SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
HARUS BAGAIMANA


__ADS_3

Aku terbentang, tidak bisa berkata-kata.


Mas Sigit menatapku lekat.


Sri dan Eko menjauh. Mereka segera ke belakang.


Mas Sigit menarikku ke depannya.


"Kamu mau disini atau keluar?" Tanya Mas Sigit masih dengan nada garang.


"Disini saja mas!" jawabku. Aku ketakutan.


Karena aku tidak ingin Ara melihat kejadian ini.


Entah apa yang merasuki Mas Sigit.


Sikapnya berubah jauh dari biasanya.


Namun ada sisi lembut yang kurasakan .


"Yuukk.dengarkan aku!"


"Kamu boleh tidak percaya siapapun, namun kamu juga tidak percaya padaku!? "


"Aku tanya padamu!"


"Apa yang harus saya percaya? ada apa?"


Aku beranikan diri tanya. Karena tidak ingin Mas Sigit melihat aku ke geer-an. Yakin kalau Mas Sigit menyukaiku. Walau aku merasa seperti itu. Karena aku sadar seperti si pungguk merindukan bulan.


Mas Sigit bukannya menjawab. Justru memegang lenganku erat.


Sampai kurasakan sakit.


"Mas, sakit lepaskan!" ucapku lirih.


Lalu dilepaskan tangannya.


"Kamu jangan pura-pura!"


"Tidak!! jawabku. Kutatap matanya. Ada cinta disana. Ada kesungguhan. Oh Tuhan aku harus bagaimana?? Hatiku bergemuruh tak menentu.


Mas Sigit mengusap wajahnya. Di palingkan matanya ke arah restoran.


" Duuh sebentar lagi, waktunya pulang, jangan sampai Ara mencari Mas Sigit." batinku.

__ADS_1


"Dengar, aku harap kita jujur dengan hati kita!"


Mas Sigit sudah melunak suaranya.


Aku diam. Karena bingung tidak tahu harus bicara apa.


Belum sempat aku menjawab. Ada mobil yang masuk ke halaman. Keluarlah seorang ibu-ibu.


Ada pembeli.


. Ku dorong mas Sigit agar menjauh dariku.


Sri ke luar dari belakang. Eko ke depan mulai beberes.


"Mari bu..silahkan masuk..ibu mau apa?" Sri menyambut ramah.


"Bolu saja dan kue kering mbak!"


Segera ibu itu memilih banyak sekali.


Aku senang karena lama juga. Mas Sigit di pojokan berbincang dengan Eko.


Terlihat akan marah karena ibu pembeli tidak segera selesai.


Ara datang ke toko.


Jadi dia tidak akan curiga apa yang dilakukan mas Sigit.


"Mas, semua sudah kurapikan! Aku pulang ya!'


" Kunci dimana?"


"Masih diatas mejamu!"


"Ya baiklah!"


Mas Sigit ke toko. Saat berjalan melewati ku, dia mengedipkan mata genit. Aku melotot.


Akhirnya ibu itu selesai juga belanja.


"Eko, yang sudah kamu siapkan buat pesanan besuk disiapkan lagi saja!"


"Baik mbak!"


Aku berusaha menguasai diriku untuk fokus ke kerjaan.

__ADS_1


Mas Sigit sudah mematikan lampu restoran.


Aku masih sibuk dengan Sri.


Mas Sigit ke arah toko. Hatiku jadi gundah gulana lagi. Aku tidak peduli dengan kehadirannya. Kusembunyikan kepanikan dalam diriku..


Kedatangan Mas Sigit bukan membuat kami bekerja dengan cepat tapi justru jadi lambat.


Karena ada saja yang ditanyakan.


Aku benar berusaha untuk tidak menoleh ke arahnya. Biarkan saja entah apa yang tersembunyi dalam benaknya.


Selesai sudah beres-beresnya.


Eko menunggu di depan. Sementara aku dan Sri ganti baju.


"Mbak, Mas Sigit masih mau bicara tuh!"


Sri berbisik-bisik.


"Ya aku tahu!"


"Entah mau bicara apa!"


Aku dan Sri keluar. Ku kunci pintu toko. Kuserahkan kuncinya pada Mas Sigit.


"Aku ingin bicara!"


"Sri, kamu pulang sama Eko ya!"


Aku menoleh ke arahnya.


Sok berkuasa banget.Gumamku dalam hati.


"Ya, silahkan bicara ada apa mas!"


"Kita lanjutkan pembicaraan kita tadi yang sempat terputus."


Mas Sigit tak ingin dibantah. Aku menurut.


Sri dan Eko memandangiku. Mereka menunggu reaksi ku.


"Baiklah..! namun sebentar karena sudah larut!"


Eko dan Sri segera berlalu.

__ADS_1


Mas Sigit menatap ku manis. Jantungku serasa berdetak kencang.


***


__ADS_2