Selingkuhan Lima Langkah

Selingkuhan Lima Langkah
Kesepakatan


__ADS_3

Setelah Liana dipanggil ke rumah Bagus, Liana segera memberitahu Judika dan menceritakan semua yang terjadi. Dan dengan sikap gentleman nya Judika harus siap menghadapinya. Akhirnya Judika pun memilih pulang ke rumah. Dan kepulangan Judika disambut dingin oleh Erli. Erli hanya terus mendiamkan Judika ketika mereka berada dirumah dan Judika pun merasakan itu tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena merasa Erli berhak melakukan hal itu.


Dan bersamaan dengan itu Nurul pulang bekerja. Dia cukup terkejut dengan keberadaan Ibu nya di rumah nya. Begitu juga mertuanya yang juga berada dirumahnya. Sebenarnya Nurul juga sudah mendengar berita itu tapi Nurul mencoba untuk bersikap biasa selama dirinya tidak ditegur langsung oleh keluarga besarnya. Tapi dengan adanya Ibu nya di rumah nya sudah bisa menjelaskan bahwa hal itu akan terjadi.


"Bu.." sapa Nurul sambil menyalami Ibu Sumi dan mertuanya.


Kedua wanita paruh baya tersebut hanya diam saja tetapi masih mau menyalami Nurul.


"Duduk." suruh Ibu Sumi kepada Nurul.


Nurul pun menurut dan duduk di samping Bagus, sedangkan Ibu dan mertuanya duduk di depan mereka.


"Sekarang jawab jujur apa benar berita yang beredar itu?" tanya Ibu Sumi dengan tegas.


Ibu Sumi tidak akan membela anaknya selagi memang anaknya berbuat salah. Ibu Sumi akan bersikap tidak akan pilih kasih sekalipun itu anaknya sendiri.


"Berita apa Bu?" tanya Nurul yang masih berpura-pura tidak tahu.


"Baiklah kalau kamu tidak tahu, Ibu akan beritahu." jawab Ibu Sumi kemudian beliau terlihat menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali berbicara.


"Kamu dan Judika sudah berselingkuh! Kalian sering keluar masuk hotel bersama gak hanya sekali dua kali. Benarkan?" terang Ibu Sumi dengan tegas.


Mendengar itu Nurul hanya bisa menundukkan kepala dan terlihat menyesali perbuatannya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dirubah lagi.


"Maafin Nurul Bu.." ucap Nurul sambil bersimpuh di depan Ibu dan mertuanya sambil terisak.


"Maafin Nurul Mas.." ucap Nurul juga sambil menoleh kepada Bagus yang hanya diam saja disana.


Mereka terdiam untuk beberapa saat dan tidak ada yang bersuara sama sekali hanya terdengar isak tangis dari Nurul yang sedari tadi hanya bisa menangis.


"Sekarang kita ke rumah Judika, kamu minta maaf sama istrinya. Apa kamu siap Dek?" tanya Bagus, karena sedari tadi Bagus hanya diam saja akhirnya dia mengambil keputusan seperti itu.


Nurul pun menoleh menatap ke arah Bagus, yang benar saja masa iya dirinya disuruh meminta maaf sama Erli. Padahal sejak remaja keduanya secara tidak langsung bersaing tentang segala hal. Tetapi sekali lagi, nasi sudah menjadi bubur dan Nurul pun harus bisa menghadapinya.


"Gimana Dek?" tanya Bagus lagi.


"Iya Mas, aku mau." jawab Nurul akhirnya.


Kemudian Bagus, Nurul, Ibu Sumi serta Ibu Parni pun pergi ke rumah Judika. Karena memang rumah mereka yang berhadapan sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama.


Kebetulan saat itu Erli sedang menonton televisi sedangkan Judika berada di kamar entah apa yang sedang dia lakukan. Karena ketika Judika ingin duduk mendekati Erli, Erli memilih untuk menjauhinya dan begitu seterusnya.

__ADS_1


"Permisi." sapa Bagus sambil mengetuk pintu rumah Judika yang sedikit terbuka.


Erli pun menoleh melihat siapa orang yang bertamu ke rumahnya. Dan Erli melihat ada 4 orang dewasa disana, Erli pun sebenarnya malas menerima mereka sebagai tamu karena merekalah yang sudah membuat rumah tangganya menjadi dingin seperti sekarang ini.


"Silahkan masuk." jawab Erli dingin sambil mematikan televisi yang barusan dia tonton.


Mereka pun masuk ke dalam rumah Erli dan masing-masing duduk di kursi yang sudah disediakan. Erli pun duduk di depan mereka, tanpa berniat sekali memberi mereka minum.


"Ada apa?" tanya Erli.


"Judika ada? Kita bisa ngobrol sebentar sekalian sama Judika." jawab Bagus.


Erli pun tidak menjawab tapi dia segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk memanggil Judika yang berada dikamar.


Nurul yang terus memperhatikan Erli pun merasa semakin benci dengan sikap Erli yang menurutnya sok cantik itu. Jika dihadapannya tidak ada keluarganya pasti Nurul akan mengejek Erli habis-habisan. Tapi disini keadaannya Nurul lah yang bersalah sehingga dia harus menerima konsekuensinya.


Erli membuka pintu kamar dan mendapati Judika yang berbaring disana tetapi belum tertidur.


"Mas, ada tamu." ucap Erli dengan judes, kemudian segera berlalu dari kamar dan kembali ke ruang tamu.


