SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
TAMU


__ADS_3

"Hei, tutup mulut nya!" melihat Eko yang masih melongo melihat perempuan cantik yang langsung masuk ke restoran.


"Hahaa kapan lagi mbak lihat vitamin kayak gini!" Jawaban Eko membuat Sri memukul pundaknya.


"Dasar laki-laki!" seru Sri.


"Aauuu sakit!" aku dan Sri tertawa.


Kami masih mengamati perempuan itu.


paling hanya pelanggan batin ku.


Namun betapa terkejutnya dia sudah ngobrol dengan Mas Sigit.


Terlihat akrab pula. Hatiku jadi gelisah.


Namun.. berhak kah aku untuk gelisah? aku tersenyum kecut.


Lagi-lagi untuk menutupi kegundahan ku, sengaja menyapu lantai yang tidak kotor.


"Kan tadi sudah ku sapu mbak? memang belum bersih?" Sri menatap ku heran.


"Nggak, ini lho tadi ada sedikit kotoran dari dalam meja kasir."


"Ooowww..." Sri bergumam tanpa melihat wajahku. Untung saja.


Kalau tidak akan ketahuan kalau aku cemburu.


Ku lirik mereka malah tertawa seru.


Kesal kurasakan kenapa hatiku harus merasakan kemarahan lagi.


Kugeleng-gelengkan mukaku.


"Kenapa, pusing?"


Aku mendongak kaget.


"Nggak!" Mas Sigit berdiri didepan ku dengan pandangan seperti biasa. Aahh.. makin kesal aku dengan perempuan cantik itu.


"Ada apa ya mas?"


"Tolong nanti bungkuskan kue yang ada kejunya, beberapa rasa."

__ADS_1


"Ya.."


"Bungkus yang cantik ya.. kayak yang mau diberi." Binar matanya menghunjam direlung hati.


"Duh, Gusti.. kenapa harus terjadi lagi??"


Mas Sigit melangkah keluar dari toko. Kembali ke restoran lagi.


Sri mendekat ke arahku.


"Ada apa mbak?"


"Pilih roti rasa keju, buat tamunya Mas Sigit."


Sengaja aku memalingkan muka, agar Sri tidak melihat kepedihanku.


Rasa yang selalu berombak.. laksana hamparan lautan yang diterjang gelombang. Jadi rindu pantai Teleng Ria di Pacitan.


"Kenapa aku jadi ingin pulang ya?"


Mataku terasa panas ingin menangis. Namun kutahan.


"Sri, tolong ambilkan kotak yang didalam.Sekalian pitanya warna merah. "


"Sudah jangan banyak tanya."


Ku tersenyum diatas luka.


"Ya, ya.. tapi siapa kah dia?"


"Pacarnya mungkin!"


"Iihh... benarkah??"


Aku tahu Sri tidak berani melanjutkan kalimat nya.


"Biarkan, siapapun dia yang penting tugas kita sekarang buat bos senang!"


"Ya mbak!"


Saling diam aku dan Sri menata kue rasa keju dan membuat nya semanis mungkin.


"Waahhh.. mbak Wahyu memang punya bakat seni kelas dewa."

__ADS_1


Sontak aku tertawa.


"Kamu ada-ada saja Sri!"


"Kelas TK yang benar!"


"Nggak lho , bagus sekali mbak ini."


"Ya, ini kan untuk orang istimewanya bos." Walau dengan perasaan yang tercabik-cabik singa. Sri terdiam.


"Hayo-hayo siapa yang ngomongin aku."


Mas Sigit berkacak pinggang dengan muka lucu.


Eko disamping mas Sigit ngakak.


"Apaan.. ini kata mbak Wahyu buat pacar Mas Sigit." Sri memberanikan diri.


Eko langsung melotot dan diam. Mas Sigit hanya tersenyum.


"Ho ho.. begitu ya!"


Aku menunduk sambil membersihkan bekas kotak dan pita.


Makin mengiris hati.Mas Sigit tidak membantah ucapan Sri.


Akupun jadi salah tingkah. Namun kututupi sebisa mungkin.


Mas Sigit membawa sendiri hadiahnya.


Seolah tidak terjadi apa-apa, aku segera mengambil air minum. Menghilangkan panas dalam jiwa.


"Eko, kok ingin es doger ya.. nanti kalau ada yang lewat tolong bilang!"


Jakarta yang panas makin menyengat kurasakan.


Namun bukan salah siapa-siapa.. mungkin aku juga yang salah menempatkan rasa.


Belum saatnya aku memikirkan rasa yang tidak sepantasnya. Apalagi pada Mas Sigit. Walau kemarin seolah alam berpihak pada diriku.


Senja segeralah hadir.. ku ingin pergi bersamamu.


***

__ADS_1


__ADS_2