
Waktu terus berlalu, tapi Alex belum juga menunjukkan batang hidungnya di sekolahan dan pihak sekolah pun belum memberitahukan apapun tentang kepindahan Alex. Dan tentu saja Shasha terus mencoba menghubungi Alex yang tidak ada jawaban apapun.
Jam pelajaran ke tiga pun berbunyi, seorang guru biologi masuk ke kelas Shasha. Semua murid terlihat sudah siap semua untuk menerima pelajaran dari guru yang terkenal galak itu. Begitupun dengan Shasha dan Lita yang duduk berdampingan.
"Selamat pagi anak-anak." sapa guru yang bernama Pak Teguh tersebut.
"Pagi Pak." jawab semua murid yang berada di kelas itu.
Beberapa saat kemudian pelajaran pun berlangsung, tidak lama setelah itu ada seorang guru yang mengetuk pintu dan masuk ke ruang kelas dan terlihat berbicara sebentar dengan Pak Teguh setelah itu berpamitan keluar lagi dari kelas.
Setelah kepergian guru tersebut, Pak Teguh menjeda sebentar pelajaran yang sedang beliau ajarkan.
"Begini anak-anak, pihak sekolah sedang mencari pemain basket yang cukup ahli untuk menggantikan seseorang di tim basket sekolah kita yang sudah pindah. Apakah di kelas ini ada yang pintar bermain basket?" tanya Pak Teguh.
Tidak perlu menunggu lama, suara riuh dari murid-murid pun terdengar. Tentu saja mereka tahu siapa orang yang selalu dibanggakan pihak sekolah soal pertandingan basket.
__ADS_1
Begitupun dengan Shasha yang sudah bisa menebak siapakah orang yang pindah itu. Shasha cukup terkejut dengan berita yang dia dengar hari ini.
"Alex, kamu sungguh tega." gumam Shasha dengan sedih, dan tanpa Shasha sadari sambil memegang perutnya yang masih datar.
Hal itu tidak terlepas dari pengamatan Lita yang duduk disampingnya. Lita melihat dan mendengar apa yang dikatakan Shasha. Lita pun juga tidak menyangka jika Alex tega berbuat seperti itu kepada Shasha, apalagi Alex sudah tahu jika Shasha sedang mengandung anaknya.
Lita hanya bisa menggenggam tangan Shasha untuk sekedar memberinya kekuatan melalui sentuhan tangannya, Shasha pun menatap Lita dan melihat Lita yang mengangguk dan tersenyum tulus seakan berkata melalui matanya bahwa semua akan baik-baik saja.
Akhirnya jam pelajaran hari ini sudah berakhir, Shasha cukup bisa mengikuti pelajaran dengan baik meskipun hati dan pikirannya sedang gelisah.
Sebagai sahabat yang baik, Lita pun memahami apa yang Shasha rasakan. Dan Lita merasa tidak tega jika harus membiarkan Shasha menghadapinya sendiri.
"Sha..." panggil Lita yang sedang memasukkan buku ke dalam tas.
Sedangkan kelas mereka sudah terlihat sepi karena sudah banyak yang keluar dari kelas untuk pulang.
__ADS_1
"Ya.." jawab Shasha sambil menatap Lita yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Kamu beneran gak mau cerita apapun ke aku? Kamu masih anggap aku sahabat kamu kan? Kamu gak usah khawatir Sha, kamu gak sendiri kog. Ada aku." ucap Lita panjang lebar sambil menggenggam tangan Shasha seakan meyakinkan Shasha bahwa memang benar apa yang Lita katakan.
Shasha hanya terdiam karena merasa tidak yakin bahwa Lita mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Melihat Shasha yang diam saja, Lita tahu bahwa Shasha ragu jika dirinya tahu sesuatu.
"Aku uda tahu apa yang terjadi sama kamu Sha. Dan aku sedih jika lihat kamu seperti ini. Maaf kalau aku lancang mengatakan ini." ucap Lita.
Dan tanpa Lita sadari Shasha langsung memeluknya dengan erat sambil menangis dan sesenggukan di dalam pelukan Lita. Lita pun membiarkan Shasha untuk menangis mengeluarkan sesak yang ada didadanya selama ini. Lita hanya bisa mengusap punggung Shasha dengan sayang seakan memberi kekuatan bahwa Lita akan selalu ada untuknya sebagai sahabat baik.
...****************...
Tetap semangat 💪
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏
__ADS_1