
Judika cukup terkejut dengan cerita Hari, bagaimana dengan tegarnya Bagus bertanya kepada sahabatnya sendiri. Dan melalui itu semua membuat Judika merasa bersalah kepada Bagus. Tetapi juga Judika menyalahkan Bagus karena Bagus yang tidak bertanya langsung kepadanya juga istrinya sendiri yang hanya diam saja ketika mengetahui suaminya sudah berselingkuh dengan tetangganya sendiri.
"Kan aku uda bilang jangan bermain api." ucap Hari untuk kesekian kalinya menasehati Judika.
Judika hanya diam saja mendengar setiap perkataan Hari. Karena dia juga merasa bersalah sudah mengabaikan saran dari sahabatnya. Hari pun membiarkan Judika menyesali perbuatannya, hingga beberapa saat Judika terdiam.
"Trus aku harus gimana?" tanya Judika setelah beberapa saat terdiam.
"Ya untuk sementara jangan bertemu dengan Nurul dulu, entah dimana dan kapan atau sama siapapun. Karena nanti takutnya orang yang kalian ajak untuk bertemu itu akan menjadi korban keegoisan kalian berdua." jawab Hari dengan bijaksana.
Tiba-tiba saja Judika ingat tentang Liana, karena Liana pernah diajak Nurul untuk bertemu dengannya di hotel dan bahkan Judika sendiri yang menyewakan kamar sendiri untuk Liana selama dia menunggu dirinya dan Nurul yang sedang dikamar berbeda.
"Liana..!" seru Judika.
"Kenapa Liana?" tanya Hari, karena Hari tidak tahu jika Liana pernah diajak oleh Judika dan Nurul bertemu di hotel.
Akhirnya Judika menceritakan semua kejadian tersebut dan membuat Hari tidak habis pikir dengan jalan pikiran Judika.
"Kamu gila!" kesal Hari yang seketika memukul kepala Judika, tetapi Judika hanya diam saja tidak membalasnya sama sekali karena dia merasa pantas diperlakukan seperti itu.
"Itu anak orang! Kalau sampai ikut tersangkut dia yang gak tahu apa-apa gimana?" tanya Hari dengan kesal.
"Iya besok coba aku tanya ke dia." jawab Judika akhirnya.
Dan malam itu keduanya tidak bisa tidur dengan nyenyak hingga pagi menjelang. Untuk pulang ke rumah pun Judika merasa takut jika saja berita tentang dirinya sudah menyebar ke seluruh desa. Akhirnya Judika memilih untuk sementara di rumah Hari lebih dulu.
...----------------...
Siang hari nya karena merasa masih belum juga tenang, Judika pun menghubungi Liana. Karena Judika juga merasa tidak enak jika saja Liana ikut tersangkut karena perbuatannya. Saat itu Liana sedang tidur siang dirumahnya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
"Mas Judika? Ngapain telepon aku?" gumam Liana sambil duduk di ranjangnya dan menerima panggilan dari Judika.
"Halo Mas, ada apa ya?" tanya Liana begitu panggilan tersambung.
"Li, kamu dimana?" tanya balik Judika kepada Liana.
__ADS_1
"Aku lagi dirumah, tidur Mas. Kenapa?" tanya Liana penasaran, karena dari suara Judika terdengar sangat panik.
"Kamu gak dengar berita apa-apa di sekitar rumah?" tanya Judika lagi.
"Berita? Berita apa Mas? Aku gak denger apa-apa." jawab Liana apa adanya, bahkan dia sampai keluar ke teras rumah dan terlihat di sekitarnya sepi tidak ada keributan apapun.
"Kejadian kita ke hotel kapan hari itu ketahuan Li." ucap Judika memberi tahu berita yang beredar.
"Ha?! Kog bisa Mas? Trus gimana? Kalian gak apa-apa kan?" tanya Liana dengan kaget dan panik.
"Kemarin Bagus kerumah Hari tanya-tanya tentang aku sama Nurul tapi Hari jawab gak tahu apa-apa. Kamu gak ditanyai Bagus?" tanya Judika.
