SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
MAKAN MALAM


__ADS_3

Aku masih diam memandang kepergian Eko dan Sri. Mas Sigit memandangku serius. Aku menunduk.


"Kamu takut?"


"Tidak mas!"


"Trus kok pucat mukamu?"


"Lapar."


"Haaa...? Ya ampun., aku lupa. kamu belum makan?!"


Mas Sigit tertawa mendengar jawabanku.


Diambilnya kunci mobil dan menarik tangan ku.


"Ayo cari makan dulu!"


"Nggak usah mas, aku mau pulang. Nanti Sri nungguin!"


Aku ingin segera tidur. Biar bisa sejenak melupakan tentang semuanya.


"Jangan bantah!"


Akupun menuruti kemauan Mas Sigit.


Lalu aku masuk ke mobilnya.


"Santai yukk! kamu mau makan apa?"


"Terserah mas!"


Mas Sigit menoleh ke arahku. Lalu di masuk ke sebuah rumah makan yang indah.


"Mas, jangan disini! terlalu bagus, aku malu."


"Kamu, apa an sih?ayo turun!"


Aku memandangnya. Tanpa sengaja ku pegang tangannya ku tahan agar tidak jadi turun di restoran ini.


Mas Sigit menoleh ke arahku. Dan melihat tanganku yang ditangannya. Matanya menatap lurus ke arahku.

__ADS_1


Aku segera tersadar. Kulepaskan tanganku. Ku alihkan mataku. Jantung ku berdebar-debar.


"Kamu mau makan dimana?"


"Nanti beli di warung langganan saja!"


"Kan sudah malam, pasti tutup."


"Ya beli saja dijalan, nasi goreng di pinggir jalan. "


Mas Sigit heran.


"Baiklah kalau memang itu maumu!"


Akhirnya keluar lagi mobil dari tempat parkir.


Lebih baik jajan di warung kaki lima.Lebih pas buat orang kampung sepertiku. Aku takut kalau di restoran nanti mas Sigit bertemu temannya. Aku malu.


Berhentilah di sebuah warung pecel lele.


"Kamu mau apa?" Mas Sigit mau turun.


"Aku saja yang turun. Mas disini saja!"


Aku tidak ingin dibelikan olehnya. Jangan sampai banyak berhutang pada laki-laki. Itu sudah menjadi prinsipku.


Tidak lama sudah selesai pesananku.


Segera ku kembali ke mobil.


"Orang aneh!" Gumam Mas Sigit.


"Maksudnya?" Aku mendengar suaranya. Pelan namun sedikit keras.


Dia hanya menyengir kuda.


Aku diam paham maksudnya.


"Langsung pulang ya mas, kita bicara di rumah.Aku lapar ingin makan dulu."


Tanpa menjawab ucapan ku Mas Sigit langsung tancap gas.

__ADS_1


Lima menit kemudian sampailah di rumah.


Eko dan Sri masih pada ngobrol diluar. Aku segera turun.Mas Sigit menyusul setelah memarkirkan mobil.


Ku ambil piring dan sendok. Sri membawa teko berisi air putih.


Mas Sigit terlihat sangat senang makan bersama kami. Walau menunya beda-beda.


Aku suka nasi goreng. Sri dan Eko kubelikan pecel lele. Dan Mas Sigit minta mie goreng.


Disengaja sama Eko.. aku disandingkan dengan Mas Sigit duduknya.Debar hatiku tetap tak mengalahkn lapar perutku.


Sesekali Mas Sigit menatap ku mesra.. (kira-kira sih tapi iya menurut ku).


Eko senyum tipis mengamati kami.


Selesai makan Eko dan Sri yang bersih-bersih.


Mereka berdua memberi kesempatan padaku dan Mas Sigit untuk bicara.


**


"Yuukk.. kamu percaya kan sama aku?"


"Hhmmm.. " jawabku singkat.


"Kok hmm sih??"


"Trus!!?? "


"Ya apa gitu yang lebih jelasnya!"


"Mas, sudahlah.. aku percaya., tapi maaf aku tidak berani lebih jauh. Biarkan seperti ini." Aku pun memainkan jemariku.


Sungguh entah dapat kekuatan mana aku bisa bicara begitu.


"Maksudmu?" Ada nada marah di suaranya.


"Mas, kita belum mengenal jauh. Aku ini karyawanmu. Aku tidak mau semuanya malah merepotkan dan lain-lain."


Mas Sigit tdk bisa bersuara lagi. Hanya terdiam. "Suatu saat akan aku jelaskan."

__ADS_1


Mas Sigit langsung pulang.


***


__ADS_2