SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
KE MALL


__ADS_3

Akupun berjalan dengan cepat ingin segera sampai ke toko. Bagaimana tidak merasa bangga.. walau aku dengan model seperti ini mas Sigit begitu perhatian. Aku senyum sendiri.


Namun kehadiran Ara memudarkan semua. Kenapa bisa dia dengan tenang masuk ke kantor Mas Sigit. Terlihat kalau sudah biasa sekali. Ahh.. biarlah.


Nampak Eko dan Sri menungguku.


Biasanya kalau aku dipanggil Mas Sigit mereka akan memperlihatkan kecemasan. Tapi mereka biasa saja. Aku sedikit heran.


"Ada apa mbak?" Sri langsung bertanya.


Ku jelaskan seperti apa yang tadi Mas Sigit bilang.


"Gimana kamu mau ke mall?"


"Horee...!!" Sri kegirangan sekali. Eko ngakak melihat tingkah Sri.


Ternyata tanpa kami sadari ada sepasang mata sedang memperhatikan kami.


**


Eko tidak ada. Entah kemana. Padahal toko lagi rame. Akhir tahun sudah mulai terasa. Pengunjung yang beragama non


muslim sedang pesan beberapa aneka roti dan kue.


"Sri, kok capek ya hari ini!"


"Ya mbak, sama.. Eko kemana ya?" Sri keluar mencari jejak Eko.


"Kok, nggak ada sih mbak.. tumben juga tidak bilang-bilang."


Sri menggerutu.


Aku diam saja sambil melanjutkan menghitung pemasukan.


"Kan sudah mau tutup, malah kabur."


Sri nekad ngomel nya.


"Jadi gadis jangan bawel.. marah-marah terus!" Eko tiba-tiba muncul.

__ADS_1


Sri yang sedang memegang kemoceng spontan dipukul kan ke bahu Eko.


"Dari mana saja?" Akupun bertanya.


"Dipanggil mas Sigit mbak!"


Aku tidak berkomentar hanya mengernyitkan dahi.


Eko juga tidak cerita apa-apa.. Ya sudah lah.


Setengah jam lagi waktunya pulang.


Sri mendekatiku.


"Mbak, jadikan kita ke mall!"


"Aku ingin sekali , biar kalau pulang kampung aku bisa cerita. ke teman-teman." Sri penasaran.


"Entahlah.. kita tunggu saja Mas Sigit. Apa tadi itu beneran atau hanya dia mimpi."


Sri tertawa.


"Sudah mbak.. yuk kita tutup."


Kulihat Mas Sigit sudah siap. Dengan kaus warna putih dan celana jins biru. Makin kece. Akupun jadi tidak bosan memandang nya.


Namun segera ku paling kn muka. takut ketahuan Sri dan Eko.


"Ayo.. kutunggu didepan ya mbak." Eko semangat banget.


"Kamu juga ikut?"


"Ihh.. mbak maunya aku tidak ikut? lha siapa yang mau nemani Sri?" Eko balas menggodaku.


"Apa maksudmu?"


"Ya kalau mbak sama mas Sigit, masak Sri cuma disuruh jadi penonton!" Jawabnya tertawa.


"Awas ya kamu!"

__ADS_1


Baru saja mau kulempar kertas Mas Sigit malah masuk.


"Ada apa sih kalian rame, aku tidak diajak!"


"Ini nih mas, aku diserang para wanita-wanita cantik rebutan aku!" Eko dengan gagahnya menjawab enteng.


Semua tertawa.


"Kamu tuh ya..!!" Mas Sigit meninju bahu Eko.


"Gimana kalian sudah siap?"


"Ya sudah mas, nanti jangan malam-malam ya!" Aku bersuara.


" Ha ha ha.. kamu itu kayak anak tk saja." Akupun tersipu.


"Sebentar Ara masih ganti baju.Dia mau ikut."


Aku terkejut mendengar nya. Hatiku yang semula berbunga-bunga mendadak menjadi layu.


Apa sih arti semua ini?? batinku.


Eko segera mengajak semua keluar. Dia akan mengunci pintu. Aku dan Sri diam saja dan duduk di kursi taman toko.


Mas Sigit dan Ara berjalan beriringan. Nampak mereka serasi sekali. Kali ini baju mereka kembali kembaran. Sengaja atau tidak disengaja aku tidak tahu.


"Yuukk.. semua masuk mobil!"


Aku dan Sri duduk dibelakang. Eko sudah masuk duluan dibelakang sendiri.


Ara penuh percaya diri duduk disamping mas Sigit. Dari kaca nampak Mas Sigit melihatku. Ara sibuk menyalakan radio.


Terdengar lagu "Mungkinkah" Stinky.


Ya.. benar.. Mungkinkah...


***


Mas Sigit berjalan ke parkiran.

__ADS_1


__ADS_2