SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
BIMBANG


__ADS_3

Aku termangu di atas tempat tidur. Malas rasanya aku bangun.


Udara dingin menusuk tulang. Suara hembusan angin tersakiti perih di relung hatiku.


Hatiku mengembara entah kemana.


Silih berganti wajah-wajah orang yang kusayangi hadir hadir dipelupuk mataku.


Ya.. wajah emak yang ayu... yang slalu berkorban untuk ku. Rasanya sedih meninggalkan nya dan aku malah main mencari ketenangan diri ke rumah Bulik. Rasa bersalah menyergao hatiku.


Ya... aku akan pulang.


Esok.


Sepintas wajah Didik muncul. Aku ingin menepis nya. Mungkinkah aku masih bisa bertemu lagi dengannya?


Entah hampa kurasakan.


Perbedaan antara kami sangat jauh berbeda.


Ya... Didik orang tuanya pensiunan polisi. Cukup disegani di kampung.


Membayangkan bisa bersamanya saja sudah membuatku melayang-layang di udara.


Siapalah aku ini.. Hanya gadis miskin yang kebetulan bisa mengisi hari-harinya.


Aku tahu Didik sangat menyayangiku. Dia sangat berani.. tanpa memandang status sosial ku.


Namun apa daya.. aku harus sadar diri.


Seminggu ini aku tidak tahu apa kabar nya.


Mungkin dia melanjutkan kuliah.. Dan harus itu!

__ADS_1


Suara ayam jantan yang semakin banyak mengingatknku bahwa waktunya keluar kamar.


Ku betulkan jaket yang menghangatkan tubuhku.


Segera aku ke dapur. Bulik masih di sumur suaranya.


Segera ku nyalakan tungku.


Suara Mas Ari terdengar lirih berbincang dengan Bulik.


"Ya... nanti aku mau panen cengkeh biar dibantu Yudi".. sayup-sayup kudengar suaranya.


Tidak seperti biasanya hatiku dingin saja... Mungkin karena cuacanya yang masih sedingin es.. hhhmm... ngeles saja.


Bulik lalu menyuruhku buat kopi. Dan memberiku sayuran untuk dimasak.


Sikap Bulik sedikit berubah. Ya.. aku paham mungkin karena aku terlalu lama menginapnya.


Dalam hatiku kuputuskan.. besuk aku harus pulang ke kampung ku sendiri.


Ingin aku lebih lama disini... Namun juga tidak enak lah kalau lama-lama.


Seperti hari-hari kemarin... Aku jaga rumah sambil menjemur cengkeh.


Aku dengan setia menunggui supaya tidak ada ayam.. burung yang mengobrak-abrik..


"Dik Yun.. " suara halus memanggilku.


Rupanya Mas Ari sudah selesai mencari rumput buat kambingnya.


"Ya.. Mas.. kok cepat sekali.. ".. aku pura-pura heran walaupun dalam hatiku senang dengan kehadirannya..


" Ya.. kan hari Jum'at.. mau Jum'atan nanti... "katanya sambil mengunyah kacang atom.

__ADS_1


Diapun duduk di seberang ku.


Tidak banyak kami berbincang... Karena aku sendiri juga sedikit sungkan padanya.


Aku sangat menghormati nya.


Sikap nya yang sopan menggetarkan hati. Tapi sepintas aku dengar dia sudah ada yang punya.


Tidak terlalu mengecewakan hatiku.


Karena aku sendiri juga masih belum mengerti bagaimana kelanjutan kisahku dengan Didik. Setelah lama kami tidak bertemu.


**


Aroma wangi nya yang khas..Harum sabun mandi Lux berhembus halus di hidungku...


Memakai sarung dan koko berwarna putih.. Ahhayyy.... aku terpesona...


Diapun pamit ke masjid.. sholat Jumat.


Aku trkadang heran dengan sikapnya...


Kenapa dia begitu manis.. tapi aku takut kecewa... makanya ku tepis jauh-jauh rasa itu.


Ku anggap hanya angin lalu.


Sore ini terasa syahdu buatku.. entah karena aku mau pulang atau memang mendung yang seolah melengkapi perasaan hatiku yang gundah gulana.


Mas Ari tidak kelihatan batang hidungnya. Sepertinya aku belum tahu dia berangkat untuk main voly.


Aku menunggu langkah-langkah kakinya yang berlari-lari kecil sambil mengunyah permen kesukaannya.


Duuhhh... Mas... padahal aku ingin memandangmu lebih lama hari ini...

__ADS_1


Karena esok.. aku tak akan bisa melihat wajahmu lagi...


__ADS_2