
Eko mondar-mandir di teras. Ku lihat dari balik gorden jendela sesekali melihat kamarku.Apa dia menunggu Sri keluar ya?
Lalu diambilnya sapu lidi. Dibersihkannya ranting dan daun mangga yang berserakan di halaman.
Sri masih tertidur pulas.Karena sedang tidak sholat juga kebetulan shif siang aku biarkan.
Kulihat Eko duduk di pinggir teras. Aku pun segera memakai kerudung dan membuka pintu.
"Baru bangun mbak?"
"Sudah dari tadi."
Eko menatap pintu kamar yang kututup kembali. Ada raut resah yang nampak dari mukanya.
"Sri belum bangun?" Akhirnya keluar juga pertanyaan itu. Aku tertawa dalam hati.
"Belum biarkan nanti juga bangun sendiri."
Eko manggut-manggut.Terlihat kesal.
Mukanya jadi bulat lucu. Mau tidak mau aku tertawa keras juga.
"Aduh kaget mbak, ada apa?"
Eko melompat dari duduknya. Aku makin ngakak. Perutku sampai sakit.
"Tidak apa-apa!" Aku tidak bisa bicara karena kehabisan suara untuk tertawa.
Eko pun akhirnya ikut tertawa mungkin karena lihat aku yang belum bisa berhenti tertawa.
Pintu kamar dibuka. Sri muncul dengan rambut yang masih acak-acakn.
"Tuan putri bangun ya!" Eko meledek Sri.
"Kamu berisik sekali!"
"Ganggu orang yang lagi tidur saja!"
Sri mengomel dan duduk didepan kamar.
Aku dan Eko tertawa lagi.
"Kamu yang bangun siang kok marah sama orang lain."
Wajah Eko sudah cerah.
__ADS_1
"Sudah sana mandi lalu kita cari sarapan!"
Sri masih terdiam tidak berkata apapun.
"Aku kok ngantuk banget ya?" ujar Sri sembari mengucek matanya.
"Makanya jangan marah, orang kalau gampang ngambek cepat tua! Eko tidak mau kalah.
Sri melempar sandal ke arah Eko. Namun malah sandalnya hampir mengenaiku.
" Maaf mbak!"
Aku tertawa.
"Nah lho, makanya jangan jahil!" Sri berdiri mau mengejar Eko.
Aku masuk ke kamar, kubiarkan mereka yang sedang merenda cinta. Mungkin..
**
Sri masuk ke kamar.
"Mbak, mau sarapan apa?"
"Aku tak mandi nanti kubelikan."
"Ya sudah, siapin saja uangnya!"
Aku ikut senang melihat Sri sudah kembali seperti biasa. Dia berlari ke kamar mandi.
Eko keluar dari kamar dengan wajah sumringah.
Dilap motor kebanggaan.
Sri masuk ke kamar lalu memakai bedak.Dia sedikit beda dari biasa. Otakku sudah tidak tahan untuk menggodanya.
"Mau kemana, Jalan-jalan neng?Sama siapa sih?"
"Aaaahhh... mbak jangan begitu!"
Jawabnya manja. Denga wajah memerah.
Kuberikan uang sepuluh ribuan.
"Ini ya, titip bubur ayam jangan pakai sambel!"
__ADS_1
"Siap,bu!"
"Sudah sana cepetan keburu lapar aku!" Ku dorong badan nya ke pintu.
"Ya ya..!daaa..!"
"Gayamu nggak laku!"
"Hi Hi mbak, tunggu aku datang!"
Sri berlari menghampiri Eko.Mengambil helm dari kursi depan.
Mereka terlihat serasi.Semoga berjodoh.
Aku lalu membereskan kamar.
Saat sepi seperti ini,aku jadi ingat Mas Ari. Sedang apa dia sekarang? Mungkinkah ingat kepadaku?
Sudah enam bulan aku di Jakarta. Bayangan Mas Ari masih saja menghantui. Didik pasti sudah kuliah sekarang.
Sedang aku harus terhempas di sini.
Aku menoleh keluar. Suara bising mobil dan motor seolah menemani kesepianku.
**
"Mbak.. sarapan-sarapan!"
Aku keluar melihat mereka. Tingkah mereka menghibur.
"Mbak, nanti kalau berangkat kerja aku antar?"
"Tidaklah, ngapain?"
"Habis kayaknya capek karena kemarin lembur,"
"Berlebihan sekali kamu!"
Aku tahu Eko ingin berangkat bersama Sri.
"Aku nanti berangkat awal, ada sesuatu yang harus kukerjakan."
"Kamu temani Sri!"
Aku memberi kesempatan kepada Eko untuk jalan sama Sri.
__ADS_1
Merekapun saling pandang dan tersenyum..
***