
Judika segera keluar dari kamar karena melihat kedatangan Nurul dan Liana dari dalam kamar untuk menyambut mereka. Nurul dan Liana melihat Judika yang berdiri di depan pintu kemudian keduanya menghampiri Judika. Liana berjalan di belakang Nurul dengan perlahan dan sedikit takut karena dia tidak pernah sekalipun ke tempat seperti itu dan hal itu menjadi pengalaman pertama nya.
"Li, kamu di kamar itu ya. Langsung masuk aja, maaf ya kamu sendirian di dalam." ucap Judika sambil menunjuk kamar yang sengaja dia pesan khusus untuk Liana tapi tidak berada di samping kamar Judika dan Nurul, masih berjarak 1 kamar lagi.
Liana pun mengikuti arah telunjuk tangan Judika dan terlihat disana berjejer-jejer pintu kamar yang tertutup rapat.
"Trus ngapain aku di kamar sendirian Mas?" tanya Liana dengan polosnya.
"Ya terserah kamu mau ngapain, tidur aja gak apa-apa nanti kalau kita sudah selesai biar dibangunin Nurul." jawab Judika.
Akhirnya dengan terpaksa Liana mengikuti apa yang diperintahkan Judika kepadanya. Karena untuk pulang pun Liana tidak bisa, jarak hotel dengan rumah mereka cukup jauh apalagi Liana yang saat itu belum bisa naik motor tidak mungkin akan membawa pulang sendiri motor Nurul, pasti nanti akan banyak pertanyaan jika dirinya tidak pulang bersama Nurul khususnya pertanyaan dari Bagus dan Ibu Parni.
Liana segera masuk ke dalam kamar dan terlihat disana ada ranjang dengan ukuran sedang, sebuah meja yang diatasnya ada tv tabung berukuran sedang dan kursi juga sebuah kamar mandi di dalam kamar tersebut. Dan semuanya berukuran kecil. Liana pun menutup pintu dan menguncinya kemudian dia berbaring lalu menyalakan tv untuk mengurangi kesepian karena dia bingung akan melakukan apa di kamar tersebut.
Tidak berapa lama ada yang mengetuk pintu kamarnya. Liana terdiam sebentar memastikan pendengarannya apakah benar pintunya diketuk oleh seseorang. Dan benar saja ketukan tersebut terdengar lagi, kemudian Liana segera bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu. Membuka kunci kemudian menarik handel pintu sedikit sehingga terlihat seorang lelaki yang berdiri di luar dengan berpakaian seragam hotel tempat itu. Liana mengerutkan keningnya karena tidak tahu maksud kedatangan petugas hotel ke kamarnya.
"Ada apa ya Mas?" tanya Liana dengan takut, dengan posisi masih berdiri di dekat pintu dan membukanya sedikit.
Liana berpikir bahwa mungkin saja Judika belum membayar kamar yang saat ini disewa untuknya itu sehingga petugas hotel mendatanginya untuk menagih biaya sewanya. Jika hal itu benar terjadi Liana bingung harus bagaimana karena dia sendiri tidak memiliki uang karena belum bekerja, dan saat itu saja dia sedang beralasan mencari pekerjaan.
"Ini Mbak mau mengantar handuk." jawab petugas tersebut yang bername tag Joko di baju seragam yang dia pakai sambil menyerahkan sebuah handuk yang terlipat rapi dan wangi kepada Liana.
Liana pun dengan ragu menerimanya dan mengucapkan terima kasih meskipun dia sendiri tidak tahu kenapa diberi handuk bersih. Sebelum pergi Joko kembali bertanya kepada Liana.
__ADS_1
"Kog sendirian saja Mbak? Mas nya gak ada?" tanya Joko, entah itu benar sebuah pertanyaan atau hanya ingin meledek Liana saja.
Liana pun tidak menjawab dia hanya tersenyum kemudian segera menutup pintu kamarnya, tetapi dia merasa bahwa Joko memang sengaja mengejeknya apalagi Liana tahu jika hotel tersebut memang hotel tempat biasa orang berbuat mesum. Joko pun segera pergi dari kamar Liana karena melihat pintu yang sudah ditutup oleh Liana bahkan dikunci dari dalam.
...----------------...
Sedangkan di kamar sebelahnya lagi, terlihat Judika yang memasang wajah masam sambil berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya. Nurul pun mendekati Judika dan duduk di samping Judika.
"Kenapa Beb kog mukanya murung gitu?" tanya Nurul.