"Gak Mas, dari kemarin aku ketemu sama Mas Bagus juga dia gak bilang apa-apa." jawab Liana.
"Belum mungkin." ucap Judika.
"Trus aku harus jawab gimana nanti kalau Mas Bagus tanya Mas?" tanya Liana.
"Terserah kamu Li, kalau kamu mau jujur juga gak apa-apa. Justru aku yang minta maaf sama kamu karna uda bikin kamu terseret ke masalahku." jawab Judika.
"Trus ini kamu dimana Mas?" tanya Liana.
"Adalah, aku cari aman dulu sementara nanti kalau beritanya uda tenang aku pulang. Ya uda ya, sekali lagi maaf ya Li." jawab Judika, kemudian segera mematikan panggilan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Liana.
...----------------...
Sore harinya seperti biasa Liana bersantai di rumah, tapi tiba-tiba saja Bagus memanggilnya dari luar rumah.
"Li..!" panggil Bagus.
"Iya Mas." jawab Liana sambil keluar rumah menemui Bagus.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Bagus.
"Lagi nonton TV." jawab Liana.
__ADS_1
"Bisa bantu aku sebentar ke rumah, aku tunggu ya." ucap Bagus sambil berlalu ke rumahnya.
"Waduh jangan-jangan aku mau ditanya-tanya nih." gumam Liana sambil berjalan menuju rumah Bagus.
Di sana ternyata juga ada Ibu Parni, Ibu Sumi dan juga Bagus. Dan kebetulan saat itu Nurul belum pulang dari bekerja. Liana berjalan perlahan mendekati mereka.
"Sini Li." ucap Ibu Parni dan menyuruh Liana untuk duduk di kursi ruang tamu mereka, Liana pun mengikutinya.
"Kamu gak usah takut, kita cuma mau tanya-tanya aja kog." ucap Bagus.
Liana hanya menganggukkan kepalanya. Dan jujur saja Liana merasa takut dihadapkan dengan situasi seperti itu. Tapi bagaimanapun juga harus tetap dia hadapi.
"Apa benar kamu pernah diajak Nurul ke hotel untuk menemui Judika? Dan Judika menyewakan kamar sendiri buat kamu?" tanya Bagus.
"Darimana Mas Bagus bisa dapat info seperti itu?" tanya Liana ingin tahu siapa yang sudah membocorkannya karena setahu Liana hanya dirinya dan Wahyu saja yang tahu.
"Wahyu yang kasih tahu." jawab Bagus dengan jujur.
Terlihat Liana yang menghela nafas pelan, ternyata Liana salah menilai tentang Wahyu. Yang dia pikir bisa menyimpan rahasia tetapi ternyata Wahyu adalah orang yang suka mengumbar gosip.
"Memang benar kami bertiga pernah bertemu di hotel, tapi Mas Judika gak menyewakan aku kamar. Jadi kita bertiga berada di kamar yang sama." jawab Liana dengan tegas seolah ingin meyakinkan mereka semua yang berada di sana.
Dengan jawaban Liana seperti itu, artinya dia tidak memihak siapapun. Tapi juga sedikit membela yang bersalah karena tidak jujur terbuka apa adanya seperti kejadian yang sebenarnya.
"Ya sudah kalau begitu, kami cuma ingin tahu kejujuran kamu saja kog." ucap Ibu Parni.
Sedangkan Bagus dan Ibu Sumi hanya bisa menutup mulut mereka rapat-rapat. Karena Ibu Sumi cukup malu memiliki anak seperti Nurul yang sudah tega mengkhianati suaminya yang sudah begitu baik. Begitupun dengan Bagus dia juga merasa bersalah kepada Ibu nya karena sempat tidak percaya dengan perkataan Ibu nya bahkan selalu saja membela Nurul yang jelas-jelas bersalah.
"Kamu boleh pulang Li. Makasih ya." lanjut Ibu Parni mempersilahkan Liana untuk pulang karena selanjutnya akan mereka bahas secara kekeluargaan.
...****************...
Tetap semangat 💪
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏
__ADS_1