
Sri menyanyi lagu yang tidak pernah kudengar. Ya, aku kan termasuk gadis yang kurang menyukai musik. Mungkin karena aku tidak bisa menyanyi. Alasan yang jelas dan pastikan? Hi Hi..
Suara Sri lumayan juga ternyata. Eko yang dari tadi duduk depan kamar ikut menikmati nyanyian Sri.
Dia merasa senang sekali.Gadis yang disukai ternyata memiliki suara yang indah.
Aku keluar dari kamar mandi.
Sri melihat ku..
"Wooww, cantiknya baju baru ya!"
"Tidak! Kapan aku beli?"
"Trus? " Sri masih penasaran.
"Bukan, ini baju lama yang baru dipakai!"
"Ooo... begitu!"
"Pas banget mbak!"Sri memberikan jempol.
Kupukul lembut pundaknya.
Aku segera berdandan. Memakai bedak tipis.
Kalau lipstik aku jarang pakai.
Malas.
"Ayo segera berangkat!"
Kuraih tas ku yang didekat Sri.
"Siap!" Sri berdiri dan membuka pintu.
Aku mengikuti Sri dan menguncinya. Kumasukkan kunci ke dalam tas.
Ringan sekali langkahku hari ini.
"Eko, berangkat dulu!"
"Ya mbak, aku susul!"
__ADS_1
Eko menutup pintu kamarnya.
**
Tepat di depan restoran dan toko angkot berhenti. Rasa senang menyergap hatiku. Padahal aku belum tahu alasannya.
Namun aku sangat bersemangat hari ini.
Aku dan Sri masih di depan toko. Ada sebuah mobil masuk ke lahan parkir.
Ternyata Mas Sigit..
Aku menoleh.
Mas Sigit melihatku tersenyum. Dia masih menatap ku. Aku jadi malu.
"Ada apa mas?" Tanyaku.
"Tidak apa-apa, kalian sudah datang?!"
"Ya mas, buat bayar yang kemarin aku terlambat!" jawabku sambil menunduk.
Mas Sigit tertawa.
"Belum sampai, katanya juga mau berangkat kok tadi."
Belum selesai kami bicara Eko sudah masuk.
"Ada apa?" Eko gugup melihat ku dan Mas Sigit diluar.
"Panjang umur! Baru saja di omong!"
"He he he... aamiin. "
"Tidak apa-apa.. Jangan lupa mulai hari ini pulangnya mundur setengah jam lagi."
"Laksanakan bos!" Eko memberikan sikap tentara kepada komandannya.
Aku dan Sri segera kedalam.Ganti baju. Eko segera menyapu.
Kerjasama kami sangat kompak. Tidak ada yang saling iri. Semua dikerjakan bersama-sama. Mbak Erna sudah keluar karena anaknya tidak bisa ditinggal. Jadi tinggal kami bertiga sekarang. Makanya harus siap lembur.
Mas Sigit kepergok sedang memandang kami dari restoran.
__ADS_1
Kuakui kali ini jantung ku berdebar kencang.
Aku dan Sri segera menata barang-barang yang baru datang. Menyiapkan pesanan hari ini.
Mas Sigit datang ke toko.
"Ada apa mas?"
"Hhmm... tidak apa-apa, varian rasa yang baru nanti datang. Taruh di etalase depan."
"Baik mas!"
Mas Sigit berdiri disampingku. Ketika aku akan melangkah dia juga melangkah tentu saja kami bertubrukan. Untung aku sedikit menunduk. Jadi wajahku menatap dadanya.
"Maaf, maaf!" Aku kaget.
Mas Sigit memegang tanganku. Namun reflek kutepis. Dia yang gantian kaget.
"Tidak apa-apa, sengaja juga boleh!" gumam nya jelas ditelingaku.
Aku jadi malu.
Mas Sigit segera berlalu ke toko dengan senyum menawannya.
Aku masih lepas. Duduk dimeja kasir.
Sri tertawa melihat ku.
"Asyik- asyik...!"
"Apaan sih?"
Ku cubit tangannya.
"Aduh, Mas Eko aku dicubit nih!"seru Sri.
" Halah, lapor gitu saja!"
Eko tertawa. Mas Sigit terlihat sedang berbicara dengan Ara lagi. Mendadak aku jadi kesal. Aah rasa ini kembali hadir.
Segera kesibukan diri.
Sementara Sigit hatinya juga tidak menentu. Hari ini Wahyu terlihat lebih anggun. Baru kali ini ku bertabrakan dan hatiku bergetar. Aahh.. kenapa mataku ingin selalu melihatnya??
__ADS_1
***