
Beberapa hari berlalu, Hendrik masih saja memikirkan Nurul. Karena bagaimanapun perasaan Hendrik kepada Nurul memang tulus sehingga ketika berpisah Hendrik akan merasa sangat kehilangan.
Dan setelah mencari tahu siapa lelaki yang bersama Nurul di foto, akhirnya Hendrik mengetahuinya. Karena ketika di foto lelaki tersebut sedang menunduk dan tidak terlihat wajahnya. Tetapi Hendrik bisa mengenalinya melalui jaket yang dia pakai, dan Hendrik yakin jika lelaki itu adalah lelaki yang dimaksud oleh Hendrik dan dia adalah Judika yang merupakan tetangganya sendiri meskipun mereka beda RT.
Memang hampir setiap hari di depan rumah Judika sering dipakai untuk tempat nongkrong. Dan Hendrik malam ini sengaja ingin gabung di sana. Padahal biasanya Hendrik hampir tidak pernah ikut gabung karena dia akan biasa nongkrong dengan teman sesama RT nya. Tetapi tidak untuk kali ini. Karena Hendrik memang sengaja ingin bertemu dan melihat Judika secara langsung meskipun nanti dia tidak membahas apapun tetapi hal itu sudah cukup membuat Hendrik merasa lega.
"Wahh tumben kamu ke sini Hen?" tanya salah satu orang yang ikut nongkrong juga disana.
Seketika semua yang ada disana pun juga melihat Hendrik, begitu juga Judika dan Hari. Judika tidak begitu mengenal dekat dengan Hendrik meskipun mereka masih satu desa apalagi Judika juga tidak tahu jika Hendrik adalah mantan pacar Nurul, wanita yang pernah dia ajak jalan.
Hendrik hanya tersenyum saja kemudian menyalami semua yang ada disana tidak terkecuali Judika dan Hari juga. Hendrik sengaja menyalami Judika terakhir, dan ketika giliran Judika, Hendrik sengaja agak lama memegang tangan Judika dan sedikit meremasnya tetapi dengan mimik muka tersenyum. Judika sebenarnya merasa aneh dengan Hendrik tetapi dia membuang pikiran tersebut. Karena memang Judika belum mengenal Hendrik sehingga membuatnya berpikir positif tentang Hendrik.
Mereka pun menikmati malam dengan bermain gitar dan bernyanyi bersama. Meskipun suara mereka pas-pas an tapi tidak membuat mereka minder justru mereka terkadang bernyanyi tanpa sesuai nada. Dan tidak lupa mereka juga menyiapkan minuman alkohol untuk mereka minum bersama.
Hendrik sengaja minum terlalu banyak karena ingin membuat pikirannya tentang Nurul hilang. Karena menurut Hendrik hanya dengan mabuk bisa membuatnya lupa dengan Nurul.
Malam semakin larut, beberapa orang sudah pulang dan hanya tinggal satu orang, Hendrik, Hari dan Judika sendiri. Tetapi ketiganya tidak terlalu mabuk karena hanya Hendrik saja yang minum banyak sehingga membuatnya mabuk. Dan kebanyakan orang mabuk adalah berbicara jujur dari hatinya meskipun tidak jelas nada bicaranya.
"Dasar cewek uda dikasih cinta dengan tulus masih aja nyari yang lain." ucap Hendrik dengan kalimat yang tidak jelas.
"Kurang apa coba aku ini? Memangnya cowok lain itu dijamin lebih baik dari aku?" lanjut Hendrik yang masih uring-uringan sendiri.
Tetapi semuanya hanya mendiamkan saja karena berpikir bahwa orang mabuk pasti akan seperti itu. Tetapi semakin lama didiamkan, ucapan Hendrik semakin melantur dan seakan setiap ucapannya itu untuk Judika karena ketika berbicara Hendrik selalu menatap tajam ke arah Judika.
Awalnya Judika tidak merasa disindir tetapi lama kelamaan dia merasa bahwa setiap ucapan Hendrik adalah untuk dirinya.
"Maksud dia apa ngomong gitu?" tanya Judika yang merasa sudah hampir tidak terima dengan semua sindiran Hendrik.
