SENJA DI HUTAN PINUS

SENJA DI HUTAN PINUS
SALAH SANGKA


__ADS_3

Sepanjang hari hatiku gelisah.Apalagi sejak kepergian Mas Sigit dan Ara.


Mereka terlihat memakai baju warna senada. Mungkinkah memang janjian? Akan kemana perginya? Banyak hal yang menghantui pikiranku.


Kulihat jam masih pukul delapan malam. Artinya masih satu jam lagi untuk pulang.


Uuhhh.. hari ini terasa panjang dan melelahkan.Sri melihatku masih dengan tatapan heran.Namun terlihat tidak berani tanya.


Dan, aku tidak akan memberi tahunya.Biarkan kusimpan rasa ini.Karena aku sendiri belum yakin dengan perasaanku.


"Mbak.. mau beli mie ayam nanti kalau pulang?"


"Maaf, Sri aku sudah kenyang."


"Ya, baiklah" Sri nampak kecewa.


Aku tahu itu hanya alasan agar aku tidak diam lagi. Seperti pendemo yang mogok makan.


"Mungkin Eko bisa menemanimu." Tidak tega juga melihat Sri yang ingin menghiburku.


"Ya Sri nanti aku belikan!" Eko ternyata mendengar pembicaraan kami.


Akupun tertawa mendengarnya.


Sri terlihat senang melihatku gembira.


**


Waktu pulang sebentar lagi.


Jalanan sudah sedikit sepi.Tokopun dari tadi juga sudah tidak ada pembeli.


Aku pun menghitung pendapatan hari ini. Siap masuk brankas.


"Ayo, kita beres-beres hampir jam sembilan!"


Eko dan Sri sudah lincah menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Rak-rak lampunya sudah dimatikan. Pintu tinggal separo yang belum ditutup.


Tidak seperti biasanya kalau mau pulang aku paling bersemangat dari semua.


Namun kali ini justru sebaliknya. Padahal tadi saat dengar kata lembur rasanya ingin menolak. Tapi sekarang malah malas pulang.


aku kebelakang mau ganti baju. Kulihat ada plastik merah tergeletak di depan pintu loker ku.


Kuambil dan kubuka. Ternyata ada kerudung warna merah. Siapa ini yang meletakkannya?


Ku amati tidak ada pesan didalam tas. Aku kembalikan kerudung itu.


Cepat-cepat sebelum Sri dan Eko datang.


"Apaan itu mbak?" Suara Sri membuat ku terkejut.


"Ini kerudung. tapi aku tidak tahu milik siapa, tadi terletak di depan lokerku. "


"Ya pasti itu buat Mbak Wahyu, siapa lagi!" Seru Sri sambil memberikan bungkusan itu.


Aku menolak.


" Mungkin Mas Sigit yang menaruhnya mbak!"


Tiba-tiba Eko menyeletuk. Kupelototi anak itu. Eko hanya cengar-cengir mundur kebelakang.


Tanpa perdebatan panjang plastik itu kukembalikan pada tempatnya.


Mereka hanya diam saling pandang.


Sri nampak menaikkan bahunya.


Menyerah juga.


"Sri, kamu temani Mbak Wahyu pulang. nanti aku belikan mie ayam.. oke?"


"Oke banget mas!" Sri menjawab girang.

__ADS_1


Sudah seperti keluarga hubungan kami.


"Sebentar ini uangnya!" Kutahan Eko yang mau kabur duluan.


"Tidak usah mbak.. ini ada kok, sekali-kali aku yang traktir! "


"Terima kasih! " Aku dan Sri kompak.


"Kembali kasih buat semua! " Eko pun berlalu.


"Ayo Sri, kita segera pulang. " jawabku gontai.


"Ya mbak.. " Sri sambil menyerahkan kunci yang tadi kutitipkan.


**


Sampai dikost lega rasanya. Aku melihat kasur dan bantal dengan rasa yang bahagia. Seolah memandang pangeran tampan dari langit. Ingin sekali ku rebahkan badan.


"Mbak, jangan tidur dulu kasihan mas Eko yang belikan mie ayam." Sri membersihkan wajahnya disampaiku.


"Ya, sudah tahu tapi aku lelah Sri!" ku pejamkan mataku sebentar.


"Tuh kan... malah merem! "


"Hanya mataku yang merem hatiku belum"jawabku sambil memicingkan mata.


Sri tak tahu kalau hatiku sedang mengembara entah kemana mencari Mas Sigit dan Ara.


Namun tetap juga tidak kutemukan. Dan aku sudah mengaku kalah.


Mas Sigit memang lebih cocok dengan Ara dibanding denganku. Akupun menutup wajah dengan selimut.


Sri jadi bingung.


" Nanti bangunkan kalau Eko datang dan aku tertidur. "


Sri hanya mengangguk tanpa bertanya.

__ADS_1


Angin berikan aku jawaban.


***


__ADS_2