SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
TAMU BAJU MERAH


__ADS_3

Rasanya sudah lama aku tidak pulang. Sambil menanti sore, ku ingat lagi yang seharusnya tidak kuingat.


Ya.. mas Ari.. seorang yang lama ingin kulupakan. Apalagi saat ini sangat ku merindukan kampung ku.


Ingin aku,rasanya terbang sesaat. Sekedar melihatmu bermain bola voly dengan anak-anak. Mencubit ku sebelum pergi. Aahh aku rindu.


"Hai, kok melamun?" Suara Sri mengagetkan.


"Aku ingin pulang!" jawabku lirih.


"Ha, kenapa mbak?trus aku gimana?"


Sri wajahnya terlihat panik.


Kutatap sekali lagi. Perasaan bercampur aduk. Antara ingin pulang betulan dan menggoda Sri.


"Bercanda kan ya mbak?"


Aku terdiam.


"Entahlah!" Jawabku singkat tapi cukup membuatnya terkejut.


"Kok mendadak? Apa karena Mas Sigit?"


Sri masih saja penasaran.


Akupun tidak punya jawaban.


"Kok pada serius ini! Ada apa?"


Tiba-tiba Eko muncul.


"Tidak apa-apa." Aku dan Sri gelagapan.


Namun Eko mengenal baik. Sudah merasa ada yang janggal.


Aku terdiam melihat ke langit yang mendung. Awan seolah mewakili perasaan ku saat ini.


Mas Sigit nampak keluar dari restoran diikuti perempuan cantik disampingnya.


Mereka sangat serasi terlihat.

__ADS_1


Aku jadi ingat Ara. Jadi malu sendiri ternyata dugaanku salah. Toh, kalaupun wanita ini ada hubungan dengan Mas Sigit aku juga mau apa. Sah-sah saja.


Mas Sigit mengantar tamunya ke mobil. Wanita itu tanpa canggung bercanda dan menggandeng tangan Mas Sigit.


sangat mengejutkan.


Uuhh seolah di hatiku ada bara.Namun apadaya.. aku hanya bisa diam.


Sri melirik ku sesaat. Aku pura-pura tak lihat.


Wajahnya jadi sendu saat aku bilang ingin pulang


Terdengar dia mendengus kesal.


"Jangan begitu!"


"Ya mbak, aku cemas nih!"


" Aku nggak!"jawabku enteng.


"Dulu aku ingin pulang nggak boleh, masak sekarang mbak yang mau pergi!"


"Sssttss! Semua belum pasti!"


"Belum pasti kan pulang beneran?"


Sri memonyongkan mulutnya.


Tamunya sudah tidak ada lagi. Mas Sigit kembali ke restoran.


Tumben, biasanya dia pasti mampir ke toko sebentar.


Aku benar-benar kesal. Marah tidak tahu pada siapa.


Akhirnya waktunya pulang hampir tiba.


Aku dan Sri sudah beres-beres. Mas Sigit di depan pintu.


"Mau kemana kalian?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Ya pulang mas, kan sudah waktunya istirahat dirumah." Sri yang menjawab.

__ADS_1


"Kamu juga mau pulang Yuk?"


"Ya.. pulang kampung!" Jawabku sekenanya.


"Asyiikkk.. aku ikut ya!"


Degh. Hatiku jadi berbunga lagi.


"Hhhmmm..!" jawabku santai.


"Iya, sebentar lagi kita akan dapat proyek lho.. harus kerja lembur kalian!"


"Apaan mas?" Tanya Eko.


"Lihat kan, tamu yang tadi. Dia temanku baru datang dari luar negeri. Mau buka usaha disalah satu mall besar. Lha kita diberi kesempatan buat sediakan kuenya. Rasa keju seperti yang dipesan tadi."


Sri melirik ku lagi dengan pandangan setengah menggoda. Bahwa aku salah telah cemburu. Aku melotot.


Aku akui cemburu. Padahal tidak ada kata-kata yang jelas. Kalau aku dan Mas Sigit jadian.Jadi malu sendiri. Aku ini juga siapa, biasalah kalau lelaki kaya mempermainkan wanita.Duh Gusti, hampir lupa rumus itu.


"Mulai kapan mas?" tanya Eko.


"Awal tahun."


Mas Sigit berjalan ke arahku. Jantungku berdebar kencang. Aku minggir ke samping etalase. Gayanya yang santai, memukau hati.


Oohhh ternyata dia mau duduk di kursi kasir.


Aku segera mengambil pembukuan hari ini. Dan menyerahkannya.


"Kata siapa aku minta buku ini?" tanyanya genit sedikit menggodaku.


Mukaku jadi panas.


Semua tertawa.


"Ya, siapa tahu, namanya bos kalau mau cek." jawabku tidak kalah sengit.


Mas Sigit malah mengedip kan mata kepadaku. Disaat yang sama Eko dan Sri juga lihat.


Aku pura-pura cemberut. Tapi hatiku suka.

__ADS_1


***


__ADS_2