SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
DEKAT


__ADS_3

Aku merasakan melayang karena bahagia. Ternyata dugaanku selama ini salah. Pantas saja Ara sangat dekat dengan Mas Sigit. Dan Mas Sigit terlihat sangat menyayangi. Tanpa kusadari aku tersenyum seolah menemukan berlian.


Sepasang mata tanpa kusadari mengawasiku dari tadi. Saat aku mendongakkan kepala, dia berikan pandangan yang semakin aneh ku rasakan.


Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku yakin Mas Sigit tahu kegalauanku. Dan kini seolah dia membaca pikiran dan hatiku.


Hhhmmm hatiku sejuk laksana hujan di gurun pasir. Semerbak wangi bagai taman bunga.


Desiran halus tak bisa ku hindari lagi.


Aku makin yakin hatiku menyukai nya.


Kubalas tatapan Mas Sigit tidak seperti biasanya. Aku yakin dia bisa mengerti.


"Uhuyyy... " Eko mulai iseng mengganggu.


Aku seolah tersadar.


"Mbak ayo pulang!" ajaknya.


"Ya sudah tunggu apa lagi!" jawabku sambil mengambil tas. Sri mengikuti.


"Ke bioskop dululah!!" mas Sigit berseru. Dia masih duduk.


"Lain kali saja mas!" aku menjawab cepat.


Eko dan Sri berpandangan kaget.


Sri hanya manyun. Aku berdiri. Semua terdiam.


"Ya sudah diajak jalan-jalan kok tidak mau!"Mas Sigit akhirnya ikut berdiri. Sambil mengedipkan mata padaku.


Aku kaget. Duuhh makin berani. Untung Sri dan Eko tidak ada yang melihat .


Akhirnya kamipun keluar dari mall. Tapi muter jalan pulangnya. Sri dan Eko berjalan cepat di depan. Secara langsung aku dan Mas Sigit berdampingan.


Aku yang baru sekali menginjakkan kaki dimall sangat bahagia. Apalagi bersama bos tampan nan baik hati. Yyuuuhhhuuu...

__ADS_1


***


" Aahhh... capek sekali mbak!" Sri berguling-guling dikasur. Aku yang baru saja dari kamar mandi.Hanya tersenyum melihat mukanya.


Sudah jam sembilan malam.


"Tapi senang kan??" Aku duduk disamping nya. Wajah mas Sigit kembali hadir. Hatiku masih berbunga-bunga.


"Seneng banget mbak!"


"Eehh, ternyata Ara sudah punya tunangan!"


Sri mengungkit lagi. Aku mengangguk .


"Iihhh.. mbak Wahyu kok merah mukanya."


"Apaan sih kamu!" Jawabku sambil memukul bahunya dengan bantal.


"Hi hi hi..aku benar kan??" Sri melihatku seolah menghakimiku.


"Sri..kenapa sih kamu?"


"Eehh mbak.. Kira-kira kalau mas Sigit masih sendiri.. gimana?"


"Mana aku tahu, bukan urusan kita!" jawabku berusaha menghapus bayangan Mas Sigit yang selalu mengikuti langkahku.


"Sudahlah ayo tidur!Besuk kita kerja!" jawabku sambil merebahkan diri. Aku tak ingin Sri melanjutkan omongan nya.


Aku takut akan berharap yang berlebihan. Biarkan semua rasa ini tetap kusimpan.


**


Toko sudah buka. Ternyata Eko duluan lagi.


"Tumben pagi banget!" Sri mendekati Eko.


"Ya.. tadi kan aku cari bensin dulu!"

__ADS_1


Aku merapikan meja kasir. Tak lama suara mobil mas Sigit datang. Hatiku berdebar kencang.


Dan.. benar.. senyum manisnya mebuat ku melayang.


"Selamat pagi!" Sapanya padaku dan Sri.


Aku kaget. Tidak biasanya.


"Hai, kok malah pada bengong!"


"Pagi pak bos!" Eko yang menjawab.


Mataku beradu pandang dengan mas Sigit.


Diapun melangkah mendekati meja kasir.


"Sudah sarapan??" tanyanya lirih.


"Dari rumah." Tak berani aku memandangnya.


"Ke restoran dulu ya!" pamitnya.


Aku hanya mengangguk tanpa bisa berkata sepatah katapun.


Kulihat punggung nya yang berjalan ke arah restoran.


"Cie.. cie... sekarang sudah ada acara pamitan!"


Mukaku merah.


"Lho kan tidak hanya kepadaku pamitnya!"


Aku tertawa berusaha menutupi semerbak mewangi hatiku.


Tiba-tiba ada sebuah mobil warna hitam masuk. Keluarlah seorang wanita cantik memakai rok pendek.


Eko sampai melongo menatap nya.

__ADS_1


Akupun jadi bertanya-tanya Siapakah dia??


***


__ADS_2