Selingkuhan Lima Langkah

Selingkuhan Lima Langkah
Bagaimana Ini?


__ADS_3

Waktu terus berlalu hubungan Bagus dan Nurul pun menjadi semakin dekat. Karena menurut Nurul, Bagus terus berusaha menunjukkan niat seriusnya kepada Nurul. Padahal keduanya masih sama-sama sekolah. Tetapi yang membuat Nurul tidak begitu yakin adalah karena Bagus dan keluarganya memiliki kepercayaan yang berbeda dengan keluarganya. Dan jika sampai mereka ke jenjang pernikahan pasti harus ada salah satu yang mengalah tentu saja hal itu akan menjadi perbincangan serius di keluarga masing-masing.


Saat ini di beberapa sekolah sedang mengadakan rapat sehingga siswa-siswa sengaja diijinkan pulang lebih awal. Begitupun di sekolahan Nurul dan Bagus. Dan seperti biasa Bagus menjemput Nurul di sekolahan nya. Nurul pun sudah terlihat menunggu di luar gerbang sekolah bersama teman-temannya yang lain.


Nurul segera menghampiri Bagus ketika melihat Bagus datang.


"Hai Beb." sapa Nurul dengan tersenyum kepada Bagus kemudian segera naik ke motornya.


Bagus pun membalas sapaan dari Nurul dengan tersenyum juga. Sejauh ini hubungan Nurul dan Bagus baik-baik saja. Tidak pernah mereka bertengkar ataupun berselisih paham karena suatu masalah. Ketika ada masalah mereka selalu bisa menyelesaikan dengan kepala dingin. Berbeda ketika Nurul masih berpacaran dengan Hendrik dulu, selalu saja ada masalah yang mereka ributkan. Sehingga Nurul merasa bahwa Bagus ini memang adalah jodohnya.


"Kita ke cafe dulu mau gak? Masih jam segini kan." ucap Bagus ketika mereka dalam perjalanan. Bagus sengaja menjalankan motornya dengan kecepatan rendah.


"Boleh deh." jawab Nurul.


"Ada yang mau aku omongin juga." ucap Bagus.


"Ngomong apa?" tanya Nurul.


"Nanti aja kalau uda sampai di cafe." jawab Bagus.


Bagus pun segera melajukan motornya menuju cafe yang menjadi pilihannya. Bohong jika selama perjalanan Nurul tidak dibuat penasaran oleh perkataan Bagus. Nurul terus memikirkan kira-kira apa yang nanti akan dikatakan oleh Bagus. Nurul takut jika Bagus ternyata akan mengajaknya mengakhiri hubungan mereka selama ini.


Akhirnya Bagus pun sampai juga di cafe starbucks. Tempat dimana banyak orang dari segala kalangan berada disana. Bagus pun segera memarkirkan motornya di tempat parkir yang tersedia kemudian menggandeng tangan Nurul untuk diajaknya masuk ke dalam. Nurul yang masih penasaran pun hanya diam saja mengikuti ke mana Bagus akan mengajaknya.


Bagus pun masuk dan memilih tempat duduk yang cukup nyaman untuk mereka mengobrol bersama. Kemudian keduanya segera memesan minuman yang tersedia.


"Ow ya kamu mau ngomong apa?" tanya Nurul yang sedari tadi masih memikirkan hal itu.


"Ngomong apa?" Bagus malah bertanya balik kepada Nurul, karena tidak tahu dengan pertanyaan Nurul.


"Kog ngomong apa? Tadi katanya mau ke cafe dulu karena ada yang mau diomongin?" tanya Nurul mengingatkan perkataan Bagus.

__ADS_1


"Ow iya." jawab Bagus sambil menepuk jidatnya sendiri karena lupa dengan perkataannya.


Baru Bagus akan kembali bersuara, pesanan mereka pun datang. Tidak lupa Bagus dan Nurul mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.


"Kita kan uda kelas 3 dan sebentar lagi ujian. Kalau lulus kan kita pasti akan nikah atau kerja..." ucap Bagus sambil mengaduk-aduk minuman yang dipesannya.


Nurul pun mendengarkan sambil sesekali meminum minumannya.


"Aku berniat mau halalin kamu segera. Gak perlu nunggu kita lulus sekolah." lanjut Bagus kemudian melihat ke arah Nurul untuk menunggu reaksi Nurul nantinya.


