Selingkuhan Lima Langkah

Selingkuhan Lima Langkah
Penggantimu


__ADS_3

Waktu terasa cepat berlalu, Erli sudah lebih dulu melahirkan dan beberapa bulan kemudian Nurul lah yang melahirkan anak pertama mereka. Tentang tantangan Erli untuk tes DNA akhirnya tidak diindahkan oleh Erli sendiri karena jika kenyataan anak Nurul adalah darah daging suaminya dan Nurul meminta tanggung jawab maka pasti dengan senang hati Judika akan melepaskan dirinya dan tentu saja Erli yang merasa dirugikan akan hal ini. Maka dari itu Erli memilih melupakan itu semua karena memang Nurul dan Judika benar-benar memutuskan hubungan mereka.


Setelah kelahiran anak pertama, Nurul tetap masih bekerja dia selalu memberi alasan bahwa kebutuhan rumah tangga mereka semakin banyak dan anak mereka pun terpaksa diberikan kepada Ibu Sumi untuk dirawat setiap harinya ketika Nurul dan Bagus bekerja. Setiap pagi Bagus dan Nurul mengantar anak mereka ke rumah Ibu Sumi kemudian sore harinya mereka menjemputnya lagi dan begitu setiap harinya.


Pagi ini, seperti biasa Nurul dan Bagus bersiap-siap untuk mengantar anak mereka ke rumah Ibu Sumi dan langsung bekerja.


"Nanti aku lembur ya Mas." ucap Nurul sambil berdandan dan kali ini lebih rapi dari biasanya.


"Tumben lembur?" tanya Bagus heran karena biasanya Nurul tidak pernah ikut lembur selama hamil dan melahirkan anaknya.


"Iya, kan lumayan Mas bisa buat tambahan beli susu sama popok." jawab Nurul memberi alasan.


Padahal sebenarnya itu hanya alasan Nurul saja, untuk kebutuhan anaknya masih dibantu oleh Ibu Parni yang selalu menyokongnya setiap bulan. Ya, Nurul sudah mulai kembali bermain api. Dia kembali berselingkuh tetapi tidak dengan Judika lagi tapi dengan teman kerjanya yang berstatus masih single yang bernama Febri. Padahal Febri tahu bahwa Nurul sudah berkeluarga dan bahkan baru saja melahirkan anak, tetapi keduanya sudah terkena cinta buta sehingga melupakan segalanya. Dan bagi Nurul pun sebenarnya dia sudah dimaafkan oleh Bagus karena perselingkuhannya dengan Judika waktu itu, tetapi Nurul masih dengan berani bermain api dan berselingkuh lagi.


"Tapi kan Ibu uda selalu bantu Dek, masa masih kurang." ucap Bagus yang sebenarnya tidak setuju jika Nurul harus bekerja keras hingga sampai lembur-lembur. Dan sebenarnya Bagus belum mengetahui perselingkuhan Nurul yang kedua ini, dia benar-benar hanya kasihan dengan Nurul jika harus capek bekerja di luar rumah.


"Kan gak mungkin kita terus menopang sama Ibu Mas, kita juga harus mikir buat kebutuhan Ibu kan." jawab Nurul dengan nada yang sedikit tinggi, dan kalau sudah seperti itu sudah bisa dipastikan Bagus akan banyak mengalah lebih baik menuruti kemauan istrinya.


Akhirnya Bagus dan Nurul pun keluar dari rumah dan mengunci rumahnya kemudian segera menuju rumah Ibu Sumi untuk menitipkan anak mereka.


...----------------...


Nurul pun sudah sampai di tempat kerja, dia segera menuju ruangannya dan akan memulai pekerjaannya. Begitu dia akan memulai pekerjaan pintu ruangannya diketuk, kemudian muncullah Febri dan masuk ke ruangan Nurul lalu menutup pintu. Nurul di bagian menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk bekerja sedangkan Febri bagian produksi sehingga kesempatan mereka untuk bertemu pun menjadi sering dan saat ini Febri beralasan menemui Nurul untuk meminta barang yang akan dia kerjakan dibagian produksi.


"Hai cantik." sapa Febri sambil berjalan menghampiri Nurul dan berdiri di depan Nurul yang sedang duduk di kursinya.

__ADS_1


"Sssttt... Jangan keras-keras nanti ada yang denger lho." bisik Nurul dengan menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri.


"Uda tenang aja aman kog." jawab Febri.


Kemudian Febri memegang tangan Nurul yang berada di atas meja.


"Kamu makin hari makin cantik aja. Apalagi habis melahirkan aura kamu semakin terlihat." ucap Febri.


Nurul yang diberi rayuan seperti itu oleh Febri pun hanya mampu tersenyum dan menjadi memerah wajahnya karena merasa tersanjung. Ya, Febri sangat pintar dalam berkata-kata romantis daripada Bagus, suaminya. Maka dari itu Nurul lebih nyaman ketika bersama dengan Febri.


