SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
DIANTAR


__ADS_3

Baru kali ini rasanya waktu ingin kuputar kembali. Sebentar lagi sudah waktunya pulang. Kulihat Mas Sigit sudah mondar-mandir. Walau tidak melihat ke arah toko. Namun jantung ku sudah berdebar.


"Mbak.. aku makin penasaran nih!"


"Biasa saja.. kan yang buat kesalahan aku."


"Apapun maunya nanti kita lihat saja."


Aku mencoba setenang mungkin.


Jam sembilan tepat semua sudah rapi. Toko siap ditinggalkan.


Aku dan Sri ganti baju. Sedang Eko duduk diluar.


Sri terlihat tegang.


"Biasa saja mbak!Yuukk..!"Ku colek bahu Sri supaya tersenyum.


Sri malah duduk lagi di kursi.


Aku paham. bagaimanapun Sri masih kecil. Karena keadaan saja dia terpaksa harus mencari nafkah.


Harusnya dia masih duduk di kelas tiga SMU.


Beginilah hidup.


Aku melangkah keluar.


Sri mengikuti ku dari belakang.


Mas Sigit belum ada. Lampu di restoran masih nyala. Berarti masih ada orang.


Eko masuk kembali ke toko.


" Kayaknya Mas Sigit masih sibuk."


"Kamu pulang dulu tidak apa-apa, kan tadi yang disuruh nunggu aku sama Sri!"


"Oohhh, No! Tidak!Aku akan tetap disini!"


Sri tersenyum.


Lampu restoran baru saja dimatiin.


Mas Sigit pasti sebentar lagi keluar.


Aku menyiapkan hati dan pikiran.


Benar juga.

__ADS_1


"Maaf ya, kalian ku buat nunggu."


Mas Sigit menampakkan kharismatiknya.


Kemeja panjang hitam digulung selengan.Celana bahan warna senada.


Apa mungkin karena sudah malam ya jadi makin tampan? halah..


"Tidak apa-apa." Aku mencoba menjawab. Walau suara terasa berat ku keluarkan.


Sri dan Eko hanya menganggukkan kepala.


"Hei, kenapa kalian tegang sekali?"


Mas Sigit berusaha mencairkan suasana.


"Ada apa mas?"


"Mengenai kejadian hari ini saya minta maaf!" Suaraku bergetar.


"Apapun keputusan Mas akan saya patuhi!"


Mas Sigit malah memandangku tajam.


"Memangnya aku mau ngomong apa?"


Mas Sigit semakin dekat dengan ku.


"Makanya jangan sok tahu!"


Ingin nangis rasanya. Emak saja tidak pernah membentak ku .


Ini hanya karena kesalahan kecil saja aku dibentak seperti ini. Mata Sri mulai berkaca-kaca.


Kugenggam erat tangan nya. Supaya dia tenang.


Eko hanya terdiam bergantian memandang ku dan Sri dengan tatapan memelas.


Kami kan hanya karyawan.


"Dengar baik-baik ya..!"


"Aku memang tidak suka ada karyawan yang telat masuk kerja tanpa pamit dulu sebelumnya!"


"Kejadian ini jangan di ulang lagi."


"Buat kalian semua!"


"Ya mas!"

__ADS_1


Mas Sigit matanya sudah tidak segarang tadi. Namun Sri sudah keluar keringat dingin.


"Sebenarnya bukan hal itu yang akan aku bahas dengan kalian!"


"Haa, lalu..??"


Eko komentar juga akhirnya.


Mas Eko malah tersenyum.


"Begini, aku mohon kerja samanya!"


"Bulan depan kan akhir tahun. Ada hari Natal dan Tahun Baru."


"Ya mas!"


"Nah, aku minta untuk jam pulangnya mundur setengah jam lagi. Semua ada harganya. Aku tambah gaji kalian.Gimana?"


Lega rasanya mendengar penjelasan Mas Sigit. Sesak nafas yang kurasakan jadi hilang.


Sri pun sudah melepaskan tanganku.


Mas Sigit tertawa saat tahu kami semua tegang.


"Kalian ini apa merasa tidak mengenalku? Apa aku ini sejahat itu?"


Mas Sigit bertanya namun hanya kami jawab dengan senyuman.


"Sudah jam sepuluh. Eko kamu boleh pulang duluan."


"Lho, Sri sama mbak Yuk gimana?"


"Ya pulang, tapi memang bisa bertiga naik motormu?"


"Mereka biar aku yang antar!"


Mas Sigit menoleh aku dan Sri.


"Oooww... ya ya ya.. baiklah aku jalan dulu."


Eko ambil motor dan jalan duluan.


"Ayo kalian ambil tasnya. Kutunggu di depan."


Sri tersenyum.


"Terima kasih mas!" Akupun bahagia.


Mas Sigit malah mengedipkan matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2