
Aku melirik jam ditangan, sudah jam dua lebih seperempat. Aku jadi gelisah. Pasti mas Sigit akan marah. Aku datang telat. Apalagi mbak Erna yang shift pagi.
Harus bagaimana ini? Masa aku akan berlari? Sedang angkot sering berhenti karena ada penumpang. Ya Allah, tolong hambaMu ini.
Baru kusadari ternyata di kota banyak lampu merah. Ingin menangis rasanya. Aku menyesal tadi kenapa lama main pasar. Kutak mengira kalau pulangnya akan ada drama seperti ini.
Semua orang di toko ribut.
"Kenapa tadi kamu baru bilang kalau Wahyu berangkat sendiri?"Mas Sigit merah mukanya.
" Gimana kalau terjadi apa-apa?"
Eko hanya menunduk.
"Maaf mas, mbak Yuk semangat banget tadi pas berangkat. Semula kan aku akan mengantar,, eee.. malah dia nyuruh aku bareng Sri." Eko merasa bersalah.
Mas Sigit memegang kunci mobil.
"Sri.. biasanya kemana sih, kalian main?"
"Kami hanya ke pasar mas!"
"Tidak pernah kemana-mana!"Sri makin panik.
Ara berlari ke arah Mas Sigit.
"Mas, ada tamu katanya dari pusat!"
"Aduh, iya aku hampir lupa!"
"Ada apa sih, kalian tegang banget?"
"Ya .. mbak Wahyu belum sampai di toko padahal sudah berangkat dari tadi."
Eko menjelaskan.
"Sendiri?"
"Ya mbak! Sri bareng sama aku!"
"Semoga tidak terjadi apa-apa!"
Ara kembali ke restoran.
"Sri, bisa kan jaga kasir. Aku mau pulang ada acara.Tadi sudah ijin sama mas Sigit."
__ADS_1
"Ya mbak!"
Eko diam termenung di depan toko.
**
Aku makin tidak tenang, karena angkot masih berhenti lagi.
Sepertinya tidak akan terlalu jauh kalau aku berjalan. Hanya jarak dua blok.
"Masih lama pak?" tanyaku pada pak sopir.
"Sebentarlah,siapa tahu tambah lagi."
Aku sudah ingin menangis.
Penumpang lain juga geram karena sering berhenti.
"Pak, saya harus segera sampai nih ditempat kerja!"
Lega rasanya ada yang senasib denganku.
"Ya mbak saya juga sudah telat ini!"
Ku beranikan diri bersuara.
Akhirnya berjalan pelan angkotnya.
Dibelakang nampak ada angkot lain yang searah.
Pak sopir menginjak gas..
"Aduhh.. pelan-pelan pak!" semua pada teriak.
Namun tidak memperdulikan. Badan kami terguncang dan saling berbenturan.
"Dduuuaaarrrr!!"
Angkot berhenti. Ternyata ban belakang ada yang pecah.
"Ya Allah.. " aku memekik tanpa sadar.
Sungguh kaget. Tiba-tiba angkot berhenti.
"Ada apa ini pak?" Wanita tomboi disamping ku mulai emosi.
__ADS_1
"Maaf semuanya ban saya pecah."
"Hhhaaa..?" kompak kami menjawab.
Lemas lututku kurasakan.
Jam sudah setengah tiga.
"Maaf, oper sendiri disini."
Aku lihat tinggal satu blok lagi sampai di toko.
Sudahlah aku berjalan saja. Daripada naik angkot lebih lama.
Aku kan jago jalan.
Trotoar ku anggap jalan setapak di sawah seperti di kampungku.
Langkah makin cepat saat bertemu orang-orang yang nongkrong.
Keringat rasanya membasahi tubuh. Aku tidak memperdulikan lagi kakiku yang mulai kelelahan.
Makin ku percepat jalanku. Rasa haus tak tertahan lagi.Perutku spontan juga minta diisi. Pengalaman pertama ku ini tak kan kulupa seumur hidup.
Aku ingat emak, Mas Ari dan Didik. Ingin ku berlari menemui kalian.
Semoga sehat selalu.
Sebentar lagi aku sampai ditoko. Aku harus minta maaf sama Mbak Erna.
Apa ya alasanku? Biarlah mereka marah yang penting aku jujur. Papan nama sudah terlihat. Aku makin tidak sabar. Lega rasanya.
Aku masuki lahan parkir.
Mas Sigit terlihat di restoran sedang berbincang dengan seorang pria.
"Assalamu'alaikum!"
"Waalaikumsalam" Sri berhambur memelukku.
"Alhamdulillah." Eko berseru.
"Ada apa?maaf ya aku telat!"
Sri dan Eko hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa.
__ADS_1
Aku bingung sikap mereka.
***