SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
SRI


__ADS_3

Aku berjalan beriringan dengan Sri. Sehari ini dia tidak banyak bicara.Mungkin ingat adik-adiknya. Aku jadi kasihan kepadanya.


"Mbak, apa mungkin ya kita akan begini terus? " Sri memecah kesunyian diantara kami.


"Tentu tidak Sri.. kita harus kuat, semangat, dan sabar" jawabku pelan sambil menoleh ke wajahnya. Kulihat mata bening itu hampir menangis.


Kuraih tangannya memberikan kekuatan.


Sri pun mengangguk.


Sampai lah kami di restoran dan toko tempat kami bekerja.


Aku bagian kasir dan Sri bagian pelayan.


Sri senang kalau bisa satu shift denganku.


"Mbak Wah sudah datang " Erni kasir yang sedang bertugas, senang melihat aku .


"Ya.. sana aku siap-siap toh juga belum jam dua masih ada waktu aku santai dulu." kata sambil berlari kecil ke belakang tempat loker.


Kutaruh tas dan aku ambil seragam toko.


Sri mendekat ke arahku.


"Nanti bisa pulang bareng kan? Aku ingin sedikit cerita kepada mbak " Sri memandangku penuh harap.


"Ya ya tenang, nanti tungguin sebentar .. " jawabku sambil ku kedipkan mata.


Sri akhirnya tertawa.


Lalu dia berjalan ke etalase membersihkan dan menata barang.


Toko kami sedikit pengunjung.

__ADS_1


Aku memandang keluar jalanan pun sedikit lengang.Ekonomi sedang sulit. Semua bertahan dengan apapun caranya.


Aku bersyukur masih diberi kesempatan bekerja.


Kalau boleh jujur aku pun tidak kerasan.


Apalagi makin sering aku kangen emak.


Sri kuamati dari tadi murung. Ada apa gerangan dengan nya?


Sri selalu mengingat kanku pada emak.Nama emakku juga Sri.


mungkin kah karena ini aku jadi dekat dengan nya. Aku merasa ada sesuatu yang menarik hatiku.


Hari ini sangat panjang. Sudah tidak sabar ingin menutup toko.


Sri dan Eko sudah siap-siap bereskan barang.


Sebentar lagi jam sembilan malam, saatnya kami tutup.


Selalu saja membawakan ku segelas kopi.


"Merepotkan terus ini.. kalau tiap hari dapat kopi" aku tidak enak hati menolak pemberiannya.


Namun kalau setiap aku shif malam selalu memberiku kopi kadang juga ditambah cemilan.


Teman-teman yang lain jadi sering bisik-bisik. Aku kan anak baru.


"Kamu itu selalu bilang begitu.. jangan menolak rejeki.. " ucapnya sambil berlalu.


Akupun hanya diam menatap punggungnya.


*Cie cie... yang dapat bonus kopi "Sri dan Eko cekikikan menggodaku.

__ADS_1


" Apaan sih biasa saja kali " aku pun salah tingkah.


"Sudah mbak.. Terima saja.. Mas Sigit orangnya baik. " kata Eko .


Aku pun melotot kepadanya.


Eko lari ke depan menutup pintu.


"Ayo mbak.. aku tunggu didepan " Sri sudah selesai .


"Baiklah " aku ke gudang ambil tas.


"Mbak kita jalan saja ya " ajak Sri kepadaku.


Menyusuri jalan macam-macam mengingatkanku pada dua orang yang hadir di hatiku.


Mas Ari.. Didik.. ingatlah kalian padaku? Aku bertanya dalam hati.


"Aku ingin mengundurkan diri mbak " ucapan Sri membuatku berhenti berjalan.


Belum selesai aku membayangkan Mas Ari dan Didik Sri sudah sukses membuatku kaget.


"Kenapa Sri? kamu bilang akan bertahan sampai lebaran. Kurang tiga bulan lagi" Ingin marah aku rasanya.


bukan karena benci namun karena sayang.


Walaupun dia masih belia namun cara berpikirnya dewasa. Aku saja sering mendapat pelajaran darinya.


"Aku kangen sama adik-adikku, kalau aku dirumah aku bisa bantu jaga mereka. " kata Sri.


"Tapi kamu disini juga demi mereka Sri" kataku.


"Kamukan ingin belikan mereka baju, mainan, dan sepatu," Sri jadi menangis. Akupun jadi ikut menangis.Dan malam semakin terasa mencekam diantara gemerlapnya ibukota.

__ADS_1


***


__ADS_2