SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
RASA


__ADS_3

Mas Sigit masih ngobrol sama Eko. Aku dan Sri rebahan dikamar sambil sesekali ikut tertawa mendengar guyonan mereka.


"Mbak,.. Mas Sigit kenapa ya betah disini?"


"Mulai lagi deh,,!"


"Hi Hi Hi... tidak ya hanya heran"


"Sudahlah tidak usah berfikir aneh-aneh, mungkin lagi bosan di rumah"


Aku paham arah pembicaraan Sri. Namun aku tidak ingin keceplosan. .


Memang kuakui Mas Sigit seminggu ini sikapnya aneh.Sering mampir ke toko, dengan berbagai alasan. Bahkan juga mengajak karyawan makan bersama. Kata Mbak Erna karyawan lama, jarang sekali Mas Sigit bersikap seperti itu.


"Hayo kok malah melamun! "


Sri menepuk pundak.


"Tidak, hanya ngantuk ini!"


Aku membalikkan badan. Agar Sri tidak membaca raut mukaku.


"Jangan tidur lho, mau magrib"


" Ya.. aku hanya lelah"


Kapan Mas Sigit pulang? Ingin cari udara di luar tapi malu karena Mas Sigit masih betah.


Aku kan tidak mau dibilang cari perhatian. Jatuh deh harga diri.. ciee ciee..konyol juga ini.


"Yuukk.... Sri... aku pulang dulu"


Suara Mas Sigit memecah lamunan ku.


Sri lompat dari kasur.


"Ya ya mas! "


Aku pun ikutan berdiri di pintu kamar.


"Hati-hati Mas! " kataku pelan , entah kenapa hatiku berdegup kencang.


"Ya terimakasih" Mas Sigit melambaikan tangannya.


Eko senyum-senyum memandangku.


"Kamu kenapa Ko? "

__ADS_1


"Tidak apa-apa, senyum masak dilarang! "


"Bukan begitu, habis senyuman mu palsu! " aku tertawa.


Eko malah lebih keras tertawanya.


"Suatu saat lah tahu sendiri"


"Hhhmmm... awas kamu macam-macam!! "


"Iiihhh... pakai ngancam pula ini orang"


"Pasti ada rahasia besar ini"


"Lho kamu kok dukung Eko" kataku pada Sri.


Akhirnya semua tertawa bersama.


Ada damai yang kurasakan bersama anak-anak ini. Walau belum lama kenal namun sudah akrab.


Mereka juga sopan dan tidak neko-neko.


Alhamdulillah aku dipertemukan dengan orang baik. Doa ibu memang mujarab.


**


"Duuh cantiknya yang mau ketemu.. "


"Sri.. benar nih, kalau kamu nekad aku cubit!! "


Aku hampiri Sri yang lagi duduk di depan pintu. Sri teriak dan tertawa.


"Kamu jangan kemana -mana sendiri ya, tunggu aku?! "


"Siap bos!! "


Sri kembali ke sarapannya. "


Baru kali ini aku tidak satu shif sama Sri. Karena dia gantian sama Ratna .


"Sudah ya aku berangkat dulu" pamit ku padanya.


"Mas Eko titip mbak ku yang cantik, jangan di goda lho! " Sri berseru dari balik jendela.


"Mana berani aku Sri.. kan.. " belum selesai bicara sudah ku tendang kecil kakinya..


Sri pun ngakak melihat kelakuan Eko.

__ADS_1


"Mau berangkat tidak ini? "


"Maju jalan..!! "Eko berjalan duluan.


Akupun membuntuti dari belakang.


**


.Sesampainya di toko, Mas Sigit duduk dibawah pohon beringin depan restoran.


Aku makin menunduk. Senyum mengembangnya saja sudah buat badanku lemas.


" Mana Sri? "


"Masuk siang dia? "


"Ya mas.. gantian sama Ratna."


" Bagus itu! "


"Maksudnya?? "


Bukannya memberi jawaban Mas Sigit malah masuk ke dalam restoran sambil tersenyum.


Aku yang jadi bertanya-tanya dalam hati.


Melihat aku yang bingung Mas Sigit teriak dari pinggir pintu.


"Sudah jangan bengong! " Masuk sana! "


Akupun segera berjalan cepat kearah toko. Sebelum karyawan restoran melihat.


"Uhuuuiii.. " Eko kembali jahil.


"Awas ya! "


Aku ke meja kasir dan mengelap mesin dan membereskan beberapa perlengkapan.


Aku melihat ke arah restoran. Disana kulihat Mas Sigit dan Ara bercanda.


Hatiku mendadak tidak terima. Aku merasa marah. Namun Siapakah aku?


Segera ku belakang mengambil air minum.


Jangan sampai aku terbawa perasaan yang tidak seharusnya.


***

__ADS_1


__ADS_2