Seketika Nurul pun tersedak minuman karena ketika Bagus berkata seperti itu Nurul sedang minum.


"Pelan-pelan dong Beb." ucap Bagus panik kemudian dengan segera memberikan tisu yang berada di atas meja mereka kepada Nurul.


Nurul pun menerimanya dan segera memakai tisu tersebut untuk mengelap mulutnya. Sebelum menjawab perkataan Bagus, Nurul menetralkan tenggorokannya terlebih dahulu karena batuk.


"Maksud kamu kita nikah sekarang tanpa nunggu lulus sekolah dulu?" tanya Nurul memastikan apa yang didengarnya.


"Kamu yakin sama aku?" tanya Nurul lagi.


"Kalau gak yakin, gak mungkin dong aku ajak kamu nikah sekarang." jawab Bagus.


"Iya juga sih." gumam Nurul.


"Bagaimana ini?" batin Nurul.


Nurul tidak menyangkan jika Bagus akan mengajaknya menikah sekarang. Padahal sebelumnya Nurul berpikir bahwa Bagus akan mengajaknya mengakhiri hubungan mereka tetapi justru Bagus malah mengajaknya menikah.


"Gimana Beb?" tanya Bagus meminta keputusan kepada Nurul.


"Bukannya aku nolak Beb, tapi agama kita gimana? Dan pastinya Ibu ku gak mungkin ijinkan aku nikah gak sesuai agama ku. Ibu ku juga pasti belum tentu restuin kita karena kita tetanggaan." jawab Nurul menjelaskan kemungkinan yang terjadi ke depannya.

__ADS_1


"Kalau masalah orang tua, aku sendiri yang akan meyakinkan orang tua ku dan orang tua mu. Kalau masalah agama aku mau menikah ikut dengan agama mu." ucap Bagus dengan yakin.


Dan tentu saja jawaban Bagus kembali membuat Nurul terkejut. Karena terlihat Bagus yang sudah memikirkannya dengan matang sehingga ketika berbicara pun tanpa ada keraguan sama sekali.


"Kamu yakin dengan ucapan kamu?" tanya Nurul untuk kedua kalinya.


"Kamu masih mau bukti apalagi dari ku?" tanya Bagus kembali karena bingung dengan cara apalagi untuk membuktikan kepada Nurul bahwa dia serius dengan ucapannya.


"Aku gak mau kamu banyak omong. Aku mau kamu buktikan semua ucapan kamu itu." jawab Nurul yang merupakan sebuah lampu hijau dan syarat untuk Bagus.


"Oke." hanya kata itu yang diucapkan oleh Bagus.


Karena memang Bagus sudah memiliki niat yang kuat untuk menikahi Nurul. Meskipun dia tahu pasti jalannya untuk mendapatkan Nurul akan susah. Bagus tahu bagaimana Ibu Sumi yang tidak ingin anaknya menikah dengan tetangga. Dan juga Bagus sangat yakin jika orang tuanya tidak akan setuju jika dirinya menikah mengikuti agama yang dianut oleh Nurul.


Tetapi Bagus meyakinkan hatinya sendiri bahwa pasti dia bisa melewati itu semua jika dia memang memiliki niat yang baik.


Akhirnya mereka pun melewati waktu bersama berdua sampai siang hari dimana biasanya jam pulang sekolah mereka.


Bagus pun seperti biasa mengantar Nurul hingga sampai di depan rumahnya. Dan siang itu tidak seperti biasanya, karena kebetulan banyak ibu-ibu yang sedang berada di warung Ibu Sumi. Tentu saja semua melihat kedatangan Bagus dan Nurul yang berboncengan.


"Wah bau-baunya habis lulus langsung nikah ni." goda salah satu Ibu tersebut. Entah hanya berniat menggoda atau memang sedang menyindir Ibu Sumi.


Ibu Sumi yang sedang menjuali di dalam warung hanya diam saja sambil melirik Bagus dan Nurul yang baru saja pulang sekolah. Begitupun Nurul dia juga hanya diam saja karena dia tahu pasti Ibu nya juga mendengar dan merasa kesal disindir seperti itu.


Tetapi dengan sikap beraninya Bagus pun menjawab sindiran dari Ibu-Ibu tersebut.


"Doain aja segera Bu." jawab Bagus dengan yakin tetapi juga dengan rasa hormat tanpa berniat hanya menjawab sindiran.


...****************...


Tetap semangat 💪

__ADS_1


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2