Karena pendengaran Judika yang masih normal sehingga bisa mendengar dengan jelas perkataan Erli.


"Tamu? Siapa?" gumam Judika yang segera saja keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.


Semua yang berada di ruangan tersebut pun hening untuk beberapa saat. Karena semuanya saling menunggu satu sama lain siapa yang akan berbicara.


"Erli, ada yang mau ngomong sama kamu." ucap Bagus akhirnya dia yang membuka suara lebih dulu.


Bagus pun menyenggol lengan Nurul yang masih terdiam. Karena sebelumnya Nurul sudah berjanji bahwa akan meminta maaf kepada Erli atas apa yang sudah dia dan suaminya lakukan. Nurul pun mengerti akan kode dari suaminya.


"Erli, aku minta maaf." ucap Nurul singkat.


Merasa diatas angin, Erli pun seolah tidak mendengar perkataan Nurul.


"Kamu ngomong apa? Aku gak denger!" jawab Erli dengan ketus.


Mendengar itu Nurul mengepalkan kedua tangannya dibawah kursi tanpa sepengetahuan semuanya. Tetapi sekali lagi dia harus menerima konsekuensinya. Sedangkan Judika sebenarnya merasa sikap istrinya berlebihan tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa mengingat dirinya juga bersalah dalam hal ini.


"Erli, aku.. Minta.. Maaf.. Ya!" ulang Nurul dengan suara yang sedikit keras.


"Memangnya kamu udah nglakuin apa kog minta maaf segala?" bukannya meredam masalah, Erli justru memperkeruh suasan.

__ADS_1


Mendengar jawaban istrinya yang seakan tidak bisa diajak berdamai membuat Judika turun tangan.


"Dek.." panggil Judika.


"Kenapa? Mas Judika mau belain dia? Aku salah ngomong kayak gini ke dia? Trus aku harus diam aja gitu melihat kalian bermain api di belakangku?" emosi Erli memuncak karena menurutnya suaminya tidak membelanya justru membela selingkuhannya.


"Ya uda kan Nurul uda minta maaf." jawab Judika dengan lembut karena dia tidak ingin di dengar oleh tetangga kanan kirinya.


"Trus kalau uda minta maaf semuanya selesai gitu aja? Gak!" jawab Erli dengan masih emosi.


"Begini Erli, aku mewakili istri ku minta maaf yang sebesar-besarnya dan supaya kejadian ini gak terulang lagi aku akan mencari kontrakan di luar desa ini. Dan aku janji bakal jaga istriku dengan baik lagi supaya tidak lagi menjalin hubungan dengan suami kamu lagi." ucap Bagus menengahi suasana panas di rumah Erli.


Mendengar jawaban dari Bagus membuat Ibu Parni dan Nurul kompak melihat ke arahnya. Karena menurut mereka Bagus mengambil keputusan sendiri tanpa membicarakan lebih dulu dengan mereka.


"Oke setuju! Kalau bisa segera pergi dari sini." jawab Erli dengan ketus.


Bagus hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka pun berpamitan dan kesepakatan malam itu membuat hati Erli sedikit lega karena dengan begitu kapasitas Judika dan Nurul bertemu akan berkurang bahkan tidak ada lagi.


Ibu Sumi pun berpamitan kepada Bagus dan besannya untuk pulang ke rumah. Tidak lupa Ibu Sumi meminta maaf secara pribadi kepada Ibu Parni karena kelakuan anaknya yang sudah membuat malu keluarga Ibu Parni. Juga berterima kasih kepada Bagus karena masih mau menerima Nurul meskipun sudah kejadian seperti itu.


Malam ini Bagus sengaja berada di rumah Ibu nya sedangkan dia membiarkan Nurul di rumahnya sendirian. Karena Bagus ingin menenangkan diri sebentar setelah kejadian yang menimpa rumah tangganya. Ibu Parni menghampiri Bagus yang sedang berbaring di depan televisi yang menyala dengan membawa secangkir teh hangat tetapi pikiran Bagus tidak berada di tayangan televisi tersebut.


Melihat kedatangan Ibu nya Bagus pun terduduk dan menerima teh yang diberikan Ibu nya kepadanya. Ibu Parni pun duduk di samping Bagus.


"Makasih Bu." ucap Bagus kemudian segera meminum sedikit teh hangatnya lalu diletakkan di atas meja di sampingnya.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu cari kontrakan?" tanya Ibu Parni mencoba mengubah keputusan Bagus.


"Jadi Bu. Bagus uda cari-cari kontrakannya." jawab Bagus dengan yakin.


"Tapi kenapa gak kamu rundingkan dulu sama Ibu dan istrimu?" tanya Ibu Parni.


"Percuma Bu, karena Bagus ingin masalah ini segera reda. Bagus gak mau bikin Ibu semakin malu." jawab Bagus dengan mata berkaca-kaca.


Sebenarnya Bagus merasa bersalah sudah memaksa Ibu nya untuk merestui dirinya menikah dengan Nurul, padahal dari dulu Ibu nya sudah mengatakan tidak setuju jika dirinya menikah dengan Nurul tetapi Bagus selalu memaksakan kehendaknya sendiri.


Tanpa banyak kata Ibu Parni segera memeluk Bagus dengan erat. Keduanya saling mencurahkan perasaan masing-masing melalui pelukan.


...****************...


Tetap semangat 💪

__ADS_1


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2