SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
JEBAKAN


__ADS_3

Sepulang Mas Sigit aku dan Sri masuk kamar dan rebahan.


"makasih ya mbak, sudah ditraktir. "


"Ya.. tidak usah berlebihan!" Aku mencoba memejamkan mata.


Aku tahu Sri ingin banyak bertanya, namun tidak berani. Aku pun juga sedang tidak ingin bicara.


Ku kenang lagi semua perjalanan kisahku selama enam bulan ini.


Dulu aku tinggal di mess. Namun karena banyak hal akhirnya aku memilih kost sendiri. Lebih nyaman. Dan dapat kerja baru.


Alhamdulillah kerjaku yang sekarang nyaman.. dan gajipun lebih sedikit.


Aku sudah merasa betah di Jakarta.


Ku lirik Sri sudah sampai ke alam mimpi.


Mau tidak mau akupun tersenyum saat ku pejamkan mata malah Mas Sigit yang hadir.


Ya Allah.. jangan lagi. Batinku.


Pokok nya hanya urusan pekerjaan aku dengan nya.


**


Sementara itu Sigit masuk ke dalam kamarnya. Segera ganti baju dan melompat ke tempat tidur.


Terbayang lagi hari ini.


Bagaimana wajah Wahyu saat masuk ke restoran berbintang. Sangat konyol! Aneh memang ini orang!


Masak ada sih, mending jajan dipinggir jalan daripada di tempat mahal? Aahh dasar orang kampung. Ditutup mulutnya sendiri. Tidak boleh menghina orang. Sigit lalu menutup wajah dengan bantal.


Tiba-tiba dia bangun.


Kalau diingat-ingat Wahyu itu sangat sungkan pada Ara. Apa dia berfikir bahwa ada hubungan??


Sigit memutar otak nya.

__ADS_1


Kelihatan sering Wahyu selalu menghindari Ara. Terutama saat ada dirinya.


Hhhmm.. Sigit ingin mengetahui . Besuk harus dibuat supaya Wahyu menunjukkan perasaan nya. Sambil memikirkan caranya, Sigit berusaha keras.Merencanakan sesuatu. Namun perlu bantuan Eko dan Ara.


Hhhmmm sudah ketemu jurus jitu. Bukankah Sigit terkenal dengan kisah petualangan yang dengan para wanita..?


Masak ini pada gadis desa saja tidak bisa menaklukkan?? Senyumnya sinis.


**


Saat mau beli sarapan, kamar Eko sudah tertutup rapat. Tumben kemana anak ini? Aku penasaran. Namun kupastikan kalau kamarnya sudah tertutup rapat terkunci.


Kok tidak pamit? aku termangu di depan kamarnya.


"Mbak, ngapain disitu?"


Sri heran dari depan pintu kamar kami.


"Eko tidak ada!" Jawabku bingung.


"Halah paling dia sarapan di tempat."


"Sudahlah mbak.. yuukk kita berangkat." Sri menggandeng ku. Aku pun segera berjalan.


**


Sampai di toko Eko sudah disana. Wajahnya kelihatan khawatir.


"Eko, ada apa?"


"Jam berapa berangkat?"


"Aku cari-cari, tidak bawa motor ya?" Aku menyerang Eko dengan pertanyaan.


Eko wajahnya datar.


"Mbak, Mas Sigit.."


"Ada apa dengan Mas Sigit?"

__ADS_1


"Mas Sigit tadi ada yang pukuli!"


Eko menunduk.


"Haa.. maksudmu?" Aku sudah keluar keringat dingin.


"Apa mas..??" Sri lebih panik lagi.


"Trus sekarang dimana? Bagaimana keadaannya?" Eko justru menatap ku.


"Mas, cepetan kasih tahu! Dimana Mas Sigit??" Sri tak kalah sengit. Aku hanya diam terduduk lemas.


"Kok kamu bisa tahu??"


"Ya mbak Ara jemput aku!"


Mendengar nama Ara sudah bersama Mas Sigit rasanya badanku melayang tidak menginjak bumi.


"Ooohh ya sudah.." Aku melangkah pelan masuk ke toko.


Eko mengejarku..


"Mbak.. tidak ingin lihat keadaan Mas Sigit?"


"Aahh.. tidak nanti saja!"


"Lho kok gitu?" Eko yang gantian bingung.


"Semoga segera sembuh!" Aku tidak menggubris mata Eko yang menatap ku heran.


"Yuukk mbak.. lihat keadaan Mas Sigit!"


Sri merengek kayak anak kecil minta mainan.


"Dirumah sakit mana?"


"Ada di ruang istirahat kantor."


Otakku sudah horor membayangkan Ara menemani Mas Sigit.

__ADS_1


**


__ADS_2