
Akhirnya sampai juga aku di rumah. Matahari pun terasa menyengat. Emak sedang di dapur. Ya.. aku hanya hidup berdua dengan mamak. Bapakku sedang merantau ke Kalimantan.
"Mak.. ini ada titipan dari Bulik. Katanya buat campuran kalau masak. ".. aku menyerahkan kresek plastik berisi buncis.
" Alhamdulillah.. bisa buat makan malam nanti.. "emak menerimanya dengan tersenyum.
" Aku ke kamar dulu..mau ganti baju... panas... "kataku sambil masuk kamar kecilku.
Ternyata akupun merindukan kamarku.. walaupun sempit tapi aku sangat bersyukur setidaknya masih ada tempatku berteduh.
Kurebahkan badanku di atas kasur. Ku pandangi genteng ku yang sudah tua.
Semoga suatu saat aku bisa memperbaiki.
Kupejamkan mata.. mengingat Bulik... Paklik... Iput.. dan Mas Ari...
ada desiran halus yang kurasakan. Dan aku lebih memilih untuk tidak melanjutkan bayang-bayang itu.. Emak masuk ke kamar..
"Bagaimana kabar Bulik dan semua disana?? " suara emak mengagetkan ku.
"Alhamdulillah baik... " jawabku singkat.
"Ya.. alhamdulillah... kalau begitu".. Emak kembali keluar kamar.
" Sudah sana makan dulu.. emak mau ke bu Peno lagi.. "kata emak sudah di luar rumah.
" Yaa... siaaappp... "sahutku.
Selesai ganti baju aku pun ke dapur. Ada tahu goreng dan sayur lodeh.
__ADS_1
Emak memang koki terhebat didunia.
Tidak ada yang menyaingi. Namun Allah menunjukkan cintaNYA dengan cara yang berbeda. Tak terasa air mataku meleleh dipipi. Segera ku hapus. Aku tidak ingin terlihat sedih di depan emak. Aahhhh.. emak engkau tahu betapa aku mencintaimu.
Hanya engkau yang kumiliki di dunia ini.
Adzan Asar terdengar.. segera ku ambil mukena. Selesai sholat aku menyapu rumah. dan halaman.
Seperti ini rasanya kalau sudah tidak sekolah. Namun aku juga tidak bisa berdiam diri.
Harus segera bisa bekerja.
" Mbak Wahyu... "suara mbak Rini teriak-teriak dari luar..
" Ya.. sini masuk... "aku senang bisa bertemu dia lagi. Rasanya setahun saat tidak bisa ngobrol sama Mbak Rini.
" Hhhmm... jam berapa ya tadi.. kayaknya setelah Dhuhur lewat sedikit.. "jawabku .
" Kemarin Didik nanyain.. aku jawab kalau lagi ke Penggung.. Dia kayaknya sedih.. "cerita mbak Rini tentang Didik. Dan hatiku entah kenapa menjadi tidak karuan. Bukan karena apa.. namun aku merasa kisahku dengan Didikakan segera berakhir. Tentu dia akan ke Malang untuk kuliah. Sedang aku... apa yang akan ku lakukan??
Aku bingung harus bagaimana menjelaskan suasana hatiku.
" Lho.. kok jadi melamun...? "selidik mbak Rini sambil menatapku serius.
" Ya... entahlah.. aku harus bagaimana dengan Didik.. rasanya hampa.."jelasku..
Mungkin karena cinta kami hanya cinta monyet kata istilah.. namun aku sangat menyayanginya.
Semua kisah telah kami lalui. Bagaimana hatiku terombang-ambing atas sikap nya. Dan aku masih bertahan.
__ADS_1
Emak sudah pulang.
"Yu... kamu mau ke Jakarta? cari kerja? "
tanya emak hati-hati.
Aku hanya diam memandang emak...wajah emak sangat cantik.. hidungnya mancung... kulit bersih.
Andai saja emak tidak bekerja keras seperti saat ini.. pasti emak sangat cantik.
"Ya... baiklah... " kataku. Biar emak senang.
Aku hanya ingin emak bisa bahagia.
Aku juga ingin emak bisa tidak bekerja lagi.
Malam yang dingin..
Aku dan emak tidur berdua. Aku sengaja tidur sama emak.
Karena besuk aku akan ke Jakarta.
Kupeluk tubuh emak.. dan hatiku hancur berkeping-keping.
Sedih harus berpisah dari emak.
Semoga emak sehat selalu.
***
__ADS_1