terbaik dalam kekurangan. Cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna."
Tio membuka matanya perlahan, dan tersenyum melihat Calista yang telah terbangun. Tio memiringkan tubuhnya menghadap Calista.
"Gimana? Apa yang masih terasa sakit?" tanya Tio.
"Cuma masih terasa lemah aja,Om."
"Jangan panggil Om lagi dong. Kamu itu sekarang adalah istri aku," ucap Tio mencubit sedikit hidung Calista.
"Aku harus panggil apa? Kakak, Mas atau abang? Kok geli rasanya, Om. Masa dipanggil gitu?" ucap Calista dengan tertawa.
Tio ikutan tertawa. Dia senang istri kecilnya bisa tertawa karena itu akan mengurangi tingkat stresnya.
"Mulai hari ini, siapapun dan apapun itu yang membuat kamu banyak pikiran katakan padaku. Jangan dipendam. Akan membuat kamu sakit, seperti saat ini."
"Emangnya aku sakit apa, Om?"
"Kamu itu demam psikogenik."
"Apa itu demam psikogenik?" tanya Calista lgi.
"Demam psikogenik merupakan peningkatan suhu tubuh yang disebabkan oleh stres. Kondisi ini juga kadang disebut dengan hipertermia akibat stres. Demam psikogenik didiagnosis ketika suhu tubuh mencapai 37 derajat Celcius atau lebih saat seseorang mengalami stres akut atau kronis tanpa penyebab demam secara fisikStres kronis dan paparan peristiwa emosional dapat menyebabkan demam psikogenik," ucap Tio.
Tio menjelaskan semua dengan suara lembut, seperti bicara dengan anak kesayangannya. Tio mengusap rambut Calista.
__ADS_1
"Demam psikogenik dapat terjadi pada siapa saja yang sedang stres, tetapi paling sering menyerang wanita muda. Aku tau kalau kamu tertekan mendengar ucapan-ucapan temanmu di kampus."
"Om tau semuanya?"
"Aku juga tau siapa dalang semuanya. Yang paling membuat kamu tertekan pasti karena sahabatmu yang juga tidak bisa menerima pernikahan kita."
"Om selalu aja berkata jangan dengarkan omongan orang. Aku punya telinga, aku juga punya hati dan perasaan, bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan semuanya. Setiap mata di kampus seolah memandang aku ini kotor, karena aku pelakor," ucap Calista terisak.
Tio memeluk Calista, membawa kepala wanita itu terbenam di dadanya.
"Maafkan aku yang membuat kamu jadi dihina dan dijauhi teman-temanmu. Aku juga tidak bisa melindungi kamu."
"Semua ini bukan salah Om. Waktu aja yang nggak berpihak pada kita. Kenapa aku bertemu saat Om masih memiliki seseorang."
"Jatuh cinta bukan seperti membuat alur cerita, dimana kita bisa mengatur apa yang akan terjadi pada cerita yang kita buat. Kita tidak dapat mengarahkan cinta itu kepada siapa saja, cinta sendirilah yang akan mencari jalannya kepada siapa ia seharusnya berlabuh," ucap Tio.
"Saat kamu jatuh cinta kepada seseorang yang sudah memiliki pasangan, apa itu salah? Jawabannya adalah Cinta tak pernah salah, tindakkan yang kita lakukanlah yang bisa menjadi masalah. Memang membingungkan jika kita jatuh cinta pada seseorang yang sudah mempunyai pasangan apakah kita melanjurkan hubungan itu atau berhenti dan melupakannya?" tanya Tio
"Jangan pernah menyerah, karena cinta itu anugerah. Teruslah melangkah, buktikan pada mereka yang mencibir jika kita saling mencintai bukan hanya sekadar napsu untuk memiliki."
"Iya, Om."
Tio memanggil perawat yang tidur di kamar sebelah. Perawat itu memeriksa tubuh Calista.
"Suhu tubuh udah normal, begitu juga tensi. Hanya tinggal pemulihan saja, Pak," ucap perawat itu.
"Apa aku boleh mandi? Gerah banget," ucap Calista.
"Boleh, tapi sebaiknya memakai air hangat dulu. Agar tidak kembali demam. Biar saya matikan dulu jalannya infus agar tidak mengganggu saat mandi."
"Saya nggak mau di infus lagi."
"Bagaimana? Apakah boleh infusnya di tanggal?" tanya Tio.
"Baiklah, tapi ibu harus makan dan minum teratur. Ibu juga jangan lupa minum obat dan vitaminnya."
"Baiklah, kalau hanya itu."
__ADS_1
"Aku yang akan memaksanya makan," ucap
Tio.
Perawat itu menanggalkan jarum infus yang ada di pergelangan tangan Calista. Tio memeluknya agar Calista tidak takut.
Setelah jarum infus ditanggalkan, perawat itu pamit dengan Tio dan Calista.
"Baiklah, Pak. Buk, saya pamit dulu. Jika dibutuhkan, panggil saja saya."
"Baik, terima kasih."
"Terima kasih kembali, Pak, Buk!"
Setelah mengucapkan terima kasih, perawat itu meninggalkan kamar Tio dan Calista.
"Sarapan atau mandi dulu?" tanya Tio.
"Mandi dululah, biar segar dan ada selera makan."
"Oke," ucap Tio.
Tio menggendong Calista ala bridal, dan menurunkan di closet yang telah ditutup. Setelah itu Tio membuka satu persatu kain yang melekat di tubuh Calista hingga tersisa segitiga pengamannya.
Tio memandikan Calista dengan teliti dan penuh kasih sayang seperti memandikan anak bayi.
Calista melihat keringat dingin mengucur ditubuh Tio. Pria itu juga tampak sesekali menarik napas dalam ketika memberikan tubuh Calista terutama bagian-bagian yang tertutup.
"Kenapa Om berkeringat begitu. AC hidup. Aku rasa udara nggak terasa panas," ucap Calista dengan wajah keheranan.
"Udara emang nggak panas, Calista. Suhu tubuhku yang panas. Aku harus menahan hasratku padamu. Apa kamu tau ini sangat menyiksa? Aku yang udah lama nggak melakukan hubungan, menjadi candu saat melakukan denganmu. Seperti awal melakukan dulu. Saat ini aku menginginkan kamu. Tapi aku harus menahannya," ucap Tio.
"Maaf, aku nggak tau. Kalau gitu biar aku mandi sendiri. Om keluar aja," ucap Calista dengan mimik menyesal.
"Mana mungkin aku membiarkan kamu mandi sendiri. Aku bisa menahannya selama bertahun-tahun, tentu saja dua atau tiga hari lagi aku menahannya bagiku tak masalah."
Tio berjongkok dihadapan Calista, sehingga wanita itu langsung merapatkan bagian inti tubuhnya yang tepat berada di depan wajah Tio. Calista tidak ingin Tio akan bertambah tersiksa ketika melihat inti tubuhnya. Melihat tingkah istri kecilnya itu, Tio tidak bisa menahan tawanya. Tio sudah tidak bisa menahannya, dibenamkan kepalanya ke dada Calista yang dalam keadaan polos.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung