Selingkuhan Lima Langkah

Selingkuhan Lima Langkah
Cerai


__ADS_3

Bagus sampai dirumahnya dengan cepat dan saat dia memasuki halaman rumah Ibunya, Bagus menemukan pemandangan yang membuat hatinya teriris. Bagus melihat Ibunya sedang bermain dengan Shasha yang saat itu sudah tidak rewel lagi dan sudah cantik karena Ibu Parni yang mengurusnya dengan baik.


Ibu Parni menoleh ketika melihat dengan ekor matanya bayangan seseorang disampingnya. Ternyata itu adalah Bagus yang sebenarnya sudah ditunggu kedatangannya sedari tadi. Tapi karena Bagus memberi alasan bahwa ada urusan mendadak akhirnya Ibu Parni pun hanya bisa menunggu.


"Kamu sudah datang? Kog lama sekali? Mana Nurul? Kamu gak barengan sama Nurul?" banyak pertanyaan yang dilontarkan Ibu Parni kepada Bagus karena melihat Bagus yang hanya diam saja.


"Pa...pa...pa.." celoteh Shasha yang melihat kedatangan Papanya.


Bagus pun mengalihkan pertanyaan dari Ibunya, dia segera menghampiri Shasha yang sudah memberikan tangannya dan menandakan bahwa dia ingin digendong oleh Bagus. Bagus pun segera menggendong Shasha dan menciuminya. Shasha kecilpun hanya bisa tertawa karena merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Bagus.


"Papa berjanji akan selalu ada buat kamu dan menjamin hidup kamu bahagia nak." batin Bagus dengan masih menggendong anaknya.


Melihat hal itu membuat hati seorang Ibu tidak bisa dibohongi. Ibu Parni yakin bahwa ada sesuatu yang baru saja terjadi dengan Bagus apalagi Bagus yang tidak menjawab pertanyaan darinya ketika baru saja tiba. Entah apa itu Ibu Parni juga belum mengetahuinya.


"Shasha sama Om dulu ya, biar Papa nya mandi dulu." ucap Ibu Parni ketika melihat anaknya yang kedua lewat dan sengaja memberikan Shasha kepadanya karena ingin berbicara empat mata dengan Bagus.


Akhirnya Bagus pun memberikan Shasha dalam gendongannya kepada adiknya dan keduanya pun masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bagus dan Ibunya masih berada di halaman rumah mereka.


Bagus pun akan beranjak masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri karena Ibunya sudah memberi perintah secara tidak langsung kepadanya untuk mandi. Tetapi sebelum Bagus masuk kerumah, Ibu Parni segera menahannya.

__ADS_1


"Bagus, duduk sini dulu Ibu mau bicara sama kamu." ucap Ibu Parni sambil mengajak Bagus untuk duduk di kursi yang ada dihalaman rumah mereka.


Bagus pun menuruti perintah Ibunya, dan memang sebenarnya Bagus tahu apa yang akan ditanyakan oleh Ibunya. Bagus pun tidak mungkin akan menyimpannya sendiri karena pada akhirnya nanti semua pasti akan tahu.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa? Kamu berantem sama Nurul? Sampai Nurul gak mau ikut kamu pulang?" tanya Ibu Parni dengan menebak-nebak kemungkinan yang terjadi kepada anak sulungnya tersebut.


Bagus tidak langsung menjawab pertanyaan dari Ibunya, Bagus terdiam untuk beberapa saat. Karena jujur saja Bagus bingung harus memulai dari mana untuk mengatakan apa yang terjadi.


"Kamu punya Ibu, kamu gak perlu takut dan khawatir untuk menceritakan semuanya sama Ibu." lanjut Ibu Parni sambil menggenggam kedua tangan Bagus yang berada diatas meja dan seolah memberi kekuatan dan ketenangan kepada Bagus bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Bagus menatap Ibunya sebentar kemudian dia menghela nafas panjang sebelum menjawab ucapan Ibunya.


Meskipun berbeda keyakinan dengan Nurul tetapi Ibu Parni cukup tahu apa arti kata tersebut. Ibu Parni pun cukup terkejut dengan pernyataan dan pengakuan dari Bagus.


"Maksud kamu, kamu menceraikan Nurul? Tapi kenapa? Apa kamu gak kasihan sama Shasha? Dia masih kecil dan masih butuh sosok seorang Ibu." banyak pertanyaan kembali diungkapkan oleh Ibu Parni kepada Bagus.


Akhirnya Bagus pun menceritakan apa yang terjadi baru saja. Bagaimana Bagus datang ke tempat kerja Nurul dan menemukan tempat kerja yang sudah kosong, begitu akan pulang Bagus tidak sengaja melihat Nurul yang mengendarai motor dan terlihat menuju sebuah tempat yang tidak lazim bahkan bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya. Tidak hanya sampai disitu, bahkan Bagus menunggu hingga sore didepan hotel dan melihat dengan mata kepalanya sendiri Nurul keluar dari hotel bersama seorang laki-laki.


Mendengar cerita dari Bagus, membuat Ibu Parni terdiam. Jujur saja Ibu Parni tidak kaget dengan apa yang dilakukan Nurul. Karena ini bukan hal pertama dilakukan Nurul bahkan ini sudah kedua kalinya. Wajar saja jika Bagus tidak bisa mentolerir kelakuan Nurul karena hal ini sudah melebihi batas kesabaran dari keluarga Bagus.

__ADS_1


Ibu Parni pun menghela nafas perlahan dan menatap Bagus.


"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu? Shasha akan kehilangan kasih sayang dari orang tua yang tidak utuh lagi." tanya Ibu Parni.


"Bagus sudah yakin Bu, karena jika Bagus memaafkan lagi pasti kedepannya Nurul akan seperti itu lagi bahkan mungkin dengan orang yang lain lagi. Untuk masalah Shasha biar menjadi tanggung jawab Bagus." jawab Bagus dengan yakin.


Ibu Parni pun menganggukkan kepalanya dan setuju dengan keputusan yang diambil oleh anaknya. Karena bagaimanapun yang menjalani rumah tangga adalah Bagus, dan sebagai orang tua Ibu Parni tidak berhak ikut campur dengan permasalah rumah tangga anaknya tetapi hanya bisa memberi masukan yang baik dan berusaha membuat rumah tangga anaknya baik-baik saja. Tetapi jika sudah tidak bisa diselamatkan lagi maka keputusan ada ditangan anak-anak yang menjalani rumah tangga tersebut.


"Sebentar lagi mungkin Nurul akan datang, aku sudah menyuruhnya untuk kerumah dulu dan akan menyelesaikan semuanya." ucap Bagus.


"Iya sudah, Ibu percaya sama kalian berdua untuk mengambil keputusan."


Bersamaan dengan itu Nurul baru saja sampai di rumah mertuanya. Dan melihat mertuanya sedang duduk dihalaman bersama ayah dari anaknya. Nurul sebenarnya merasa takut dan malu atas apa yang sudah dia lakukan. Tetapi bagaimanapun juga Nurul harus tetap akan menyelesaikan masalah ini. Nurul pun segera turun dari motornya setelah dia memarkirkan di halaman dan berjalan menghampiri Ibu Parni dan Bagus yang sebenarnya memang sudah menunggu kedatangannya.


...****************...


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏

__ADS_1


__ADS_2