
Ku tarik tangan ku. Saat semua orang terpana melihat nya. Aku hanya terdiam dan mundur satu langkah. Mas Sigit menoleh. Ara melongo.
Ma Sigit tiba-tiba tertawa memecah ketegangan kami.
"Kalian kok pada diam?"
"Ada apa?"
Ara segera menarik tangan Mas Sigit di ajak ke dalam restoran. Namun Mas Sigit menolak.
"Apaan sih?Sakit tahu!"
"Maaf, mas kami ke dalam toko dulu." pamit ku.
"Mari mbak Ara!" Aku menunduk ke arahnya.
Ara tidak menjawab hanya tersenyum sinis.
Aku berusaha untuk tidak meladeni nya.
Sri memanggilku dari dalam.
"Mbak, cepetan ini ada apa?"
"Ya ya..!" Ku segera berlari ke menghampirinya.
Sri malah duduk dibawah di meja kasir.
"Kamu kenapa Sri? "
"Aku marah mbak! Masak mbak nggak emosi!"
"Lho kenapa harus emosi? Apa gunanya Sri?"
"Bukan salah Ara kalau dia bersikap seperti itu! "
"Dia suka mas Sigit mbak!"
"Aku sudah tahu sejak lama Sri!"
__ADS_1
"Apa?"
"Lalu kenapa mbak diam saja?"
"Lho, aku suruh ngapain?"
"Nggak Sri, aku tidak ingin berantem dengan siapa saja!"
"Tapiiii... mbak.. "
"Selesai Sri, aku tidak ingin membahas itu lagi!"
"Niatku disini hanya kerja, tidak lebih!"
Walau hatiku terluka namun aku berusaha menutupi.
"Sudah jelas, Mas Sigit suka padamu!"
"Halah Sri, sudahlah dia orang kota,bos kita, mimpi jangan terlalu tinggi!"
"Aku tidak peduli!"
"Ayoo kita makan dulu!"
Aku dan Sri segera ke belakang makan. Eko diam saja sejak tadi melihat aku dan Sri.
Aku tahu Eko ingin berbicara. Namun di urung kan nya karena sudah diwakili Sri.
Selesai makan, aku dan Sri ke mushola.
Tanpa sengaja kami berpapasan dengan Mas Sigit.
Sikapku biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Mas Sigit yang terlihat canggung.
Aku masih bisa tersenyum padanya. Namun Sri melengos. Lalu ku senggol lengannya.
"Sapa Sri, dia bos kita!"
"Kenapa sih, kamu marah?"
__ADS_1
"Aku tidak suka saat dia hanya diam tidak mengakui kalau suka sama mbak di hadapan Ara.Apalagi saat tadi menarik tangan dia juga hanya diam."
"Sri, jangan seperti itu. Kita harus adil pada Mas Sigit.Aku juga tidak ingin menyusahkan."
Segera kami kembali ke toko.
Aku masih kepikiran kenapa seolah Mas Sigit takut pada Ara? Apa hubungannya? Apa jadinya kalau tadi tanganku tidak ku lepaskan dari genggaman nya? Mungkin kah Ara menjadi kalap? Ku pandangi tanganku. Rasa yang tadi berbunga sekarang hilang tinggal kesedihan.
Aku memang suka pada Mas Sigit dan aku tahu dia pun merasakan hal yang sama.
Tapi sekarang aku janji pada diriku sendiri. Aku tidak akan mengharapkannya lagi.
Cintaku kayu sebelum berkembang. Aahh... aku mendengus.
Aku mainkan kertas diatas meja. Aku tahu Mas Sigit mengawasiku dari jauh.
Eko pelan-pelan mendekati ku.
"Mbak, Mas Sigit sebenarnya suka pada mbak Yuk sdh lama.'
" Trus?"Aku menanggapi perkataan Eko santai.
"Namun Mas Sigit takut justru akan merusak semuanya!"
"Rusak apanya?memang sudah rusak. Mengenai Mbak ara.. "
"Cukup Ko.. biar aku lanjutkan!"
Aku dan Eko menoleh serentak. Tanpa kami ketahui kapan datangnya Mas Sigit sudah di dekat kami.
Eko mundur. Aku turun dari kursi kasir.
Entah keberanian darimana aku hampiri Mas Sigit.
"Kamu tidak percaya sama Eko terserah.. Namun percaya lah padaku!"
Aku terpaku.
***
__ADS_1