SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
MAAFKAN


__ADS_3

Sri menatap ku aneh. Aku diam saja. Kubiarkan dia bingung sendiri.


"Ngapain repot-repot jenguk mas Sigit. Toh sudah ada Ara." Batinku kesal.


"Namun kenapa lama Eko tidak kembali? Apakah parah juga?"


Kebetulan toko banyak pembeli. Jadi aku dan Sri sempat teralihkan.


Eko juga belum datang.


Setelah sepi orang, ku pandangi Sri. Apa sebaiknya gantian ya?Aku sebenarnya cemas.


"Sri,apa kamu dulu yang lihat keadaan Mas Sigit?" Akhirnya keluar juga suaraku.


"Apa..??Ya ya mbak!" Sri terbelalak senang.


"Dari tadi dong!"


"Ya, kan tadi toko rame!" jawabku sekenanya.


"Lagian kalau parah kn pasti dirumah sakit!!"


Yang penting Sri tidak mencurigai ku. Jangan sampai dia tahu aku sedikit kesal.


Sri lalu ke restoran tempat Mas Sigit istirahat.


Aku menara hati apa yang akan ku katakan nanti.


Sudah setengah jam. Sri belum kembali.


Eko lari-lari kecil ke toko.


"Ada apa?"


"Mbak, toko nya disuruh ditutup saja sama Mas Sigit!"


"Haa,, memang kenapa?"Akupun bingung.


" Nggak tahu, begitu katanya!"


"Ya baiklah, ayo bantu!" Aku tidak bisa berkata lebih banyak lagi.


Eko dengan cekatan merapikan membantu


ku. Segera kututup pintu. Kuambil tas ku dan tas Sri.


"Apa tidak sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit?" Aku tanya Eko.


"Mas Sigit tidak mau mbak!"


"Ooww ya, sudah makan belum?"

__ADS_1


"Entah!"


"Haduhh gimana sih, ayo!!"


Perasaan ku tidak enak. Setengah berlari aku menyusul Eko.


Sri duduk didepan kamar.


"Sri, bagaimana?"


"Masuk saja mbak!"


Ku pandangi pintu kamar yang tertutup.


Adakah Ara didalam?


Kuketuk pintu kamar pelan.


"Ya masuk!" suara pelan Mas Sigit.


Kubuka pelan pintu.


Kulihat lelaki yang sempat membuatku bergetar sedang terbaring lemah.


Aku menoleh ke sekeliling.


"Aku disini! kamu cari siapa?" Mas Sigit heran.


Ku dekati pembaringan. Tapi kok aneh. Mas Sigit tidak terluka. Tadi katanya ada yang pukuli??


Seperti mengerti yang kupikirkan, Mas Sigit menarik tanganku.


Aku yang tidak siap hampir menimpanya. Untung aku segera pegangan meja. Jadi tidak sampai terjadi.


"Mas!!" Aku setengah teriak.


"Kenapa? kamu tidak suka sama aku ya?"


"Haa..? Mas, katanya tadi dipukuli orang, apanya?"


Aku berdiri.. disamping nya.


Aku sudah waspada jangan sampai lengah.


Aku harus hati-hati. Kulihat Mas Sigit menahan kemarahan.


"Mas, belum makan ya?"


"Sudah!"


"Siapa yang memukuli? lapor polisi belum?"

__ADS_1


Mas Sigit diam saja, membiarkan ngomong sendiri.


Kuperhatikan tidak ada luka ditubuh Mas Sigit. Hanya wajahnya yang terlihat tidak segar. Baju juga acak-acakan.


"Sudah ngocehnya?duduk!!"


Mas Sigit menyuruhku duduk di kursi di samping tempat tidur.


Dia juga segera bangun dan bersandar.


Aku makin bingung. Benar tidak ada luka. Jadi bohong,hanya sandiwara.


Aku geram sekaligus heran apa maksudnya.Namun kutahan akan kutunggu Ma Sigit menjelaskan semuanya.


Namun mendadak aku ingin menangis.


"Yuukk, maafkan aku!"


"Aku bohong.. "


Aku diam ingin menangis rasanya.


"Memang untuk apa mas?"


Mas Sigit kembali diam.


"Aku ingin kamu selalu berada disisiku!"


Aku melongo. Rasanya badanku jadi ringan.


Ini mimpi atau nyata.


Akupun menunduk tidak bisa berkata-kata.


Ku beranikan diri menatap mata mas Sigit.


"Mas, maafkan kita biarkan seperti ini!"


Mas Sigit meraih tanganku. Di genggamnya erat. Aku tidak bisa menolak.


"Yuukk, kamu takut apa?"


"Aku tidak takut apa-apa mas!"


"Trus?"


"Aku belum memikirkan hal seperti itu. Aku ingin fokus kerja disini."


Kutarik tanganku. Akupun keluar dari kamar.


Sri dan Eko sudah tidak ada. Mereka kembali buka toko.

__ADS_1


***


__ADS_2