"Uda lah gak usah diambil hati namanya juga orang mabuk kan." ucap salah satu teman yang masih ada disitu.
__ADS_1
Judika hanya diam saja kemudian dia masuk ke dalam rumah karena ingin ke kamar mandi. Dan tinggallah Hari, Hendrik dan juga salah satu teman mereka.
"Memangnya siapa yang dia maksud sih?" tanya Hari yang memang juga tidak tahu dengan apa yang Hendrik ucapkan.
"Dia kan diselingkuhi Nurul." jawabnya karena memang cukup dengan Hendrik dan tahu kisah cintanya.
"Nurul? Nurul anaknya Ibu Sumi?" tanya Hari memastikan, karena memang sebenarnya nama Nurul hanya dia saja.
"Iya lah siapa lagi." jawabnya santai.
"Wah gawat! Berarti bener donk dari tadi si Hendrik nyindir Judika. Memangnya Hendrik tahu kalau Judika jalan sama Nurul? Tapi kan memang Judika gak tahu apa-apa tentang Hendrik dan Nurul." batin Hari.
"Mendingan kamu ajak Hendrik pulang aja deh, kasihan udah mabuk berat tu." ucap Hari karena dia takut jika ucapan Hendrik semakin tidak jelas dan nantinya akan membuat keributan di tempat itu.
"Iya juga sih. Ya udah aku ajak pulang si Hendrik. Sampaikan Judika aku pamit." jawabnya.
"Iya nanti aku sampaikan." ucap Hari.
Tidak berapa lama Judika keluar kembali dari dalam rumah setelah dari kamar mandi.
"Kemana semuanya?" tanya Judika ketika melihat sudah sepi dan hanya tinggal Hari yang membersihkan teras rumah Judika.
"Hendrik udah mabuk berat." jawab Hari dan duduk di sebelah Judika ketika sudah menyelesaikan beres-beresnya.
"Emang yang dimaksud Hendrik tadi siapa sih?" tanya Judika yang masih penasaran.
"Beneran kamu gak tahu?" tanya Hari yang balik bertanya kepada Judika.
"Gak tahu lah, emangnya siapa dia kog aku harus tahu semua." jawab Judika sewot karena dia merasa kesal dengan ucapan Hendrik ketika mabuk.
__ADS_1
"Dia baru aja putus dari Nurul karena tahu Nurul selingkuh, makanya ngomong kayak gitu." ucap Hari yang mencoba memberitahu Judika.
Seketika Judika pun menoleh ke arah Hari karena terkejut dengan perkataan Hari.
"Nurul? Nurul yang kemarin aku ajak ke Tawangmangu?" tanya Judika memastikan.
Hari hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Judika.
"Brarti maksud Hendrik tadi selingkuhannya Nurul aku?" tanya Judika lagi.
"Bisa jadi." jawab Hari santai.
"Mampus deh! Pantes aja Hendrik sampai ngomong kayak gitu. Kayak gak ada cewek lain aja di desa ini." ucap Judika dengan menghela nafas panjang.
"Kayaknya Nurul emang bukan cewek baik-baik deh. Buktinya ternyata dia pacaran dengan Hendrik tapi dia bohong kan dan mau jalan sama kamu. Dan Hendrik jadi salah paham dia pikir kamu yang jadi selingkuhannya Nurul padahal kamu kan gak tahu apa-apa. Jangan sampai kamu kena batunya lagi." ucap Hari panjang lebar menasehati Judika untuk lebih hati-hati dalam memilih cewek, karena memang Hari menjadi sahabat Judika yang baik.
"Gak tahu lah, namanya orang suka itu susah dilawan." jawab Judika dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang didudukinya.
Hari seketika menoleh ke arah Judika karena merasa ucapannya yang panjang lebar tidak diterima dengan baik olehnya. Hari pun bangkit berdiri dan segera berjalan pergi dari rumah Judika.
"Hei! Mau kemana?" tanya Judika yang melihat kepergian Hari begitu saja.
"Pulang! Percuma aja ngomong sama orang mabuk." jawab Hari cuek dan terus saja berjalan kaki meninggalkan rumah Judika.
Judika hanya diam saja melihat kepergian Hari. Kemudian dia juga segera masuk ke dalam rumah dan beristirahat.
...****************...
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