SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
RESAH


__ADS_3

Aku mempercepat langkahku. Kuingin segera duduk di meja kasir. Udara yang menyengat semakin panas buatku. Serasa dalam panggangan. Ku berjalan ke belakang tanpa pedulikan wajah heran Eko dan Sri.


Kubuka kulkas dan ambil air dingin. Segarnya sedikit mengurangi panasnya hatiku.


Sri rupanya mengikutiku dari belakang.


"Mbak ada masalah?"


"Tidak hanya haus!"


"Mbak Wahyu makan dulu.Tadi mbak Ara kesini."


"Ya tadi ketemu di mushola"


Sahut ku cepat supaya Sri tidak berfikir buruk.


"Maaf,kok tumben ya mbak Ara nyari mbak Wahyu"


Sri dengan wajah lugunya , kelihatan bingung campur cemas.


Aku tersenyum.


"Santai Sri, hanya tanya bagaimana penjualan produk baru kita"


"Baiklah kalau begitu."


"Bener nih?"


"Ya iyalah, masak aku bohong!"


"Sudah, sana ke depan aku mau makan!"


Ku dorong badan Sri agar mau kembali ke toko.


"Aku mau makan, nanti kalau toko kosong Mas Sigit marah!"


"Siap bu!"


Sri kembali menggodaku.


Aku pukul lembut pundaknya.

__ADS_1


*


Ku pandangi nasi kotak didepanku.


Ya setiap hari kami sebagai karyawan selalu dapat makan siang.Namun kali ini selera makanku hilang.


Aku masih kepikiran sikap Ara yang tiba-tiba berbicara denganku.


Belum lagi sikap Mas Sigit kepadanya.


Apakah benar laki-laki yang disukai Ara mas Sigit? Uuuhhh... kenapa aku memikirkan hal ini??


Segera kubuka plastik bungkus sendok.


Lebih aku segera makan. Biasanya Mas Sigit keliling memastikan karyawan toko dan restoran harus semua makan siang.


Tapi kenapa hari ini beda?


Aahh biarlah.. Yang penting aku kenyang.


Kudengar toko ramai pembeli.Ku bersihkan gudang tempat kami istirahat , ganti baju, dan makan.


Lalu aku masuk ke dalam toko.


Sri ku beri kode untuk mundur. Aku lalu ke meja kasir. Tanpa sengaja mataku melihat ke arah restoran. Mas Sigit sedang di meja kasir juga.Memang tampan!


"Mbak, pesanan kita hari ini belum datang!"


"Sudah hubungi Mbak Tatik"


"Belum mbak"


Aku segera memutar telepon minta pesanan segera diantar.


Mas Sigit berjalan ke arah toko. Ku segera menunduk seolah sedang membersihkan meja.Entah kenapa aku tidak ingin bicara dengannya.


Terbayang tatapan mesranya kepada Ara. Bagaimana Ara mesra kepada Mas Sigit. Aku bukan cemburu hanya tidak suka.


Beda tidak sih??Iiihhh... aku bingung!?


"Yuuukkk.. nanti kamu lembur ya! Erna ijin tidak bisa masuk anaknya tiba-tiba panas"

__ADS_1


"Ya mas!" Jawabku tanpa menoleh.


Mas Sigit masih berdiri di tempat nya.


"Hanya itu?"


"Maksudnya? "


Gantian aku yang tidak ngerti.


Akhirnya ku dongakkan kepalaku.


"Sri akan menemani kamu!"


Aku tidak menjawab dan tidak merespon.


Hanya kulihat Sri yang tepuk tangan tanpa suara didekat rak dagangan. Sambil melambaikan tangan tanda setuju.


Aku pun tersenyum lihat tingkah konyolnya.


Mas Sigit lalu kembali ke restoran.


Sebentar lagi jam pulang. Aku penasaran bagaimana mereka akan melewati pintu.


Akankah bersama-sama atau gantian?


Ku lihat Ara keluar dengan celana jins dan kaos lengan panjang hijau. Dilengkapi dengan tas ransel kecil. Rambutnya dibiarkan tergerai. Memang cantik.


Kuperhatikan Ara bukan gadis biasa. Pasti dia berpendidikan. Cara bicara, jalan dan dandannya kelihatan. Penampilan nya juga menarik.


Lalu ku bandingkan denganku. Hanya gadis desa, Sekolah pun hanya SLTA.


Tidak heran kalau laki-laki seperti Mas Sigit menyukai.


Pasti sesuai dengan tipe Mas Sigit.


Tak lama Mas Sigit keluar dengan kaos warna hijau juga. Duuhh mereka kembaran warna baju. Bolpoint yang kupegang jatuh.


Kupandang mereka berjalan menuju ke tempat parkir.


Hati kursi dirimu.

__ADS_1


***


__ADS_2