
Dengan langkah ringan seolah tanpa beban,aku berjalan bersama Sri. Kendaraan belum seberapa. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Sri nampak riang sekali.Pagi ini dengan semangat berbeda.
Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri untuk tidak akan terganggu dengan sikap Mas Sigit. Yang penting aku kerja.
Toko tinggal beberapa langkah.Kuakui hatiku pun berdetak kencang. Namun Mas Sigit pasti belum datang.
"Mbak, nanti jalan-jalan ke pasar yuk..!" ajak Sri.
"Hhmm, ya nanti lihat situasi!" rencana yang bagus buat hilang kn stres.
Terdengar orang bercanda.
Aku penasaran.. sama siapa Eko. Paling anak restoran.
Dan alangkah terkejutnya ternyata Mas Sigit sudah duduk manis di teras toko. Mengobrol dengan Eko yang bersih-bersih.
Tumben datang pagi.
"Assalamu'alaikum!" Aku dan Sri kompak.
"Waalaikum salam.. !" Mas Sigit dan Eko menjawab dengan senyum termanis.
Mataku beradu pandang dengan Mas Sigit. Tatapannya masih seperti saat itu. Aku menunduk memberikan hormat.
Dia makin tajam melihat kearahku.
Kuakui sikapku sedikit kaku kurasakan.Karena masih perlu mengatasi hati yang gundah gulana.
Segera aku dan Sri masuk ke dalam.
Mereka mengamati kami seolah tahanan yang baru saja dibukakan pintu.
**
"Sri, ke ruangan ku sebentar ya!" Tiba-tiba Mas Sigit menyuruh ku ke kantor.
"Ya mas!" Aku menoleh pada Sri dan dia malah mengedipkan mata genit. Kupelototi dia.
"Cie ciee.. ada yang manggil tu!" Sri masih saja berani meledek ku.
Aku diam lalu melangkah ke kantor.
__ADS_1
"Tok-tok!" pintu ke ketuk pelan.
"Ya masuk!" jawab Mas Sigit lembut.
Didalam Sigit pasang wajah tertampannya.
"Ada apa Mas? "
"Duduk!!" Akupun menggeser kursi.
Mas Sigit menatapku hangat.
"Kamu sudah sarapan?"
"Sudah."
"Nanti pulang sama aku ya!"
"Kita perlu bicara!"
"Bicara apa?Maaf nanti sudah janjian sama Sri mau ke pasar."
Aku bingung.Kukernyitkan dahi.
"Ini orang kesurupan apa ya?_batinku.
" Kalian ini lucu."
Aku makin tidak mengerti maksudnya.
"Sudah berapa lama kalian di Jakarta?"
"Hampir enam bulan."
"Kemana saja?"
"Tidak kemana-mana, main paling ke pasar."
Aku tersenyum.
Mas Sigit malah ingin mencubit ku. Aku menghindar.
__ADS_1
"Jadi gemas aku!" Dalam hatinya Sigit makin menyukai Wahyu.
"Masih ada makhluk kampung seperti ini." batin nya menahan tawa.
Aku mendongak kn kepala.
"Ya.. nanti kuajak kalian ke mall."
"Bikin malu saja, masak anak buah Sigit belum pernah ke mall."
Aku diam.
"Tanya dulu mas, sama Sri.Mungkin anaknya tidak mau."
"Ini perintah! jangan jadikan Sri alasan. Asal kamu mau, Sri pasti ikut." Mas Sigit sedikit kesal. Aku jadi ciut.
Tak dapat kupungkiri aku senang tapi juga sebal. Mudahnya dia menghinaku. Namun biarlah yang penting nanti bisa masuk mall.
"Oya, ada apa manggil saya?"
Aku masih mengejar Mas Sigit dengan pertanyaan.
"Tidak apa-apa.. aku hanya ingin bilang maksudku tadi. Aku ingin kita semua kompak sebagai tim. Jangan sampai ada yang merasakan sedih.
Memang pintar buat alasan. Hatiku sedikit tersanjung.
" Tok-tok!!" Pintu diketuk.
"Masuk."
Pintu dibuka. Dan ternyata Ara yang datang.
"Masuk sayang!" Mas Sigit mempersilahkan Ara duduk di samping ku. Ara tertawa.
"Mbak.. " Sapaku sambil tersenyum.
"Sedang ada apa ini?" tanya Ara sambil melihat Mas Sigit dan aku bergantian.
"Biasa.. laporan bulanan." Mas Sigit yang menjawab dan mengedipkan matanya.. lagi dan lagi.. Uuuhhh.. jadi kesal.
***
__ADS_1