
Waktu terus berlalu, akhirnya Febri diminta Ibu Sumi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena sudah merusak rumah tangga Nurul dan Bagus. Febri pun menikahi Nurul beberapa bulan setelah dia bercerai dengan Bagus. Setelah menikah Febri membawa Nurul tinggal di kost nya supaya jauh dari desa yang sudah menjadi tempat tinggalnya sejak kecil. Selain itu Nurul pun terpaksa keluar dari tempat kerja karena sudah menjadi peraturan perusahaan bahwa jika ada sepasang suami istri yang bekerja di tempat itu maka salah satu harus keluar dari tempat kerja.
Nurul benar-benar menjalani kehidupannya menjadi seorang ibu rumah tangga. Dan tidak lama menikah dengan Febri, Nurul langsung hamil karena memang Febri tidak ingin menunda memiliki anak dengan Nurul.
Tetapi yang membuat Nurul sedih setelah bercerai dengan Bagus adalah karena Bagus tidak mengijinkan sekalipun atau sebentar pun Nurul untuk bertemu dengan Shasha anaknya. Bagus benar-benar melarang Nurul untuk mendekati anaknya dengan alasan Bagus tidak ingin anaknya terpengaruh kembali oleh Ibunya yang tidak baik menurut Bagus.
Febri yang sore itu baru saja pulang kerja melihat Nurul yang sedang menonton televisi. Tetapi pandangan mata Nurul kosong, memang dia menatap layar televisi tetapi Nurul tidak fokus sama sekali dengan apa yang dilihatnya. Apalagi kedatangan Febri pun Nurul tidak mengetahuinya.
"Lagi nonton apa Ma?" tanya Febri sambil memegang bahu Nurul dengan pelan, karena Febri takut jika Nurul terlalu terkejut dan membahayakan kehamilannya apalagi Febri tahu jika Nurul sedang melamun.
"Eh Pa, sudah pulang? Kog Mama gak tahu?" Nurul yang mendapat sentuhan dibahunya pun terkejut dengan kedatangan suaminya yang tidak dia ketahui.
Febri hanya tersenyum kemudian memilih duduk disamping Nurul.
"Masih memikirkan Shasha?" tanya Febri yang memang tahu apa yang dilamunkan oleh Nurul.
Nurul hanya terdiam, sebenarnya dia tidak ingin mengecewakan Febri. Disaat dirinya sudah menikah dengan Febri tetapi Nurul masih memikirkan Shasha anak dari pernikahan sebelumnya. Tetapi itu semua sudah menjadi hukum alam, seorang Ibu tidak bisa melupakan begitu saja anaknya sekalipun dipisahkan oleh jarak dan waktu.
__ADS_1
"Trus apa yang harus aku lakukan?" tanya Febri karena jujur saja Febri menikahi Nurul karena selain mencintainya Febri juga ingin membuat Nurul bahagia.
"Gak Pa, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk aku. Maafkan aku." jawab Nurul sambil memeluk Febri karena merasa bersalah dengan Febri.
Febri pun membalas pelukan istrinya itu dengan erat. Karena memang Febri mencintai Nurul dengan tulus dan berharap Nurul menjadi yang pertama dan terakhir untuknya begitupun dengan Nurul, Febri menjadi yang terakhir untuknya.
"Aku bersyukur memilikimu, aku bersyukur bisa dekat denganmu sepanjang hari tetapi aku harus merelakan untuk jauh dari anak ku sendiri." batin Nurul.
...----------------...
Shasha yang sekarang sudah dewasa, mengerti kemana dan bagaimana Ibu kandungnya sekarang. Karena memang setelah bercerai dengan Nurul, Bagus tidak berniat untuk kembali membina rumah tangga karena rasa trauma yang dia alami. Bagus hanya ingin fokus menjaga Shasha, tetapi ternyata seorang anak yang tumbuh dengan kasih sayang tidak lengkap dari orang tua akan merasa hidupnya berantakan sehingga dia cenderung akan melakukan hal yang menyimpang.
Meskipun Bagus selalu melarangnya untuk bertemu dengan Nurul tetapi Shasha nekat untuk bertemu dengan Nurul secara diam-diam. Bahkan Shasha sering membolos sekolah hanya untuk bertemu dengan Nurul. Padahal sebenarnya Nurul melarangnya berbuat begitu dan sudah menasehati Shasha terus-menerus tetapi karena memang Shasha anak yang susah diatur sehingga dia menjadi semaunya sendiri. Nurul pun sudah memiliki anak perempuan dengan usia yang masih kecil.
Seperti sore ini, Shasha baru saja pulang sekolah padahal sebenarnya dia membolos pergi bersama dengan teman-temannya tetapi setahu Bagus, Shasha sengaja membolos untuk menemui Nurul. Bagus tahu karena dia mendapat laporan dari pihak sekolahan memberitahukan bahwa Shasha kembali bolos sekolah.
"Kamu sebenarnya mau jadi apa? Kamu mau jadi kayak Mama kamu?" tanya Bagus dengan marah.
__ADS_1
Shasha pun menatap Papanya dengan tidak suka. Karena Shasha tidak mau Ibunya disebut Bagus seperti itu. Entah bagaimana Ibunya yang dahulu tetapi bagi Shasha, Nurul tetap Ibunya yang baik.
"Kenapa kamu tidak suka Papa ngomong seperti itu? Perlu kamu tahu memang kenyataannya seperti itu." tegas Bagus.
"Papa jahat! Shasha kira Papa bisa menjadi contoh yang baik buat Shasha, tapi ternyata sama saja!" jawab Shasha dengan marah kemudian segera berlalu pergi ke kamarnya meninggalkan Bagus seorang diri.
Bagus hanya terdiam, dia mencoba merenungkan apakah didikannya kepada Shasha selama ini salah karena Shasha tumbuh menjadi anak yang susah diatur. Apakah memang sesusah itu mengurus anak sebagai single parent?.
Sedangkan didalam kamar, Shasha hanya bisa menangis. Dia menyalahkan Tuhan karena sudah membuat hidupnya susah seperti ini. Sebenarnya Nurul sudah menyampaikan kepada Shasha jika memang Shasha ingin tinggal dengan Nurul dan Febri, keduanya menerima Shasha dengan senang hati dan tangan terbuka. Dan Shasha pun sudah pernah berbicara langsung kepada Bagus tetapi dengan tegas dan keras Bagus menolaknya dan melarangnya karena Bagus masih bisa dan sanggup untuk merawat Shasha seorang diri.
"Apa iya aku harus pergi diam-diam dari rumah? Trus apa aku harus ikut Mama? Tapi aku gak mau nanti Mama yang akan disalahkan karena perbuatanku." gumam Shasha ditengah isak tangisnya di dalam kamar.
...****************...
Tetap semangat 💪
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏
__ADS_1