
Malam makin larut. Suara binatang malam seolah mengerti betapa gelisah nya hatiku.
Ya... sudah kumantapkn hati esok aku harus pulang.
Tadi sore aku sudah pamitan sama Bulik. Bahkan sudah disiapin oleh-oleh. Hatiku kenapa sedih seperti ini? Serasa hampa..
Ada yang mengganjal di pikiranku...
Suara televisi masih menyala.
Artinya Mas Ari belum pulang. Memang dari tadi ingin lihat bola katanya.
Aku sebenarnya masih berharap bisa bicara banyak dengan nya.
Namun tetap ku menahan diri. Jangan sampai Bulik menganggap aku tidak tahu malu.
**
Akhirnya matahari menampakkan diri.. Terasa hangat kurasakan.Aku masih dikamar.. membereskan pakaian.
"Yu... ayo makan dulu".. seru Bulik dari dapur.
" Ya sebentar... " jawabku sambil menyiapkan tas jinjing.
Kamipun sarapan. Bulik memberiku sejumlah uang buat ongkos naik bus.
"Terima kasih... malah dapat sangu(bekal) .. " akupun tertawa.. dan Bulik pun ikut tertawa.
"Tidak apa-apa.. lain kali main ke sini. "
"Siap... ".. Ya... pastilah aku kesini lagi.. "
"Tapi tunggu Ikut dulu lho ya Yu... " pak lik yang mau berangkat ke sawah teriak kepadaku.
"Tentu.. kan belum pasti juga kapan aku bisa kesini lagi. " batinku sedih.
Dalam hati aku mencarinya... kenapa sampai jam sembilan belum sekali pun terdengar suaranya.
Hanya suara tape recorder kencang terdengar.
__ADS_1
Bisa dipastikan kalau ada suara tapenya berarti dia ada di rumah.
Mungkinkah dia juga merasa gelisah sepertiku..??
Duuhhh... aku mulai ke ge er an lagi.
Namun aku senang membayangkannya.
"Ngapain kamu bengong? " suara Bulik membuatku tersipu.
"Tidak.. nunggu Iput... kok belum datang... " akhirnya aku dapat jawaban yang tepat.
Bulik tidak kelihatan curiga dengan diriku.
"Ya.. sudah.. nanti hati-hati... Walaupun Iput hanya bisa mengantarmu samapai Gedangan.. tidak apa-apa.. "
"Salam juga buat mamakmu.. " pesan Bulik.
"Ya... Terima kasih.. "
Bulik pun mengambil selendangnya buat menggendong bakul isi nasi dan lauk.
Tak ketinggalan caping kebanggaan nya.
Bulik pun menghilang dari pandangan ku.
Mas Ari dan Yudi entah sejak kapan mereka dibelakang ku.
"Mau kemana..?? " Tanya Mas Ari sambil menatapku.. Deg... hatiku jadi tak karuan.
"Pulang... " ku beranikan menatap matanya.
"Ngapain pulang.. ? katanya sangat enteng sekali.
Hhmmm.. teganya kau bicara seperti itu. Memang nya aku harus tetap di sini?
" Diantar siapa? Yudi ikut nimbrung.
"Iput.. sampai di Gedangan.. "
__ADS_1
"Entah kok lama belum datang.. " Aku mulai merasa tidak nyaman. Ingin segera Iput hadir.
Mas Ari dan Yudi duduk..
Entah kenapa tatapan Yudi kali ini beda ke aku.
Mas Ari hanya diam sambil menatapku.
Aku seperti seorang tersangka di hadapan para hakim.
Aahhh Iput ... kok lama sekali.. sungut ku pelan.
Ya... lah.. bagaimanapun Iput sudah menikah.. tentu banyak yang harus dia selesai kn sebelum meninggalkn rumah. Kenapa aku jadi egois begini??
Kami bertiga duduk tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami.
Masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Tak lama kemudian ada suara yang memanggil namaku...
"Sudah siap Mbak..?? teriaknya dari kejauhan sambil berlari kecil ke arahku..
" Ya sudah... " aku memandangi nya. Sekilas kulirik Mas Ari.. dan.. Diapun juga pas memandangku tanpa ekspresi. Entah apa suara hatinya. Mata kamipun bertemu.. Aku tersenyum tipis.. dia diam tanpa membalas.
Aahh... sudahlah yang penting aku pulang dulu sekarang.
Sampai jumpa lagi tahun depan.
"Yuukk... mbak.. kita berangkat.Nanti keburu bisnya jalan. "
Akupun segera berdiri..
Menyalami Mas Ari dan Yudi.
Tak lupa aku pamit ke mbah kakung dan mbah Putri...
Sampai jumpa lagi tahun depan...
Sayonara...
__ADS_1
***