
Ku merasakan tatapan aneh mas Sigit. Semakin sering dia sekarang melihatku dengan cara seperti itu.
Namun mata itu juga pernah memandang Ara dengan cara yang sama. Hhmm, jadi kesal.
Aku tidak boleh terlena.Jangan sampai Mas Sigit tahu kalau aku mulai memperhatikan nya.
**
Dari restoran Sigit bisa melihat semua yang terjadi di toko. Matanya melihat para karyawan nya sedang bekerja. Sesekali mereka bercanda. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri . Belum tahu kalau dari tadi Ara melihatnya.
"Mas, sekarang makin ceria dirimu!"
Sigit hanya tertawa.
"Memang dari dulu aku sedih gitu?"
"Ya nggak juga! "
"Tapi ini beda. Aku rasakan.!"
"Hhmm.. Ra... cewek sukanya apa ya?"
"Haaa..?? coba tanya lagi!"
"Nggak salah ini kuping ku?"
Ara heran campur geli tidak bisa nahan tawa.
"Raja gombal kita bingung!"
Memang Sigit dari dulu terkenal gonta-ganti cewek. Karena dia anak orang kaya. Hanya suka foya-foya. Hingga suatu peristiwa menimpanya. Dia mengalami kecelakaan. Dan ibunya sakit. Sejak saat itu Sigit mau bekerja.Dan sudah tidak main cewek lagi. Karena dia menjauh dari teman-temannya dulu.
Sigit tersenyum sinis. Dia menjadi termenung.
"Mas, kok jadi melamun!"
__ADS_1
"Memang siapa sih cewek yang kau taksir?"
Sigit hanya menjauh dari Ara. Karena dia melirik kalau orang yang di toko sedang melihat ke arahnya.
**
Aku tak ingin terluka. Mas Sigit terlalu jauh dari jangkauanku. Sudah kesekian kali ku tekankan pada diriku untuk menjauhinya.
Apalagi Ara sejak tadi disamping Mas Sigit terus. Entah apa yang mereka bicara kan.
Aku dan Sri bersih-bersih toko. Aku menyapu luar, Sri dan Eko didalam.
Ku siram dan kurapikan bunga-bunga mawar . Kutata kembali. Kurubah letaknya.
Sesekali kucium wangi bunga mawar. Sangat senang hatiku. Wanginya seolah menjadi terapi. Mengobati kerinduan ku pada emak. Yang juga sangat suka mawar.
Aku sungguh tak tahu kalau dari tadi Mas Sigit mengawasiku.
"Ssttss.. mbak, Mas Sigit tuh melotot terus dari tadi." Sri mendekati ku .
"Yee... dikasih tahu!" Aku tak menggubris perkataan Sri.
Selesai merapikan tanaman, aku akan menyiraminya.
Aku segera mencari slang yang biasa buat nyuci peralatan di toko.
"Mau kemana?" Mas Sigit di depan ku.
"Cari slang mas!"
"Sini aku bantu!"
"Nggak usah, biar aku sendiri!"
Mas Sigit lalu menarik slang yang disimpan di bawah pohon disamping kran.
__ADS_1
Dari luar aku bisa melihat Sri dan Eko di dalam cekikikan melihat aku dan Mas Sigit.
Mas Sigit ternyata cekatan juga. Dia sudah membawa slang yang aku cari.
Ternyata di restoran Ara heran melihat Mas Sigit yang membantu ku menyiram tanaman.
"Sejak kapan Mas Sigit mau mengurusi hal-hal sekecil itu. Ada rasa aneh di hati Ara.
Tapi tidak mungkin kalau Mas Sigit naksir Wahyu." Batin Ara . Sontak badan nya lemas.
"Baiklah aku akan cari tahu! Ada apa antara mereka" Ara berkata pada dirinya sendiri.
"Mas, sebentar ini ada sesuatu!"
Ara menghampiri Mas Sigit.
"Apa?tunggu dulu!"Masih terus menyiram tanaman sedang aku memotong ranting-ranting yang sudah tua.
" Mas!!"Ara teriak makin kencang.
Akupun menoleh. Eko seger keluar.
"Sini mas, biar saya saja yang nyiram! Ada tamu mungkin!" Eko kayaknya takut kalau terjadi apa-apa.
"Biarkan saja!" Sambil memberikan slang ke Eko. Bukannya ke restoran namun Mas Sigit malah ikut aku menyiangi rumput.
Aku sama Eko tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sedang Ara keluar.
"Mas!ada hal penting yang mau aku bicarakan!"
Aku mundur. Namun tiba-tiba Mas Sigit meraih tanganku di hadapan Ara. Semua kaget. Aku terpana bingung harus bagaimana.
***
__ADS_1