SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
ARA


__ADS_3

Aku duduk ditepian teras mushola.


Kuperhatikan Mas Sigit sedang banyak pelanggan. Aku senang dengan cara-caranya melayani pembeli. Senyuman yang manis dan tutur kata yang sopan akan melelehkan hati siapapun lawan bicaranya.


Kalau masih gadis ingin memiliki, kalau ibu-ibu dan bapak-bapak berebut ingin jadikan mantu.


Yup sejak kapan aku perhatian ke Mas Sigit.


Aku jadi malu sendiri.


"Oohhh.. lagi disini rupanya"


"Ya mbak.. ada apa?"


Ara berdiri disampingku.


"Tidak apa-apa hanya ingin ngobrol sama kamu"


"Jangan khawatir meja kasir sudah ada yang nunggu kok!"


"Siapa?" tanyaku bingung.


"Sri, tadi aku sudah bilang ke Sri bahwa aku ingin bicara sama kamu sebentar"


"Masalah apa mbak?" tanyaku penasaran.


"Apa kerja saya ada kesalahan? atau sikap saya?" aku heran.


"Bukan begitu, jangan tersinggung! "


"Beneran aku hanya butuh teman cerita."


Ara memandangiku dengan pandangan aneh. Hatiku jadi tak karuan. Dia terlihat sudah mengungkapkan.


Pasti ini masalah Mas Sigit batinku.


"Yuu, aku ingin minta bantuan"


"Hah, bantuan? bantuan apa mbak?"


Ara tertawa melihat ekpresi ku yang mungkin lucu.


"Santai, jangan tegang begitu" Ara masih saja tertawa hingga kelihatan giginya.

__ADS_1


"Aku ingin cerita, tapi tidak tahu pada siapa"


Wajahnya berubah serius.


"Dan, aku ingin jadi temanmu"


"Bukankah kita sudah berteman mbak?"


Aku merasa aneh dengan sikapnya.


. "Aku ingin kamu bersikap seperti kamu ke Sri, dan Eko"


"Karena kami satu kost mbak.. jadi hampir dua puluh empat jam kami bersama.


" Sudah mbak Ara mau cerita apa?"tanyaku jadi tak sabar.


Ara memandangiku...


"Kamu punya pacar?" Pertanyaan yang kutakutkan akhirnya keluar juga.


"Hhhmm.. ngambang tidak jelas"


"Dan lebih makin tidak jelas setelah saya ada disini"


"Kamu tidak berkirim surat?"


Aku menunduk menyembunyikan rasa rinduku padamu Mas Ari dan Didik.


Entah siapa yang pantas aku rindukan.


Mereka terlihat abu-abu untukku.


"Aku menyukai seseorang tapi kurasa dia tidak peduli" Suara Ara pelan membuyarkan lamunanku.


"Sudah yakin?mungkin hanya belum menyadarinya saja" hibur ku.


"Aahhh, sepertinya tidak!"sanggah Ara.


" Dia mencintai orang lain, Itu yang kurasakan"


Ara masih nekad keyakinannya. Aku hanya bisa menerka. Pasti Mas Sigit yang dimaksud.


"Wah, apakah dia curiga padaku?" Kulihat muka Ara yang datar saja. Namun terlihat dia menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Yuu..menurutmu bagaimana?"


Ara menatap mataku tajam.


Aku merasa tidak bisa bernafas.


Ini pasti ada hubungannya dengan Mas Sigit. Kalau tidak untuk apa dia mengatakan kepadaku.


Keherananku pada Ara masih belum ada jawaban.


Pasti karena sering melihat Mas Sigit menghampiriku.


Semoga saja Ara tidak tahu kalau Mas Sigit sering main ke kost. Bisa runyam acara.


"Hei, gimana sih kok malah bengong"


"Ya mbak aku coba berfikir." Sambil kucari kata-kata yang bisa menghiburnya.


"Oohh, kalian disini rupanya,kok di mushola malah ngrumpi" Mas Sigit tanpa kami sadari sudah berjalan menuju arah kami.


Olaa.. hatiku tidak karuan!


"Tidak ngrumpi aku istirahat, eehh malah ketemu Wahyu disini"


Ara memang gadis yang cerdas.


Dia pintar memainkan lidah.


"Ara, nanti pulang ku antar ya, sekalian ingin ketemu Andi"


"Ya siap bos"


Ara sumringah. Aku mendadak sedih dengar ucapan mas Sigit.Jadi, memang benar dia punya rasa lebih ke Mas Sigit.


Pantaskah aku terluka?


Bisa ya bisa tidak. Kuputuskan untuk berdiri.


"Maaf aku permisi dulu mbak Ara!"


"Ngapain? kan aku sudah bilang ada Sri"


Ara berusaha mencegahku. Sedang Mas Sigit justru tertawa dan mempersilahkan aku masuk ke restoran.

__ADS_1


Akhirnya,daripada.. aku terluka.


***


__ADS_2