Tetapi Judika tidak menjawabnya dia masih saja fokus dengan ponselnya. Judika sengaja seperti itu karena dia ingin menunjukkan kepada Nurul bahwa dirinya cemburu ketika melihat Nurul yang berciuman di depan rumah dengan suaminya, padahal itu hanya ciuman sekilas dan bahkan Nurul dan Bagus adalah pasangan yang sah. Dan rasa cemburu Judika pun tidak beralasan.
Melihat Judika yang sedang dalam mode protes pun membuat Nurul paham dan mengerti. Entah kenapa Nurul lebih bisa memahami Judika daripada suaminya sendiri. Karena mungkin memang rasa cinta keduanya yang sama besar.
"Kamu cemburu?" tanya Nurul sambil merebut ponsel Judika dan menyembunyikan dibelakang tubuh Nurul.
Nurul tersenyum manis kepada Judika kemudian tanpa aba-aba segera naik ke atas tubuh Judika dan dengan penuh nafsu mencium bibir Judika. Nurul sengaja menye-sapnya dengan dalam dan memainkan lidah Judika untuk membangkitkan gairah Judika dan membuat Judika tidak marah lagi.
Judika sebagai lelaki normal pun mulai terpancing gairahnya, dia membalas ciu-man Nurul dengan tidak kalah bernafsunya. Tidak lupa tangan Judika bergerak membuka seluruh kain yang menempel ditubuh Nurul satu persatu. Nurul pun tersenyum di dalam ciu-mannya karena berhasil membuat Judika tidak marah lagi. Nurul pun melakukan hal yang sama, dia pun membuka pakaian Judika.
Keduanya saat ini sudah tanpa sehelai benang pun, Nurul menjeda ciu-mannya tetapi posisinya masih tetap berada di atas tubuh Judika.
"Uda jangan marah lagi ya Beb." ucap Nurul sambil menatap ke dalam mata Judika yang sudah penuh dengan kabut gairah tersebut.
__ADS_1
Judika tidak menjawabnya dia sedikit menyingkirkan Nurul yang berada di atas tubuhnya, dan turun dari ranjang. Sekarang posisi Judika berada di samping ranjang tetapi Nurul masih berada di atas ranjang. Dengan sigap tangan Judika menarik pelan kepala Nurul dan diarahkan ke alat tempurnya yang sudah tegak menantang tersebut. Nurul tahu apa yang menjadi tugasnya saat itu. Dia segera memasukkan alat tempur Judika dengan perlahan ke dalam mulutnya. Dan tentu saja sensasi hangat dan nikmat segera menjalar ke seluruh tubuh Judika.
"Ahhh.. Hhmmmm..." Judika segera mengeluarkan suaranya begitu Nurul bermain begitu hebatnya dengan alat tempurnya. Dan hal itu yang sangat disukai oleh Judika.
Judika menggulung rambut Nurul yang terlihat begitu berantakan tetapi sangat seksi di mata Judika, kemudian dengan 1 tangan yang memegangi rambut Judika memaju-mundurkan kepala Nurul dan tentu saja membuat Nurul yang mulutnya penuh dengan alat tempur Judika pun menjadi maju mundur juga.
Setelah dirasa cukup, Judika segera memposisikan Nurul untuk tidur di ranjang dan segera saja Judika menindih tubuh Nurul yang sudah siap untuk dia gagahi. Judika meraba milik Nurul yang ternyata sudah sangat basah.
"Udah basah banget Sayang." bisik Judika sambil sedikit memberi hisapan di telinga Nurul agar membuat Nurul semakin bergairah.
Nurul pun men-desah sambil memejamkan mata menikmati apa yang dilakukan oleh Judika tersebut.
"Mau sekarang?" tanya Judika sambil terus meraba milik Nurul dan sengaja memperlambatnya.
Nurul pun bergerak tidak tahan lagi sambil menganggukkan kepalanya dan sangat jelas terlihat di wajahnya yang sudah sangat bergairah. Judika pun sangat mengerti akan hal itu, dan Judika sangat bisa membuat Nurul merasa enak dan puas. Tentu saja hal itu tidak Nurul temui ketika berhubungan dengan suaminya sendiri.
"Minta dengan benar Sayang." bisik Judika kemudian bibirnya turun menyusuri leher dan sampai di kedua bukit Nurul yang cukup besar tersebut.
...****************...
Huffttt... Tarik nafas dulu yok 🤭
Mau yang lebih hot lagi? 🤪
__ADS_1
Vote dulu jangan lupa 🙏
Tetap semangat 💪