"Dan lagi, itu kamu jadi makin besar." bisik Febri dengan pandangan mata yang mengarah pada dua bukit milik Nurul yang masih tertutup baju. Dan memang benar apa yang dikatakan Febri, setelah melahirkan payu-dara Nurul memang menjadi lebih besar karena kandungan asi di dalamnya.


"Apaan sih." jawab Nurul dengan malu-malu karena Febri berkata tentang salah satu daerah sensitifnya.


"Beneran Sayang, jadi pengen pegang deh." lanjut Febri yang masih menggoda Nurul.


"Nanti jadi kan ya?" tanya Febri.


"Kalau aku gak mau gimana?" tanya Nurul dengan sengaja menggoda Febri karena, Febri yang masih terus menggodanya.


"Jangan gitu donk. Aku uda kangen banget sama kamu." rengek Febri.


Nurul pun hanya terkekeh melihat kelakuan Febri. Dan bersamaan dengan itu pintu ruangan Nurul diketuk, sesegera mungkin Febri melepaskan pegangan tangannya di tangan Nurul dan sedikit mundur agar tidak terlihat terlalu maju berhadapan dengan Nurul. Karena memang teman kerja mereka tidak ada yang tahu tentang hubungan gelap mereka berdua. Kebanyakan dari teman-temannya menghargai Nurul yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.


"Bu Nurul untuk produksi di bagian saya minta tolong disiapkan bahan-bahannya." ucap salah satu bagian produksi yang berbeda dengan Febri, yang bernama Anita.

__ADS_1


Anita hanya melirik saja dengan keberadaan Febri di ruangan Nurul dan mereka hanya berdua. Tetapi Anita tidak berani banyak bertanya karena dirinya karyawan baru sehingga tidak terlalu ingin tahu urusan orang lain. Bagi Anita yang penting dirinya bekerja dengan baik dan mendapatkan upah sesuai dengan kemampuannya.


"Oh ya Anita akan aku siapkan. Nanti habis ini aku antar." jawab Nurul yang berpura-pura sibuk menyiapkan apa yang diminta oleh Anita.


Anita pun berpamitan kemudian segera keluar dari ruangan Nurul.


"Uda kamu cepat kerja nanti ada yang curiga lho kalau kamu kelamaan di ruangan ku." ucap Nurul yang masih memiliki rasa takut.


"Kasih semangat dulu donk." jawab Febri, kemudian maju dan kembali berdiri di depan meja Nurul sambil memajukan bibirnya sebagai tanda Febri ingin di cium oleh Nurul.


Daripada nanti Febri akan banyak bicara akhirnya Nurul pun bermaksud mencium sekilas bibir Febri tetapi tanpa disangka justru Febri menahan tengkuk Nurul dan semakin memperdalam ciuman mereka. Nurul yang awalnya ingin menolak akhirnya hanya bisa pasrah saja setelah Febri menciumnya dengan lembut. Bahkan Nurul hampir terbuai dengan perlakuan Febri, tetapi dia segera tersadar bahwa saat ini mereka sedang berada di tempat kerja. Sehingga Nurul yang terlebih dahulu melepaskan ciuman mereka.


"Uda buruan sana kerja." usir Nurul sambil mendorong pelan Febri ke arah pintu agar Febri mau segera keluar dari ruangannya.


Akhirnya setelah cukup keras membuat Febri keluar dari ruangan, Nurul pun kembali masuk ke dalam ruangannya dan menutup pintu kemudian duduk di kursinya.


Di tempatnya duduk, tiba-tiba saja Nurul tersenyum sendiri mengingat setiap apa yang dilakukan Febri kepada dirinya. Nurul sangat mengagumi Febri, dia yang seorang single tetapi bisa begitu sangat lembut kepada orang yang disayangi. Nurul mulai kembali membanding-bandingkan Febri dengan suaminya. Bagus yang hampir tidak pernah romantis kepadanya bahkan terasa sangat cuek ketika mereka sedang berdua.


Nurul pun membandingkan dengan Judika. Febri dan Judika menurut Nurul hampir memiliki kesamaan antara keduanya. Mungkin dulu Nurul akan memilih Judika tetapi untuk sekarang dan saat ini Nurul jelas memilih Febri.


"Aku sudah menemukan penggantimu, Judika. Terima kasih sudah mengisi hatiku meskipun kita tidak bisa bersama. Terima kasih juga untuk kenangan indah saat kita bersama dulu. Aku akan kubur dalam-dalam nama kamu di kehidupanku. Karena sekarang aku sudah memiliki orang yang lebih menyayangiku sepenuh hati." gumam Nurul.


Kemudian Nurul pun segera memulai pekerjaannya dan menyiapkan bahan-bahan yang diminta oleh teman-teman di bagian produksi.


...****************...

__ADS_1


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2