
Langit Jakarta cerah. Indah sekali.. Udara pagi masih sejuk. Suara bising belum mulai. Belum ada kepulan asap dari kendaraan .
Matahari memberikan kehangatan.
Tanpa terasa sudah satu minggu aku di Jakarta.
Sudah banyak teman yang kukenal.Alhamdulillah dapat bertemu orang-orang baik.
"Mbak.. ngapain disitu? " tanya Sri.. melihatku diatas loteng sendirian.
"" Ya... menatap langit mumpung masih indah".. jawabku asal bunyi...
"Hi Hi Hi... ada-ada saja.. Ayoo.. kita berangkat.
Ajak Sri kepadaku. Dia sudah rapi.
" Ya.. sebentar.. aku ambil tas dulu.. "
Kami berjalan-jalan ke pasar Cipulir.Ini pengalaman pertama aku keluar selama di Jakarta.
Ramai sekali.. ibukota.. INDONESIA tercinta.
Dibandingkan dengan kampung halamanku..
ya iyaalahh.... konyol sekali pikiranku..
Tersenyum sendiri aku...
"Kok senyum-senyum sendiri.. lihat cowok ganteng ya.. " kata Sri menggodaku...
__ADS_1
"Aahhh... tidak yoo... ini lho... aku membandingkan dengan pasar di kampung.. kan pasti tidak sebanding" timpal ku.
Sri pun manggut-manggut...
"Mbak.. kita lihat-lihat saja dulu ya... aku belum punya uang.. kan belum gajian.. " kata Sri kepadaku.
"Ssiipppp... memang siapa yang mau belanja-belanja? Uang saja pas-pasan. " jawabku tertawa.
Ya.. namanya baru kerja satu minggu kn belum dapat gaji. Juga bekal ku dari kampung sangat tipis. Aku harus hemat.
Kasihan emak..
Aahhh.. aku kangen emak... sedang apa kira-kira sekarang...?? batinku mendadak sedih.
Pasar Cipulir besar. Kami menyusuri pedagang-pedagang.. lihat baju-baju bagus.
Ya.. semoga suatu aku bisa beli dan membelikan emak.
"Baiklah.. " lalu kami masuk ke salah satu kedai bakso dipinggiran.
Biar agak murah yang penting tempat nya bersih.
"Pak.. minta bakso diluar dan es teh.. " aku pesan ke pemilik warung bakso.
"Ya.. silahkn masuk... " jawabnya ramah.
"Mbak.. kalau sudah gajian kita main kesini lagi ya.. " kata Sri penuh semangat..
"InsyaAllah memang kamu mau beli apa? " kata ku.
__ADS_1
"Ada dehh.. sesuatu pokoknya.. " Sri menjawab dengan mimik yang lucu.
Aku pun tertawa. Sri adalah temanku yang baru kukenal seminggu lalu.
Sri teman yang menyenangkan usianya masih muda. Tapi harus merantau karena keadaan ekonomi. Dia tidak bisa melanjutkan sekolah.Bahkan sekarang jadi tulang punggung keluarga. Nasibku hampir sama dengan Sri.
Selesai makan kami pulang. Aku merasa Sri adalah adikku.Mungkin karena kami memiliki persamaan nasib.
Adzan ashar sudah terdengar. Akupun bersiap untuk kerja. Aku dapat bagian masuk sore.
Sri pun demikian. Tapi perasaan ku seharian sedang tidak baik. Kenapa aku ingat rumah.. ingat Didik dan ingat Mas Ari terus..?
Aku melangkah gontai dari kamar mandi.
"Mbak.. kenapa..?? " tanya Sri yang tiba-tiba sudah berdiri didepanku. Dan aku kaget sekali.
"Tidak apa-apa.. hanya ingat rumah" jawabku sambil menunduk..
"Entah kenapa aku ingin pulang.. " kutahan air mata yang rasanya sudah mau banjir.
"Ya mbak.. aku juga.. aku sebenarnya tidak kerasan.. namun bertahan demi adik-adikku.. Untung ada mbak Wahyu jadi bisa bertahan.. " kulihat dia jadi sedih.. Dia pun merasakan yang kurasakan..
"Sudah.. Sri.. tenang... kita sama berjuang demi keluarga yang kita sayangi.. "kupeluk dia hangat yang hampir menangis.
" Yuukkk.. sekarang kita kerja.. semangat..harus tetap semangat... "kataku sambil tersenyum kepadanya..
Walau hati kami merasakan hal yang sama.. rindu serindu-rindunya..
Langit... sampaikan rinduku padanya...
__ADS_1
***
"