SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
RASA


__ADS_3

Sudah seminggu aku di rumah Bulik.Aku sangat betah sekali. Tapi kalau kelamaan apa kat orang? Malampun terasa makin dingin. Suara adzan dari mushola terasa menyayat hati.Bergegas ku ambil air wudhu. Aku ingin segera menunaikan panggilan-NYA.


Di depan TV kami duduk bersama. Aahh.. suasana hangat yang ingin selalu kurasakan.


Jantungku berdetak tak menentu.


Kenapa Mas Ari belum main datang??


Acara TV tdk ada yang menarik buatku.


Aku berharap dia segera datang.


Di kampung memang tidak semua orang punya TV. Walaupun mereka mampu beli.


Mbah Putri pasti sebentar lagi datang.


Aroma cengkeh sangat menyengat. Yaa... Bulik sedang panen cengkeh. Kaki berkumpul memetiki tangkainya.. Sambil mengobrol banyak sekali.


Saat asyik bercanda... suara sandal seseorang di samping pintu.


Daannn... diapun tersenyum manis sambil duduk di sampingku.


Aroma sabun mandi yang khas.


Hhhmmm... sejak kapan aku memperhatikan penampilannya. Aku tersenyum geli dalam hati.


Tangan nya mengambil pisang goreng yang tr hidang di atas tumpukan cengkeh.


"Sudah makan? " katanya sambil memasukkan pisang ke mulutnya.


"Dari tadi... " jawabku sekenanya.


Lalu tangannya lincah memisahkn cengkeh dari tangkainya.


"Besuk semoga panas jadi bisa kita jemur.. "

__ADS_1


"Ya... nanti bagian Wahyu yg nunggu.. "


jawab Bulik sambil tertawa.


"Siaaappp... " Aku pun ikut tertawa.


Tiba-tiba dia merebahkan badannya di samping ku.


"Capek.. nanti aku mau lihat bola.. " katanya sambil memandangku.


Serta merta aku menoleh menghindari tatapannya.


Aku terkejut trnyata tangannya tiba-tiba memegang tangan ku erat.


Aku tidak bisa menolak nya.


Tanganku yang satu masih memetik cengkeh.


Dia tidak mau melepas kn tangannya. Dan aku pasrah saja. Terlalu sulit aku melepas kn genggaman nya.


Sekilas ada bayangan seseorang yg ku tinggalkan .. Ya aku ingat Didik seorang yang mengisi hari-hariku selama ini.


Tapi entah apa sekarang....masihkah kami bisa seperti dulu.


Aku berusaha melepaskan tanganku. Dia melepasnya... Tapi matanya tidak henti melihatku. Serasa menghakimi diriku.


Ya.. aku takut teramat takut dengan yang kulakukan.


Memang kisahku dengan Didik belum usai. Tapi juga tidak berjalan.


Serasa aku terjebak diantara kenyataan dan harapan.


Namun akupun juga belum yakin dengan yang kurasakan .


Karena Mas Ari adalah saudara.. ya masih saudara.. Dia adalah adik dari paklik.

__ADS_1


Meskipun demikian.. aku akui ada getaran aneh yang kurasakan. Ada keinginan untuk selalu melihatnya.


Suaranya sandalnya pun aku hapal... padahal rumus matematika susah ku ingat.


Tapi suara sandalnya.. aku hapal sekali.


Mbah Putri sudah pulang duluan.


Paklik kekamar diiringi Bulik. katanya sudah ngantuk berat.


Suara angin berhembus pelan.


Jangkrik-jangkrik bernyanyi seakan menemani kami yang dilanda rasa entah apa artinya.


Tak bisa kuingkari.. kalau Mas Ari dimataku adalah sosok yang menawan. . Orangnya rapi bersih... Cara berpakaian nya selalu pas sesuai keperluan.


Namun.. Lagi-lagi bayangan wajah Didik menghampiriku...


"Belum ngantuk dik..?? " tanyanya.


Aku menoleh.. "Belum mas.. " Jawabku sambil menyembunyikan perasaan yang makin tidak karuan.


Ku lirik jam dinding belum ada jam sembilan malam. Nanti kalau sudah jam sembilan lewat seperempat aku harus segera ke kamar.


Aku tidak enak dengan paklik dan Bulik.


Bagaimana pun kami sudah besar... kurang pantas kalau berduaan seperti ini.


Aku meliriknya.. Yang asyik mencari siaran TV yang bagus.


Pasti diapun ingin aku tetap disini... Batinku ke geer an.Segera kutepis kata itu. Kupastikan didalam hati bahwa dia adalah saudara... adiknya paklik. Aku harus menghormati sebagaimana sikapku kepada Paklik.


Akupun segera beranjak ke kamar..


"Mimpi indah... " ya... sebuah kata penghantar tidurku...

__ADS_1


***


__ADS_2