
"Aku ngantuk mbak, lama banget Eko belum pulang-pulang, awas ini pasti main dulu." Sri sudah mulai marah. Aku hanya tersenyum.
"Paling sebentar lagi, kita tunggu ya." Aku berdiri sambil menutup pintu. Karena ingin rebahan di kasur.
"Aah..kesel aku mbak!!" Sri masih nekad uring-uringan.
Dijatuhkan badannya kesampingku.
Ya, kemana sih ini Eko kok juga belum nongol. Batinku.
Tak lama ada suara motor masuk halaman.
Sri masih belum bergeming. Marah benar ini anak.
"Mbak Yuk, Sri.. ini pesanan anda datang!"
"Cepetan, keburu dingin tahu!"
Eko teriak-teriak dari luar.
"Sri, itu Eko sudah datang, ayo keluar! "
"Malas..!! " Sri menutup mukanya pakai bantal.
Aku pun membuka pintu dan keluar.
Lho kok ada suara orang berbicara.
Eko pasti ngajak temannya lagi. Asal bukan yang genit kayak kemarin.
"Sri ngambek tuh.. kamu lama! " Ujarku sambil menuju kamar Eko.
Pintu kamarnya dibuka. Hingga akupun bisa lihat dalam kamar.
Ada seseorang pakai jaket hitam membelakangi pintu.
"Ko.. mana mie-nya?? "
Orang itu menoleh. Aku terkejut ternyata Mas Sigit.
"Lho.. mas kok disini?"tanyaku bingung.
"Memang tidak boleh? " dia berdiri dan memberiku bungkusan plastik masih panas berisi mie.
"Bukan begitu, Eko mana?"
"Dia ke warung beli rokok"
__ADS_1
"Ya sudah, aku masuk dulu, kasihan Sri nunggu dari tadi"
Aku pamit, entah kenapa bukan nya senang dengan kehadiran Mas Sigit yang tiba-tiba muncul di kost'an, justru aku kesel.
Aah.. suasana hati gampang berubah seperti ini.
"Yuukk.. "
"Ya mas, ada apa? "
Mas Sigit tidak melanjutkan ucapannya.
"Hhmmm.. kamu makan dulu! "
"Baiklah.. "
Akupun segera kembali ke kamar.
Sri kulihat sedang berdiri di depan pintu.
"Ini, ayo makan dulu, kalau lapar tidak bisa tidur lho! "God Aku agar Sri tidak cemberut lagi.
Kuambil piring dan sendok. Sri pun sudah ceria kembali.
" Hhhmmm.. baunya enak sekali! "
Eko masih ngobrol dengan Mas Sigit.
"Eko bawa temannya kan mbak? benar ini anak, besuk akan aku marahi! " Sri mengunyah sambil mengancam Eko.
"Mau tahu siapa yang dibawa Eko!? "
"Siapa tuh ? "
"Mas Sigit" jawab ku ringan sambil terus makan. Aku tidak ingin lihat ekpresi Sri.
"Haa.. Mas Sigit? ngapain dia kesini? "
"Mana aku tahu? "
Sebisa mungkin aku tutupi kegalauan hatiku.
Benar kata Sri kenapa harus kesini malam-malam?!
Jam didinding hampir jam sepuluh malam.
Sri mencuci piring.Suara Mas Sigit dan Eko masih terdengar dari kamar. Sepertinya mereka seru sekali.
__ADS_1
Ku bersihkan muka sambil sesekali ikut tersenyum mendengar suara candaan mereka.
Mas Sigit sangat senang sama Eko. Karena anaknya masih lugu.
Satu hal yang membuatku kagum adalah Mas Sigit tidak membedakan siapa saja dalam bergaul.
"Mbak, Mas Sigit belum pulang lho"
Sri masuk ke dalam kamar.
"Ya, biarin! Sudah malam tidak usah ikut gabung. Ayo tidur"
Sri menurut. Segera dia naik ke kasur dan berbaring disisiku.
Kucoba pejamkan mata agar Sri tidak mengajak bicara lagi.
Gelisah kurasakan. Setelah sesore menghilang kini hadir. Apa maksud dan tujuannya??
Namun seperti apapun aku tidak berani berucap. Lebih baik kusimpan dalam hati.
Malam temani tidurku.
**
Seperti biasa kalau sedang shif siang aku dan Sri malas-malasan dulu dikamar.
Masih jam setengah dua siang kami berangkat.
"Mbak.. masak belum bangun jam segini? "
Seru Eko dari luar.
Sri lalu membuka pintu.
"Bisa ya.. lama cuma beli mie ayam saja! "
Eko hanya tertawa.
"Memang belinya di Hongkong? "
"Kamu marah Sri? wah makin cantik lho!! "
Eko justru menggoda Sri.
Namun aku bisa merasakan Sri dan Eko saling menyukai. Hanya saja masih belum diungkapkan.
Mie ayam semoga bisa jadi awal kisah mereka.
__ADS_1